Lombok Post
Bima - Dompu Headline

RSUP NTB Tolak Pasien BPJS?

MUHTAR
PASIEN: Muhtar, 41 Tahun, warga Desa Simpasai, Kecamatan Monta, pasien BPJS yang ditolak di RSUP NTB di Mataram lantaran tidak memiliki biaya.

* Disodori Rp 25 Juta, Pasien Pilih Pulang

BIMA – Memegang kartu asuransi Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) bukan jaminan mendapatkan pelayanan kesehatan gratis. Alih-alih diberikan pelayanan lebih dahulu, pasien langsung disodori biaya pengobatan.

Kejadian ini menimpa Muhtar, 41 tahun. Warga Desa Simpasai, Kecamatan Monta, Kabupaten Bima ini merasa ditolak oleh Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) NTB di Mataram. Ketika tiba di RSUP NTB, bukannya langsung ditolong. Pasien patah tulang yang memegang surat rujukan dari RSUD Bima ini justru disodori biaya untuk operasi patah tulang.

a�?Begitu sampai justru ditawari biaya operasi sebesarA� Rp 25 juta,a�? terang Suriyati, istri pasien pada Radar Tambora (Lombok Post Group) saat ditemui di RSUD Bima, Selasa (9/3).

Dituturkan, suaminya sudah memegang kartu BPJS. Begitu juga dalam rujukan dijelaskan jika suaminya adalah pasien BPJS. Tapi oleh pihak rumah sakit tetap saja ditagih. Karena tidak memiliki uang,suaminya dibawa kembali ke Bima, masih dalam kondisi patah tulang.

a�?Kami tidak punya uang sebanyak itu. Kami memilih pulang saja,a�? katanya dengan raut sedih.

Menurutnya, pelayanan kesehatan BPJS dirasakan tidak maksimal. Sejak pertama kali sakit, suaminya tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik.

Dikatakan, suaminya mengalami kecelakaan kerja saat menjadi buruh proyek di Dompu. Suaminya jatuh dari truk. Suaminya mengalami patah tulang rusuk.

Suaminya dirawat di RSUD Bima. Setelah diperiksa, ternyata bukan sekadar patah tulang rusuk.Syaraf belakangnya terjepit tulang belakang. Pilihannya harusA� dioperasi.

a�?Kata dokter, kalau tidak dioperasi, kemungkinan besar suami saya akan lumpuh,a�? katanya.

Dengan dasar itu dia mengurus rujukan ke Mataram. Namun setelah ditolak dan dimintai biaya yang cukup besar, keluarga memilih pulang.

Sepulang dari Mataram, lanjut dia, kondisi suaminya semakin parah. Bahkan saat ini sebagian tubuhnya sudah tidak bisa digerakkan.

a�?Selama di Bima, kami selalu berobat di RSUD. Setelah rawat beberapa hari di RSUD, kami pulang ke rumah. Dalam sebulan dua sampai tiga kali ke RSUD,a�? sebutnya.

Diakui, biaya pengobatan di RSUD Bima selama ini digratiskan karena memiliki kartu BPJS tersebut. Namun yang dipertanyakan kenapa kartu itu tidak berlaku ketika masuk RSUP NTB.

a�?Kalu bisa dipakai di luar daerah, kenapa sumi saya ditolak untuk dirawat menggunakan kartu BPJS,a�? katanya.

Dia berharap, masalah itu dapat ditindaklajuti oleh pihak BPJS. Paling tidak memberikan pencerahan terkait batas dan fungsi penggunaan kartu tersebut.

Anggota DPRD Bima M Haryadin meminta penjelasan dari RSUP NTB. Begitu juga dengan pihak BPJS. Jangan sampai kasus serupa menimpa pasien lainnya yang dirujuk ke Mataram.

a�?Kalau kartu itu tidak bisa digunakan di luar daerah, agar disampaikan kepada warga,a��a��A� katanya.(mch)

Berita Lainnya

Kepala OPD Akan “Dikocok” Ulang

Redaksi LombokPost

Cegah Aksi Para Spekulan, Polisi-Pemprov Pantau Pasar

Redaksi LombokPost

KPU NTB Gelar Cerdas Cermat Pemilu bagi Pemilih Pemula

Redaksi LombokPost

Jaksa SP3 Kasus Izin Hutan Sekaroh

Redaksi LombokPost

Pengerukan Dermaga Labuhan Haji Terancam Molor

Redaksi LombokPost

Zul-Rohmi Perlu Banyak Sosialisasi

Redaksi Lombok Post

Mengejar Mimpi Jadi Daerah Industri

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post