Lombok Post
Feature

Kelaparan atau Haus, Silaturahmi ke Tim-Tim Formula 1

SELFIE DENGAN CHAMPION: Penonton lebih mudah bertemu pembalap di Sirkuit Albert Park. Tampak bintang Ferrari Sebastian Vettel melayani permintaan selfie penggemarnya di jalan masuk menuju paddock. (DEWO PRATOMO/JAWA POS)

*Dua Puluh Tahun Penyelenggaraan Grand Prix Australia di Melbourne (2-Habis)

Terhitung sudah hampir 30 kali DEWO PRATOMO menonton/meliput balapan Formula 1 dalam 15 tahun terakhir. Baru kali ini dia melakukannya di Australia. Atmosfer spesial di Melbourne menjadikan balapan ini salah satu ajang terbaik yang pernah dia rasakan.

***

BEGITU mendarat di Australia, foto pertama saya adalah pose di depan tulisan besar a�?Melbournea�? di depan bandara. Walau sangat sederhana, foto itu sangat berarti buat saya.

Sudah lama saya sangat ingin merasakan atmosfer Formula 1 di kota di Negara Bagian Victoria tersebut. Sudah terlalu lama saya dikompori teman-teman tentang hebohnya atau serunya suasana nonton Grand Prix di Melbourne.

Tidak hanya a�?dipanasia�? Azrul Ananda, yang sudah berkali-kali ke Grand Prix Australia. Pada 2007, beberapa teman F1 Mania Surabaya juga sempat ramai-ramai ke Sirkuit Albert Park.

Sahabat kami, mendiang Sugeng Hariadi (meninggal tahun lalu), begitu bersemangat bercerita tentang asyiknya nonton di sana. Mau ketemu pembalap lebih mudah, mau ke sirkuit gampang karena naik trem gratis dari pusat kota. Mau cari merchandise juga termasuk paling komplet karena barang baru dan lama ada semua untuk dikoleksi.

Tahun ini, saya pun bisa bilang: Albert Park, saya datang!

Sirkuit itu terletak di kota. Tepatnya taman kota yang setiap tahun a�?sejak 1996 a�? disulap menjadi sirkuit kelas dunia. Karena itu, semua pengunjung bisa tinggal di pusat kota, dan dalam hitungan menit menjangkaunya dengan fasilitas trem gratis dari berbagai titik.

Tiba Rabu pagi (11 Maret), setelah taruh koper dan mandi, kami sempat jalan-jalan sebentar. Setelah makan siang, langsung menuju kantor Australian Grand Prix Corporation, penyelenggara lomba, untuk mengambil ID card. Azrul Ananda journalist/penulis, saya fotografer.

Tahun ini, dari total 270 perwakilan media yang mendapat akreditasi dari F1, hanya kami berdua yang tercatat sebagai peliput resmi dari Indonesia.

Letak kantor itu dekat dengan Albert Park. Sebuah minibus mengantarkan kami dan perwakilan media lain menuju media centre. Seperti biasa, kami mengurus administrasi lagi, memilih meja kerja, mencatat jadwal-jadwal, dan lain sebagainya.
Kami lantas berkeliling paddock dan pit lane sirkuit sepanjang 5,303 km tersebut. Menyaksikan dan mengabadikan kesibukan para personel tim menyiapkan garasi, merakit mobil, dan lain-lain. Juga sudah banyak pembalap yang datang, mengecek lintasan dan lain-lain.

Walau masih hari Rabu, belum ada mobil yang meraung di lintasan (kecuali safety car dan medical car melakukan a�?pemanasana�?), saya langsung merasakan kenapa Albert Park begitu disukai fans F1.

Dari total 28 lomba yang pernah saya datangi, hampir separonya adalah GP Malaysia di Sepang (hampir setiap tahun saya kunjungi). Lainnya di Amerika, Eropa, Timur Tengah, dan negara lain di Asia.

Walau masih hari Rabu, saya langsung merasa bahwa Albert Park adalah sirkuit yang a�?paling benara�?. Khususnya untuk penggemar. Benar-benar bisa memenuhi hasrat para maniak F1 dari seluruh dunia.

Semakin hari, perasaan itu semakin ditegaskan!

Mulai jalan masuk sampai paddock, segalanya serbarapi dan tertata. Bagi penonton yang ingin melihat langsung idolanya, penyelenggara kini mendirikan tribun kecil di seberang jalan masuk ke paddock, yang pasti dilewati para pembalap/VIP.
Tribun itu hampir selalu penuh, khususnya pagi dan malam, saat para bintang datang atau pulang. Menurut Azrul, dulu tribun itu tidak ada. Hanya pagar pembatas yang selalu disesaki penggemar.

