Lombok Post
Headline NASIONAL

Premium-Solar Naik Rp 500

ilustrasi/foto: forumkeadilan.com

*Berlaku Mulai Hari Ini sabtuA�(28/3)A�

JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengeluarkan harga baru premium dan solar. Mulai pukul 00.00 hari ini, harga premium dan solar, masing-masing naik Rp 500. Kenaikan berlaku di wilayah Jawa, Madura, dan Bali (Jamali) maupun di luar wilayah itu.

Dirjen Migas Kementerian ESDM IGN Wiratmaja Puja mengatakan, kenaikan harga BBM sebagai akibat dari dinamika harga minyak dunia dan perekonomian nasional. Apalagi, masih melemahnya nilai tukar rupiah dalam satu bulan terakhir. “Harga jual eceran BBM secara umum perlu dinaikkan,” ujarnya, jumat (27/3)A�tadi malam.

Menurutnya, perubahan harga perlu dilakukan untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional. Termasuk, menjamin ketersediaan BBM nasional. Selain premium dan solar, masih ada komoditas minyak tanah. Namun, minyak tanah dinyatakan tetap Rp 2.500 per liter.

Keputusan pemerintah menaikkan Rp 500 sebenarnya jauh dari keinginan PT Pertamina (Persero). Sebelumnya, perusahaan pimpinan Dwi Soetjipto itu berharap ada penyesuaian harga premium menjadi Rp 8.200 per liter. Begitu juga dengan solar yang perlu dinaikkan menjadi Rp 7.450 termasuk subsidi pemerintah Rp 1.000.

Saat dihubungi, VP Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan, harga baru memang tidak mencerminkan keinginan Pertamina. Namun, pihaknya tidak bisa menolak dan harus mengikuti apa yang menjadi keputusan pemerintah. “Itu dulu yang dikerjakan. Harga akan direvisi tiap bulan, kan,” katanya.

Dia mengakui, Pertamina punya acuan harga keekonomian tersendiri. Kalau tidak sesuai, berarti akan ada selisih harga yang membuat Pertamina rugi. Namun, saat ditanya berapa kerugian yang dialami, dia enggan menyebut dengan pasti. “Memang ada hitungan harga keekonomian itu,” imbuhnya.

Yang pasti, usulan Pertamina agar premium dijual Rp 8.200 dan solar Rp 7.450 per liter sudah sesuai hitungan. Dasarnya, setelah HIP (harga indeks pasar) premium naik 37 persen dan HIP solar naik 14 persen.

Dihubungi terpisah, Direktur Pemasaran Ahmad Bambang juga tidak mau buka mulut terkait potensi kerugian Pertamina. Dia mengatakan hitungan Pertamina memang seperti itu, namun yang menentukan adalah pemerintah. “Pemerintah punya hitungan dan pertimbangan sendiri,” terangnya.

Meski kedua komoditas itu naik, Abe –sapaan Ahmad Bambang– memastikan harga pertamax masih sama. Yakni, Rp 8.600 di beberapa tempat khususnya Pulau Jawa. “Sudah naik sebelumnya. Beda harga dengan premium tidak banyak, diharapkan beralih ke pertamax,” tandasnya.

Sementara, Menteri ESDM Sudirman Said mengaku menghormati usulan harga yang disampaikan Pertamina. Namun, pemerintah punya hitungan sendiri untuk menentukan harga BBM. Salah satu indikatornya, aspek sosial masyarakat. “Pemerintah akan memperhatikan semua hal. Pertamina boleh punya hitungan, tapi pemerintah yang menentukan,” ujarnya.

Dia menambahkan, intervensi pemerintah membuktikan harga keekonomian BBM tidak dilepas ke mekanisme pasar. Pemerintah melakukan tugasnya untuk memantau dan mereview harga BBM sebulan dua kali. Lantas, harga baru diumumkan menjelang pergantian bulan.

Staf ahli khusus Kementerian ESDM Widhyawan Prawiraatmaja menambahkan, konflik Arab dan Yaman tidak terlalu memengaruhi perubahan harga BBM. Meski diakui, gara-gara pertikaian dua negara itu sempat membuat harga minyak mentah naik. Namun, produksi minyak yang berlebihan sampai ada stok 1,5 juta barel membuat harga bahan baku BBM tetap rendah.

“Saya tidak melihat ada gangguan suplai. Harga tetap rendah,” ungkapnya. Tetapi, bisa saja kondisi itu berubah kalau konflik terjadi berkepanjangan. Kondisi saat ini bisa dikatakan sudah mereda, seperti dilaporkan Bloomberg, harga minyak jenis brent mengalami penurunan di angka USD 57,79 per barel.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro juga melihat hal yang sama. Dia tidak melihat konflik dua negara itu memberikan banyak pengaruh terhadap perubahan harga BBM. Sebab, itu konflik geopolitik dan memengaruhi psikologi masyarakat. Beda dengan sektor fundamental yang memicu perubahan harga secara signifikan.

“Dampak langsung masih jauh. Tapi, kedua negara itu memang sangat berpengaruh terhadap harga minyak dunia,” jelasnya. Dijelaskan, Arab Saudi masih menjadi nomor satu pemain minyak. Sedangkan di Yaman, terdapat jalur distribusi minyak tersebut.

Oleh sebab itu, dia kesulitan untuk memprediksi pengaruh konflik tersebut terhadap Indonesia. Apalagi, saat ini sudah ketegangan sudah mulai mereda. Namun, dia memprediksi minyak dunia tidak akan jauh dari USD 60 per barel. “Mungkin akan naik, tapi tergantung faktor penyeimbang seperti minyak dari Amerika,” jelasnya.

Selain itu, di beberapa negara sudah memasuki musim panas. Biasanya, permintaan energi berkurang dan stok minyak menjadi menumpuk. Sekedar informasi, harga minyak mentah jenis WTI diperdagangkan USD 49.88 per barel. Sedangkan jenis Brent dalam seminggu naik dari kisaran USD 54 menjadi USD 57.79 per barel.(dim/r3)

Berita Lainnya

Lima Spa Abal-Abal Ditertibkan

Redaksi Lombok Post

Suka Duka Mahasiswa Bumi Gora Menuntut Ilmu di Benua Biru (2)

Redaksi Lombok Post

Bunuh Diri kok Hobi

Redaksi Lombok Post

Dua Kafe Siapkan Wanita Penghibur

Redaksi Lombok Post

Suka Duka Mahasiswa NTB Menuntut Ilmu di Eropa (1)

Redaksi Lombok Post

Efek Pemberlakuan Sistem Zonasi, Siswa Tak Perlu Daftar Sekolah Lagi

Redaksi Lombok Post

Didukung Warga, Ustad Budi Tak Gentar Dikepung Calon Petahana

Redaksi Lombok Post

Bangun Mandalika, ITDC Pinjam Rp 3,6 Triliun ke AIIB

Redaksi LombokPost

Mohan Bikin Kejutan di Mataram Jazz & World Music Festival 2018

Redaksi LombokPost