Lombok Post
Headline Selong

Pariwisata Lotim Lari di Tempat

INDAH: Salah satu pantai di Lombok Timur yang begitu indah namun belum banyak dikenal orang.

*Dinas Pariwisata Tertular Virus Melempem

SELONG – Lombok Timur, kabupaten dengan luas sepertiga Lombok. Pulau yang disebut-sebut orang sebagai kembaran dari Bali. Di luar itu, tak sedikit yang mengatakan Lombok justru jauh lebih baik dari saudaranya itu. Bahkan ada idiom yang mengatakan Lombok potongan surga yang diturunkan ke bumi.

Sedikit berlebihan memang, namun keindahan yang dimiliki pulau seribu masjid inilah yang membuat istilah itu mulai menggema ke berbagai penjuru dunia. Jadilah Lombok terus berkembang pariwisatanya tanpa perlu banyak mengubah alam yang memang sudah indah.

Lombok Timur sebagai daerah yang menguasai sepertiga dari wilayah itu juga tak kalah indah. Sebagian besar Gunung Rinjani ada di kabupaten ini. Gunung api tertinggi kedua di Indonesia yang dikagumi para pendaki. Tak hanya pendaki, peneliti sekalipun begitu terobsesi dengan gunung yang satu ini. Letusan samalas dalam sejarah manusia merupakan letusan terdahsyat seantero dunia yang membuat penasaran banyak ilmuan.

Menuruni gunung tersebut, ada banyak air terjun yang sangat indah. Banyak kawasan perbukitan yang sangat wah. Banyak pula potensi wisata ekologi yang membuat hati terus berdecak kagum. Berlari ke pantai, kita disuguhkan beragam pantai mempesona. Mulai dari yang berpasir hitam pekat, putih, hingga merah muda bisa ditemukan di sini. Ditambah lagi dengan 35 gili yang masih perawan, sungguh potensi sempurna.

Jika Lombok Utara dengan tiga gili sudah bisa hidup, mengapa Lotim tidak bisa. Jika Lobar dengan Senggigi-nya begitu terkenal, Lotim juga memiliki yang seperti itu. Bahkan kawasan Mandalika Resort di Loteng pun memiliki kembaran, yakni Sekaroh.

Tapi kenyataannya, semua itu berbanding terbalik. Kekayaan yang dimiliki belum bisa dimanfaatkan daerah ini. Mungkin kata belum mau menjadi kata yang lebih cocok. Bupati Lotim HM Ali Bin Dachlan seolah ogah mengembangkan wisata daerahnya. a�?Kita tidak perlu fokus di pariwisata,a�? katanya, beberapa waktu lalu

Entah apa maksud dari bupati yang gemar menggunakan kaca mata hitam itu. Namun, sedikit banyak pernyataan itu menjadi gambaran bagaimana bupati bersikap dalam membangun wisata daerahnya. Pariwisata Lotim seolah berlari di atas lintasan treadmil, alias lari di tempat. Banyak masyarakat tentunya kecewa dengan pernyataan itu. Apalagi, sektor pariwisata merupakan penyumbang PDRB terbesar kedua di Lotim setelah pertanian. Total 19 persen PDRB bersumber dari pariwisata.

Bayangkan, belum diseriusi saja sudah seperti itu, apa lagi jika pemerintah serius dan fokus. Pastinya lebih banyak rupiah yang bisa dihasilkan dan diraih daerah. Masyarakat menjadi lebih sejahtera karenanya. a�?Bupati sendiri tidak fokus, bagaimana mau maju,a�? sindir Khairul Rizal, Ketua DPRD Lombok Timur.

Sejumlah kalangan menilai pernyataan bupati ini berbau politis. Ia dianggap sengaja mengerem pertumbuhan pariwisata. Tujuannya ialah membuat masyarakat selatan Lombok Timur tak mampu bangkit dari keterpurukan saat ini. a�?Ini upaya dia menghambat KLS,a�? kata Humas Presidium Masyarakat Lombok Selatan L Junaidi.

Jika pariwisata digalakkan, masyarakat selatan Lombok Timur memang sangat diuntungkan. Di sana ada bentangan alam super indah yang sudah diincar para investor besar. Namun entah mengapa, hingga kini belum ada hasil dari alam yang begitu memikat itu. Bahkan ada empat investor yang kini izinnya saling tumpang tindih. Satu dengan lain berebut kawasan pengelolaan, tanpa jelas siapa yang akan memperolehnya.

a�?Kalau serius, seharusnya ditentukan siapa yang kelola apa,a�? ketus L Mukarraf salah seorang tokoh masyarakat selatan.

Sikap bupati yang adem ayem soal pariwisata memang menimbulkan banyak tanya. Padahal dalam berbagai kesempatan, Ali selalu mengatakan ia ingin pembangunan di daerah ini berlari kencang. Dinas Pariwisata nampaknya ikut ketularan virus tidak fokus dan adem ayem ini. Saking pelannya dalam bertindak, dinas yang satu ini memerlukan waktu dua bulan hanya untuk konsolidasi internal. a�?Kasi saya waktu dua bulan untuk konsolidasi dulu,a�? kata Kadisbudpar Lotim Khairil Anwar Mahdi.

Setelah dua bulan itulah baru dinas yang satu ini akan mengurusi urusan pariwisata secara internal. Kini ia fokus dalam internalnya saja terlebih dahulu. a�?Bulan Mei baru kita mulai urus itu,a�? lanjutnya.

Sebuah pernyataan yang bertolak belakang di saat semua pihak bersepakat untuk bergerak cepat. Tak heran, dari 14 objek potensial yang dimiliki, baru tiga yang bisa dikelola. Target kecil sebesar Rp 1,3 miliar-pun begitu sulit untuk dicapai.

Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Lotim, juga tak bisa berbuat banyak hingga saat ini. Dana Rp 400 juta yang lama sudah diajukan tak kunjung cair. Mereka dipastikan tak bisa bekerja tanpa adanya anggaran yang digelontorkan. a�?Belum banyak yang bisa kami lakukan,a�? kata Rusliadi, Sekretaris BPPD Lotim.

Di lain pihak, Wakil Bupati Lombok Timur H Haerul Warisin mengatakan masyarakat sangat haus akan objek wisata yang representatif. Itulah mengapa ia mendorong Dam Pandanduri dijadikan objek wisata selain fungsinya sebagai penampungan air.

Namun jika benar tidak fokus, tentu yang akan kita jumpai pariwisata yang dikelola seadanya. Hasilnya pasti juga seadanya. Entahlah. (Wahyu Prihadi Saputra)

Berita Lainnya

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Jaksa Kumpulkan 96 Kades Terpilih

Redaksi LombokPost

Memahami Potensi Pemuda

Redaksi LombokPost

IGI Pertanyakan Kebijakan Sukiman

Redaksi LombokPost

26 Oven Untuk Petani Tembakau Lotim

Redaksi LombokPost

Garbi Bakal Gembosi PKS?

Redaksi LombokPost