Setiap ada yang lewat, para penonton langsung bersorak. Bikin para pembalap/VIP tidak enak, mau tidak mau harus mampir ke sana untuk melayani permintaan foto dan tanda tangan.

Bahkan, Kimi Raikkonen, bintang Ferrari yang dikenal paling a�?cuek bebeka�? dan paling pelit berfoto serta kasih tanda tangan, mau tidak mau harus mampir, walau sebentar.

Pernah sekali dia seolah cuek ingin berlari ke paddock. Tapi, dia melihat bos baru Ferrari, Maurizio Arrivabene, dengan ramah melayani para penggemar. The Ice Man (julukan Raikkonen) pun seperti terpaksa ikut berdiri di samping bosnya untuk melayani foto dan tanda tangan!

Dan memang, kalau pembalap tidak mau melayani, mereka pasti merasa tidak enak. Sebab, a�?kora�? para penggemar akan terdengar begitu nyaring!

Kapok lah Si Kimi!

Pembalap yang paling rajin mampir ke sana? Daniel Ricciardo dari Red Bull-Renault. Bisa dimaklumi. Sebab, dialah satu-satunya pembalap Australia di F1 saat ini. Dan memang, pembalap asal Perth, Australia Barat, itu dikenal sangat ramah. Selalu ramah senyum, selalu mudah diajak berbicara.

Permintaan tanda tangan sebanyak-banyaknya dia penuhi. Termasuk ketika ada penonton yang minta jidatnya diteken.A�Jarang ada yang seperti dia di F1. Tahun ini, yang seperti dia mungkin hanya Sebastian Vettel (Ferrari).

Penyelenggara lomba pun ramai mengampanyekan Ricciardo. Poster bergambar wajahnya ada di mana-mana di Melbourne. Ketika masuk sirkuit, penonton juga diberi kertas bertulisan a�?Mon Dana�? untuk ikut menyemangati sang local hero.

Saya sendiri beberapa kali minta tanda tangan, hehehe. Khususnya di hood (pelindung) lensa kamera saya. Lumayan, dapat beberapa, termasuk dari para legenda F1 seperti Niki Lauda dan Jackie Stewart.

Andai tidak mau sabar menunggu di tribun tanda tangan, penonton juga pasti sangat happy dengan suasana sirkuit. Ada beberapa kawasan yang memiliki tenda-tenda komplet merchandise, makanan, dan arena promosi para sponsor.

Display mobil kuno, mobil-mobil F1 lama, plus lantunan live music ada di mana-mana.A�Sesekali, atraksi akrobatik udara melintas.

Di lintasan pun, saat tidak ada F1, berbagai lomba/event pendukung beraksi mulai pagi sampai sore. Ada balap mobil kuno, balap V8 Supercar yang sangat populer di Australia, balap Porsche, dan lain-lain.

Bisa dibilang, para penonton di Albert Park tidak diberi kesempatan untuk bengong. Walau hanya sedetik!

Tentu saja, hal itu membuat para peliput juga supersibuk. Untungnya, kawasan paddock dan pit lane tidak terlalu luas. Bahkan, paddock di-setting seperti pesta taman yang menarik.

Di ruang fotografer, ada kafe yang menyediakan makanan ringan, minuman, dan kopi. Apes bagi Azrul, di ruang penulis di lantai 2 bangunan paddock, hanya ada kulkas berisi air putih dan soda, plus meja untuk bikin kopi instan.

Walau cukup untuk mengganjal perut, kalau mau makan beneran, memang harus berjalan agak jauh di kawasan penonton. Untuk jadwal liputan yang cukup padat, agak susah untuk berlari ke kawasan makan, lalu kembali ke paddock/media centre.
Tapi, ada cara jitu untuk dapat kopi kelas satu, minuman tambahan, bahkan makanan enak. Yaitu, silaturahmi ke kawasan hospitality tim-tim F1!

Setiap tim memang punya tenda hospitality sendiri. Menyediakan makanan untuk para personel tim dan tamu-tamu lain (termasuk media). Di Albert Park, yang servisnya paling ekstra adalah Ferrari. Setiap hari menyediakan makan siang berupa pasta untuk perwakilan media.

Bos baru Ferrari, Arrivabene, memang punya latar belakang marketing. Tim itu sekarang terasa jauh lebih ramah bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya!

