Lombok Post
Headline Metropolis

Sejuta Harapan di Bandar Kayangan

ilustrasi suasana bandar kayangan masa mendatang

Bandar Kayangan di Lombok Utara, menjadi harapan baru NTB. Dia bisa menjadi penanda lahirnya Singapura baru, Dubai baru, atau Hongkong Baru. Bandar Kayangan dihajatkan menjadi kota paling layak huni di dunia. Di sanalah, sejuta harapan NTB bahkan Indonesia menyemai.

***

GUBERNUR NTB TGB HM Zainul Majdi semringah. Pekan lalu, dia bertemu Presiden Jokowi di Istana Negara. Kepada presiden, gubernur membincangkan pengembangan Bandar Kayangan, atau Global Hub Kayangan di Lombok Utara.

Kepala negara rupanya langsung kepincut. Bandar Kayangan, sejalan dengan program poros maritim yang tengah digagasnya. Sealur pula dengan konsep tol laut yang sedang disiapkan presiden.

Dia meminta daerah bergegas. Jokowi menginginkan ada kepastian soal investor yang akan terlibat dalam waktu sebulan. Kepastian investor akan memudahkan presiden menetapkan Bandar Kayangan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Pada 11 April 2014, saat bertandang ke NTB menghadiri event Tambora Menyapa Dunia, Jokowi ingin sudah ada titik terang.
a�?Investor kini sedang dalam proses penjajakan,a�? kata Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi.

Pekan lalu pula, penggagas Bandar Kayangan Prof Son Diamar, mantan Staf Ahli Menteri Bappenas, bertolak ke Eropa. Sekretaris Dewan Maritim Nasional ini terbang ke Benua Biru, menawarkan Bandar Kayangan kepada investor kelas dunia.

Yang dicari, bukanlah investor ecek-ecek. Sebab, Bandar Kayangan menyangkut investasi tak sedikit. Estimasi sementara, dengan mengembangkan kawasan seluas 10 ribu hektare, membutuhkan investasi sedikitnya Rp 150 triliun.

Presiden tentu siap membantu. Pengucuran dana APBN bisa. Lantaran Bandar Kayangan rupanya juga telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Indonesia. Sementara daerah diminta menyiapkan infrastruktur dasar. Antara lain jalan, akses air bersih, dan jaringan telekomunikasi. Termasuk pembebasan lahan.

Respons presiden yang demikian cepat, tak pelak membuat harapan NTB membuncah. Tak dapat dibayangkan, akan seperti apa NTB tatkala Bandar Kayangan ini mewujud.

Global Hub Kayangan diproyeksi menggantikan Singapura di masa datang. Hitungannya sederhana. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (BKPMPT) NTB Ridwan Syah menyebut, tren industri maritim dunia sudah mulai mengarah pada ukuran kapal-kapal raksasa dengan panjang mencapai 450 meter atau empat kali lapangan sepak bola.
Diprediksi, Selat Malaka akan mulai keteteran menampung kapal-kapal ukuran sebesar ini. Apalagi untuk berlabuh di Singapura, lantaran pelabuhan di sana dangkal. a�?Ini menjadikan peluang bagi Global Hub Kayangan diprediksi tanpa pesaing,a�? ucap Ridwan.

Memanfaatkan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II, Bandar Kayangan memang tiada penghalang. Dia berada di laut dalam. Pun saat ini, di sana sebetulnya telah lalu lalang kapal-kapal besar. Itu sebabnya, kata gubernur, rugi bagi NTB, jika tidak memanfaatkan momentum, untuk pengembangan Bandar Kayangan.

Saat ini, diperkirakan 60 ribu kapal kargo lalu lalang di perairan seluruh dunia. Menurut Kepala Bidang Perhubungan Laut Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika NTB Tumiran, 40 persen dari 60 ribu kapal itu melalui Indonesia. a�?Tiap tahun, jumlahnya diperkirakan terus meningkat,a�? kata Tumiran.

Kapal-kapal inilah yang akan menjadi pasar Bandar Kayangan. Apalagi, lokasi pelabuhan ini berada di pertengahan dan persimpangan jalur penting perdagangan dunia. Sungguh sebuah perpaduan maut.

Sesuai perubahan paradigma industri dan peningkatan perdagangan dunia yang sangat pesat. Negara-negara industri memang memerlukan bandar dunia seperti Dubai, Singapura, dan Hong Kong yang menyediakan kawasan industri, pelabuhan, dan pusat bisnis dunia. a�?Bandar Kayangan menjawab itu,a�? kata gubernur.

Bandar Kayangan akan terdiri dari kawasan industri seluas 3.000 hektare, central business 1.000 hektare, dan hunian di areal seluas 5.000 hektare. Menurut Ridwan Syah, pengembangan sebisa mungkin menggunakan anggaran investor. Kecuali untuk infrastruktur dasar.

Saat ini di Kayangan memang belum ada apa-apa. Pelabuhan ada, namun aktivitasnya belum ramai. Pembebasan lahan juga belum dimulai.

