Lombok Post
NASIONAL

Eksekusi Mati Bisa Dijadwalkan

JAKARTA – Gugatan perlawanan dua terpidana mati Bali Nine, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, kemarin ditolak Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta. Dengan penolakan tersebut, bisa jadi Kejaksaan Agung (Kejagung) mulai menjadwalkan eksekusi terpidana mati.

Kuasa Hukum Bali Nine Todung Mulya Lubis mengatakan, pihaknya kecewa dengan keputusan PTUN menolak gugatan perlawanan tersebut. Namun, keputusan tersebut tidak akan menghentikan langkah mereka untuk melindungi hak-hak Andrew dan Myuran. “Masih ada jalan lain yang bisa ditempuh,” ujarnya.

Rencananya, mereka akan mengajukan Constitutional Review (CR) ke Mahkamah Konstitusi. Pengajuan CR itu untuk melindungi hak hidup keduanya. “Targetnya untuk menghapus hukuman mati,” jelasnya.

Todung berharap pemerintah menghormati HAM sesuai janji pemerintah saat masa kampanye. Apalagi, dua terpidana mati ini memiliki inisiatif mengubah sikap dan telah menempuh proses rehabilitasi yang panjang. “Kami masih berupaya terus,” terangnya.

Anggota Tim Kuasa Hukum Bali Nine Leonard Arpan Aritonang menambahkan, langkah mengajukan CR ini tidak dilakukan sendirian. Ada sejumlah lembaga yang turut serta karena memiliki kesamaan tujuan, yakni Kontras, Imparsial, dan Inisiator Muda. “Kami akan mengajukan CR bersama,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Tony Spontana mengakui, selama ini pihaknya menunggu proses hukum Bali Nine dan sejumlah terpidana lainnya. “Kalau sudah selesai semua, nanti bisa diputuskan jadwal eksekusinya kapan,” ujarnya.

Menurut dia, ada kemungkinan jadwal eksekusi mati ditentukan pekan ini. Namun, tentunya harus melihat proses hukum terpidana mati lainnya, seperti Raheem Agbaje, Serge Areski, dan lainnya. “Kalau terpidana mati lain juga mungkin selesai pekan ini,” terangnya.

Kejagung telah berkoordinasi dengan Mahkamah Agung (MA) untuk mempercepat proses hukum bagi terpidana mati. Sehingga, kondisinya tidak menggantung seperti saat ini. “Semoga bisa lebih cepat,” harapnya.

Saat ini, Raheem Agbaje sedang mengajukan peninjauan kembali (PK) dengan novum (bukti baru) adanya kesalahan identitas. Lalu Serge juga mengajukan PK, namun tanpa novum.

Sebelumnya, eksekusi terpidana mati gelombang dua sempat menggantung. Yang awalnya ditentukan tiga hari pascapemindahan terpidana mati ke Nusakambangan, namun ternyata hingga saat ini belum juga terlaksana. (idr/r3)

Berita Lainnya

Ada OPM di Balik Kerusuhan Papua

Redaksi LombokPost

Kelompok Agitator di Balik Kerusuhan

Redaksi LombokPost

Stop Diskriminasi Masyarakat Papua

Redaksi LombokPost

UAS Dilaporkan ke Bareskrim

Redaksi LombokPost

MotoGP Lombok Tak Akan Mundur

Redaksi LombokPost

Prajurit Asal NTB Gugur di Papua

Redaksi LombokPost

Tenda di Mina Penuh Sesak, Ruang Satu Jamaah Hanya 0,8 Meter Persegi

Redaksi LombokPost

Peserta Safari Wukuf Diperkirakan Berkurang

Redaksi LombokPost

Megawati Pimpin PDIP untuk Kelima Kalinya

Redaksi LombokPost