Azrul dan saya memang punya plan khusus soal hospitality ini. Kami berniat menjajal kopi dari setiap tim peserta. Dari ujung Mercedes sampai ujung Sauber dan Manor/Marussia (posisi memang urut sesuai hasil klasemen konstruktor 2014).

Tim-tim F1 memang dikenal selalu menyuguhkan kopi kelas satu. Dengan pelayanan paling profesional. Mau espresso? Latte? Cappuccino? Tinggal minta, bisa diberi dengan gelas kertas takeaway atau di mug yang disuguhkan saat kita duduk di meja-meja hospitality.

Ferrari lagi-lagi paling profesional. Gelas kertasnya berlabel Kuda Jingkrak. Bahkan, sachet gulanya berlabel tim!

Mana yang paling enak? Ternyata urutannya mirip dengan tingkat kesuksesan dan kekayaan tim. Mohon maaf, di ujung Manor, rasa kopinya biasa banget!

Dalam hal memotret, karena sendirian di tempat baru, maka harus siap dengan perencanaan kuat. Bersama Azrul, saya setiap hari membuat plan. Jam berapa, foto siapa, posisi di mana, dan lain-lain. Alhasil, momen-momen penting tidak terlewatkan, walau belum tentu maksimal.

Perencanaan sangat penting di Albert Park. Berbeda dengan sirkuit permanen yang menyediakan shuttle bus keliling dan jalur khusus fotografer, sirkuit taman kota ini memaksa kita untuk lebih banyak jalan kaki ke titik-titik yang diinginkan. Bukan salah penyelenggara, memang struktur sirkuitnya berbeda.

Di beberapa spot, tidak banyak tempat bagi fotografer untuk berbagi. Jadi, harus pula belajar sabar dan mengantre. Kalau mau cepat datang, ya lebih cepat dapat.

Cuaca musim gugur sendiri juga agak membingungkan. Saya menyebut Kota Melbourne sedang a�?merianga�?. Panas, dingin, panas, dingin terus bergantian.

Saat babak kualifikasi, misalnya. Suhu di awal sesi 31 derajat Celsius, di akhir sesi yang hanya satu jam bisa drop hingga 23 derajat Celsius!

Untung saya bawa banyak batik lengan panjang sehingga tidak terlalu kedinginan dan tidak terlalu kepanasan saat suhu berubah. Ya, batik jadi senjata khas saya setiap hari. Beberapa petugas lintasan terus menyapa a�?Hi Indonesia!a�? ketika saya lewat.

***
Senang rasanya bisa melewati tantangan-tantangan liputan di Melbourne. Tidak terasa, enam hari sudah berlalu. Lomba sudah berakhir. Senin (16/3), kami sempat jalan-jalan di sekitar Melbourne sekaligus belanja suvenir dan oleh-oleh.

Senin tengah malam itu, kami terbang kembali ke Indonesia. Via Kuala Lumpur, kami sepesawat dengan Max Verstappen, pembalap 17 tahun Toro Rosso-Renault.

Di satu sisi lega karena event/liputan sudah selesai, di sisi lain tidak ingin meninggalkan event yang begitu hebat. Saya benar-benar merasakan kenapa Grand Prix Australia selalu menuai pujian!

Akhir Maret ini, saya akan menemani para F1 Mania Indonesia nonton Grand Prix Malaysia. Terus terang, saya selalu senang bisa hampir tiap tahun ke Sirkuit Sepang. Bagi fans di Indonesia, nonton di sana tetap yang paling cost effective.

Tapi, soal suasana, Australia benar-benar membuat kebanyakan event lain a�?bukan hanya di Malaysia a�? terasa beda level! (Azrul Ananda)

Berita Lainnya

Bilik Bercinta di Tempat Pengungsian yang Tinggal Cerita

Redaksi Lombok Post

Pengalaman Dramatis Pendaki Terjebak Gempa di Gunung Rinjani (1)

Redaksi Lombok Post

Mereka yang Tetap Tegar Menghadapi Gempa di Sambelia

Nasihat Mendiang Ayah Menjadi Pegangan Hidup Zohri

Mengunjungi Lalu Muhammad Zohri, Sang Juara Dunia

Lalu Muhammad Zohri, Sprinter Muda NTB yang Sabet Juara Dunia

Melihat Festival Layang-Layang Raksasa di Pantai Loang Baloq

Kisah Penambang yang Lolos dari Lubang Maut Sekotong (1)

Festival Seribu Bedug di Pulau Seribu Masjid

Redaksi Lombok Post