Tapi, setelah kesiapan presiden mendukung sisi regulasi dan anggaran, pemerintah daerah kini akan menyiapkan studi lapangan untuk kebutuhan pradesain. Presiden memang meminta desain yang lama diperbarui agar lebih wah.

Sementara Pemkab Lombok Utara juga akan merevisi tata ruang. a�?Kawasan Kayangan harus menjadi kawasan industri,a�? kata mantan Kadishubkominfo NTB ini.

Setelah itu, secara paralel akan dilakukan survei untuk deliniasi pembagian kawasan. Sehingga akan menjadi jelas batas-bantas bandar yang akan menjadi poros maritim dunia NTB ini. a�?Mungkin tahap awal 6.000 hektare dulu,a�? kata Ridwan.

Kawasan ini akan dilengkapi dengan fasilitas super lengkap. Bahkan diinisiasi menjadi kota paling layak huni di dunia, selain sebagai pusat logistik dan perdagangan kelas dunia.

Soal dampak ekonomi tentu tak ada yang bisa membantah. Kemakmuran yang dinikmati Singapura atau Dubai, salah satu bandar dunia di Timur Tengah, dan Hongkong, bandar dunia di Asia Timur, adalah contoh nyata. Seperti Singapura, Dubai, dan Hongkong itulah NTB hendak bergerak.

Pakar ekonomi Unram Prof Thatok Asmony mengatakan, sudah saatnya, pemerintah berpikir membangun fasilitas untuk melayani kebutuhan kapal-kapal raksasa. a�?Bila itu sudah ada, perekonomian NTB, khususnya Lombok akan berkembang sangat pesat,a�? katanya.

Pesatnya perekonomian, kata dia, sangat perlu didukung dengan jalur transportasi. Saat ini, jalur menuju Lombok Utara ada dua, yakni Senggigi dan Pusuk. Jalur pusuk bila dilalui dengan truk ukuran besar, sangat tidak mungkin. Selain berkelok-kelok, ukurannya pun sempit. Sama hal dengan jalur Senggigi yang merupakan jalur wisata.

a�?Lombok Utara juga membutuhkan suplai barang dengan volume lebih besar. Jalur darat sangat minim dan menghambat. Dengan melalui laut, perekonomian bisa lebih cepat,a�? jelas dekan Fakultas Ekonomi Unram ini.

Di sisi lain, distribusi barang melalui jalur darat perlu dibenahi. Kondisi sekarang, jalur darat sudah cukup padat, baik dari utara hingga ke timur. a�?Jalur utama ke timur, padatnya luar biasa. Dulu bisa ditempuh satu jam, sekarang dua jam,a�? ujarnya.
Karena itu pemerintah perlu melebarkan jalan. Bila perlu membangun jalan tol antarpulau. Menurutnya, 5 hingga 10 tahun ke depan, jalan tol akan sangat diperlukan.

Bila itu tidak dilakukan, kata dia, bisa dibayangkan bagaimana kepadatan yang akan terjadi ke depan. a�?Jangan hanya Bandar Kayangan saja, tapi jalan-jalan distribusi perlu dipikirkan juga,a�? tandasnya.

Sekretaris Bappeda NTB Yusron Hadi pun sudah memiliki bayangan dan membuat kalkulasi. Kata dia, Global Hub Kayangan nantinya akan terkoneksi dengan jalan bypass atau jalan bebas hambatan dari sejumlah penjuru.

Jalan tol akan ada dari Mataram ke Bandar Kayangan. Dari Bandar Kayangan ke Bandara Internasional Lombok. Juga ke pusat-pusat bisnis di Lombok Timur. a�?Ini sudah mulai kita proyeksikan dalam perencanaan pembangunan,a�? kata Yusron pada Lombok Post.

Sementara kawasan industri akan difungsikan untuk memproses barang mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Ekspor Indonesia ke depan juga tak akan melalui Singapura lagi, tapi langsung dari Bandar Kayangan.

Area industri juga akan terintegrasi dengan kilang minyak yang direncanakan dibangun Pertamina. Gubernur TGB HM Zainul Majdi mengatakan, Pertamina sudah melakukan studi kelayakan terkait pembangunan kilang minyak di Lombok Utara. a�?Pertamina menyatakan kawasan di Lombok Utara memang menjadi lokasi terbaik untuk pembangunan kilang,a�? ujarnya.

Tak dapat dibayangkan, apa yang akan terjadi jika semuanya berjalan mulus. Apalagi, jika benar konstruksi bisa dimulai 2017. Lalu lima tahun setelahnya. Dag dig dug, membayangkan maket di atas kertas menjelma menjadi kenyataan.A�(kus/cr-ewi/puj/r3)

Berita Lainnya

Gerbang Kota Ikut Terseok-Seok!

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Ogah Berniaga di Jalan Niaga

Redaksi LombokPost

Masih Banyak Warga Loteng Buang Air Besar Sembarangan

Redaksi LombokPost

Pemkab dan ITDC Raih Penghargaan ISTA

Redaksi LombokPost

Ahli: Penangkapan Muhir Bukan OTT

Redaksi LombokPost

Pola Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma’ruf Serupa

Redaksi LombokPost