Lombok Post
Opini

Ujian Nasional dan Pembentukan Karakter Kejujuran

Ratusan siswa tingkat SMA dan MA melakukan ujicoba atau Try Out Minggu (5/4) pagi di Gedung Arsip Pemkot Blitar, Jalan Veteran, Kota Blitar. Try Out tersebut digelar untuk memenuhi target kelulusan 100 persen yang di patok Walikota Blitar pada UN 2015 ini. Foto: Irfan Anshori/Radar Blitar

* Oleh: Hasbullah Dan Siti Istiningsih (Penulis Adalah Pemerhati Pendidikan Dan Mahasiswa Program Doktor Universitas Negeri Jakarta)

Satu hal yang cukup menarik untuk kita simak bersama dalam REMBUKNAS 2015 kementrian pendidikan nasional adalah yang disampaikan oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) adalah a�?Yang ditekankan tahun ini adalah menomor satukan kejujuran dalam pelaksanaan UN dan Jangan mengorbankan karakter siswa,a�? artinya pentingnya mendidik anak-anak bangsa yang berintegritas, sehingga mereka akan menjadi penerus bangsa yang inspiratif di masa depan. (http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/berita/4008).

Perlu kita sadari bersama bahwa pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya berhasil membentuk generasi muda yang unggul dan berkarakter. Hilangnya sebagian karakter generasi muda disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya melalui faktor internal yang merupakan faktor-faktor yang disebabkan oleh manusia itu sendiri, contohnya dalam lingkup terkecil di masyarakat yaitu keluarga, di mana pola hidup yang semakin sibuk dan serba modern mengakibatkan hilangnya fungsi-fungsi keluarga, minimnya komunikasi antara orang tua dan anak mengakibatkan anak merasa kurang diperhatikan dan terkadang anak lebih memilih untuk bergaul dengan lingkungan yang salah, rasa diabaikan pada diri anak akan menyebabkan labilnya emosi dan penalaran pada diri anak sehingga berdampak pada budaya mencontek, kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas dan sebagainya. Faktor yang kedua adalah lingkungan masyarakat, di mana pola kehidupan di lingkungan masyarakat saat ini yang selalu mencari alternatif termudah dalam menyelesaikan segala permasalahan mengakibatkan hilangnya nilai-nilai kehidupan yang ada di dalamnya.

Ingat, awal mula semua tindakan yang jahat dan buruk, tindakan kejahatan terletak pada hilangnya karakter. Karakter yang kuat adalah dasar fundamental yang memberikan kemampuan kepada individu untuk hidup bersama dalam kedamaian serta membentuk dunia yang dipenuhi dengan kebaikan dan kebajikan, yang bebas dari kekerasan dan tindakan-tindakan tidak bermoral. Karakter pada diri manusia tidak diwariskan, tetapi sesuatu yang dibangun secara berkesinambungan hari demi hari melalui pikiran dan perbuatan, pikiran demi pikiran, tindakan demi tindakan. Seperti yang diungkapkan Douglas a�?Caracter isna��t inherited. One builds its daily by the way one thinks and acts, thought, action by Action.

Sekolah sebagai bagian dalam pembentukan karakter individu siswa sudah saatnya memulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana. Salah satu contoh kongkrit yang dapat di terapkan adalah mengedepankan budaya kejujuran dalam pelaksanaan ujian nasional yang akan dilaksanakan beberapa hari ke depan. Sekolah harus bangga jika anak-anak didiknya melaksanakan ujian nasional dengan jujur bukan bangga lulus 100% dengan menghilangkan nilai kejujuran pada diri sekolah dan siswa.

Ujian Nasional Momentum Pembentukan Karakter Kejujuran

Untuk mencapai karakter kejujuran yang diharapkan sebagaimana tersebut di atas, diperlukan individu-individu yang memiliki komitmen yang kuat. Oleh karena itu, dalam upaya pembangunan karakter bangsa diperlukan upaya sungguh-sungguh untuk membangun karakter individu. Secara psikologis karakter individu dimaknai sebagai hasil keterpaduan empat bagian, yakni olah hati, olah pikir, olah raga, olah rasa dan karsa. Olah hati berkenaan dengan perasaan sikap dan keyakinan/keimanan. Olah pikir berkenaan dengan proses nalar guna mencari dan menggunakan pengetahuan secara kritis, kreatif, dan inovatif. Olah raga berkenaan dengan proses persepsi, kesiapan, peniruan, manipulasi, dan penciptaan aktivitas baru disertai sportivitas. Olah rasa dan karsa berkenaan dengan kemauan dan kreativitas yang tercermin dalam kepedulian, pencitraan, dan penciptaan kebaruan.

Sekolah sebagai wahana pembinaan dan pengembangan karakter yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan-pendekatan pembelajaran. Pembangunan karakter di sekolah dilaksanakan dari tingkat sekolah dasar sampai tinggi. Salah satu kunci keberhasilan program pengembangan karakter di sekolah adalah keteladanan dari para pendidik dan tenaga kependidikan. Keteladanan bukan sekedar sebagai contoh bagi perserta didik dalam bersikap dan berperilaku.

Oleh karena itu di dalam pelaksanaan ujian nasional tahun ini diharapkan semua warga sekolah baik kepala sekolah, guru mengajarkan nilai-nilai kejujuran kepada siswa dengan cara tidak memberikan siswa harapan-harapan berlebihan pada pemberian jawaban ujian nasional. Kalau semua ini terjadi maka nilai-nilai karakter teruma kejujuran tidak akan pernah terbentuk di dalam diri siswa di masa depan hidupnya nanti dalam membangun generasi bangsa yang bermartabat.

Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Melalui karakter kejujuran diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai kejujuran dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.

Berita Lainnya

Pemuda dan Transformasi Masa Depan

Redaksi Lombok Post

Penyaluran DAK Fisik dan Dana Desa Pascagempa Lombok

Redaksi Lombok Post

Kebijakan dan Pengelolaan Dana Desa Melalui KPPN Mataram

NTB Menuju Panggung (Politik) Nasional

Redaksi Lombok Post

TGB dan Masa Depan Indonesia Gemilang

Redaksi Lombok Post

Gerakan Zakat: Antara Pergerkan, Angka, dan Regulasi

Redaksi Lombok Post

DIPLOMASI KEMANUSIAAN LEMBAGA ZAKAT

Redaksi Lombok Post

LEMBAGA ZAKAT: DARI FUNDRAISING KE FRIEND-RAISING

Redaksi Lombok Post

PILKADA ZAMAN NOW

Redaksi Lombok Post