Lombok Post
Headline Metropolis

Intel Korem Ciduk KPK Gadungan

KPK Gadungan
DIAMANKAN: Mobil Hilux warna putih dengan nopol DR 9023 DC yang dikendarai Sayid Idrus Al Habsy bersama oknum buser narkoba Polda NTB diamankan.

* Diduga Peras Kades Buwun Mas, Sekotong

MATARAM – Kasus yang menjerat Bupati Lombok Barat Zaini Arony, dimanfaatkan Sayid Idrus Al Habsy untuk melakukan pemerasan. Namun aksinya pria 34 tahun, asal Batukliang, Lombok Tengah (Loteng) itu dihentikan Tim Intelijen Korem (Intelrem) 162/Wira Bakti. Dia yang mengaku sebagai anggota KPK diringkus di depan makorem saat sedang memeras Kades Buwun Mas, Sekotong, Naim, sekitar pukul 19.00 Wita, tadi malam.

a�?Sekarang, penanganannya sudah diserahkan ke Polres Mataram,a�? kata Danrem 162/WB Kolonel CZI Lalu Rudy Irham Srigede melalui Kapten CHB Danang Kristiyanto saatA� dikonfirmasi, tadi malam.

Penangkapan ini bermula saat Naim menerima telepon dari rekannya sesama kades. Melalui sambungan telepon tersebut, rekannya menyampaikan, mereka harus bertemu, karena urusan penting terkait kasus Bupati Lobar Zaini Arony. Diketahui, Zaini kini ditahan KPK setelah ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan pemerasan izin pengembangan kawasan wisata yang berlokasi di Desa Buwun Mas, Sekotong.

Mereka kemudian sepakat untuk bertemu di depan Kantor Camat Mataram, sore kemarin.A� Tiba di lokasi janjian, Naim tidak bertemu rekannya tersebut. Ia malah bertemu dengan dua orang yang tidak dikenalnya. Salah seorang di antaranyaA� mengaku bernama Sayid Idrus Al Habsy dan merupakan utusan dari KPK. Seorang lainnya tampak membawa senjata dan mengaku sebagaiA� anggota polisi berpangkat bripka dan sehari-hari bertugas di Polda NTB.

a�?Begitu ketemu, saya langsung ditodong uang Rp 3 miliar. Saya kaget, apa salah saya tiba-tiba dimintai uang sebanyak itu,a�? cerita Naim pada wartawan, tadi malam.

Dia menuturkan, jika tidak menyerahkan uang sebanyak itu, kedua oknum tadi mengancam akan menyeretnya ke penjara. a�?Saya bilang tidak ada uang sebesar itu. Akhirnya, disepakati saya akan kasih Rp 100 juta. Saya bilang saya akan usahakan,a�? lanjutnya.

Setelah pertemuan tersebut, Naim diberi waktu untuk menyiapkan uang Rp 100 juta sebagaimana dijanjikan. Selang beberapa lama, mereka sepakat bertemu lagi di lokasi yang berbeda dan Naim pun menyerahkan uang Rp 50 juta kepada pelaku. a�?Saya serahkan uangnya, dan saya minta kepastian ini benar-benar KPK atau tidak. Saya mau tahu,a�? kata Naim.
Sekitar pukul 19.00 Wita, korban dan dua pelaku kembali janjian untuk bertemu di depan Makorem 162/WB untuk serah terima sisa uang Rp 50 juta. Namun, tanpa sepengetahuan kedua pelaku, Naim sudah berkoordinasi dengan pihak Korem.
Pada waktu yang ditentukan tersebut, kedua pelaku datang mengendarai mobil Toyota Hilux dengan nomor polisi (nopol) DR 9023 DC. Namun, sebelum serah terima uang dilakukan, Tim Intelrem 162/WB menciduk kedua pelaku, kemudian digiring ke Makorem.

Penangkapan itu dipimpin Kapten CHB Danang Kristiyanto bersama AKP Daryus dari Polda NTB. Dari tangan pelaku, petugas mengamankan uang tunai sebesar Rp 50 juta dan sebilah parang.

Pelaku ditangkap atas dugaan penipuan terhadap Kades Buwun Mas Naim. Dia diduga memeras dan menerima uang dari korban sebesar Rp 50 juta dengan modus mengaku sebagai anggota KPK. Selanjutnya, dilakukan penggeledahan di dalam mobil Toyota Hilux tersebut. Di dalamnya, ditemukan uang sebesar Rp 50 juta terbungkus plastik hitam dan satu buah parang.

Sekitar pukul 20.15 Wita, Kasatreskrim Polres Mataram AKP Agus Dwi Ananto bersama dua anggotanya menggiring pelaku ke Mapolres Mataram untuk penyelidikan lebih lanjut.

Sayangnya, Polres Mataram masih enggan memberikan keterangan perihal penangkapan itu. Namun, pantauan koran ini, ketika diamankan di Polres Mataram, pelaku langsung menjalani pemeriksaan di ruang penyidik Satreskrim. Ia ditanya seputar penipuan yang dilakukan terhadap Kades Buwun Mas.

Belum diketahui apa alasan pelaku melakukan pemerasan. Namun, kabar yang beredar pelaku mengimingi janji akan membantunya dalam pengurusan kasus yang diduga berkaitan dengan pengurusan izin pengembangan wisata di Meang yang menyeret Bupati Zaini Arony. Sebab, lokasi wisata itu berada di desa yang dipimpin korban. (jlo/uki/r3)

Berita Lainnya

Gerbang Kota Ikut Terseok-Seok!

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Ogah Berniaga di Jalan Niaga

Redaksi LombokPost

Masih Banyak Warga Loteng Buang Air Besar Sembarangan

Redaksi LombokPost

Pemkab dan ITDC Raih Penghargaan ISTA

Redaksi LombokPost

Ahli: Penangkapan Muhir Bukan OTT

Redaksi LombokPost

Pola Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma’ruf Serupa

Redaksi LombokPost