Lombok Post
Bima - Dompu Headline

Calon Bidan Sukarela Dipalak

bidan

* Dilakukan Pegawai Puskesmas Secara Berjamaah

BIMA – Perekrutan 22 bidan sukarela di Puskesmas Kecamatan Monta disinyalir sarat pungutan liar (pungli). Masing-masing calon bidan dipatok uang pelicin Rp 5 juta hingga Rp 7 juta.

Kuat dugaan, praktik tersebut dilakukan secara berjamaah tim seleksi puskesmas tersebut. Kasus ini diindikasikan sudah berlangsung sejak Februari 2015 lalu. Modusnya cukup rapi. Panitia menggelar tes lisan.

Tes lisan itu hanyaA� sebagai kedok agar bisa menagih komitmen calon bidan sukarela untuk menyerahkan duit pelicin. Sebelum tes berlangsung pun, para peserta diawajibkan mengisi formulir dan membayar uang administrasi masing-masing Rp 250 ribu per orang.

Kasus ini terungkap setelah salah seorang tenaga calon bidan yang tidak lulus, Rosita, membeberkan kasus ini. Warga Desa Tente ini mengaku, dia dinyatakan tidak lulus setelah mengikuti tes lisan kedua. a�?Saya dianggap tidak memenuhi syarat karena bukan warga setempat,a�? katanya.

Padahal sebelumnya, aku Rosita, dia telah dinyatakan lulus. Bahkan sudah menandatangani surat pernyataan di atas materai yang disodorkan tim seleksi saat tes pertama. a�?Namun tes kedua saya malah tidak lulus,a�? ujarnya.

Diakui, sebelum mengikuti tes seleksi tersebut dia kerap didatangi panitia seleksi bernama Ruslan. Ruslan meminta dirinya mengajukan lamaran menjadi bidan di Puskesmas Monta. Ruslan juga meminta sejumlah uang sebagai pelicin. Permintaan itu disanggupi oleh ayah korban, Anwar.

a�?Uang Rp 5 juta diserahkan ayah kepada AM selaku orang suruhan Kepala Pustu Desa Sondo Kecamatan Woha, Ruslan,a�? kata Anwar.

Selain Rp 5 Juta tersebut, lanjut dia, panitia seleksi kerap meminta uang ke keluarga korban. Uang yang diminta berkisar Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu. Jika dikalkulasikan jumlahnya sampai Rp 7 juta. a�?Saya tahu persis jumlah uang itu, karena hasil pinjaman dari tetangga,a�? aku Rosita.

Untuk memastikan uang itu sampai, setelah uang itu diserahkan ke AM, dia menghubungi Ruslan dengan handphone. Dari hasil komunikasi itu, Ruslan mengaku telah menerima uang itu dari AM.

Dia juga menduga uang itu telah mengalir ke koordinator bidan, serta Kepala TU Puskesmas Monta. Hal itu terkuak setelah adanya pengakuan oknum kepada korban. Bahwa uang yang diperoleh dari Rosita itu akan dibagikan ke beberapa anggota tim seleksi.

“Termasuk diserahkan ke koordinator bidan selaku tim seleksi,a�? katanya mengutip keterangan Ruslan. Anwar, orang tua korban juga mengaku, telah dihubungi pihak puskesmas dan meminta masalah itu tidak diperbesar.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Pustu Sondo, Ruslan membenarkan telah menerima uang dari Rosita melalui AM sebanyak Rp 4 juta. Namun uang itu lanjut dia, telah dikembalikan ke korban pada Senin (13/4) lalu.

a�?Hanya Rp 4 juta saja yang saya terima, bukan tujuh juta. Tapi itu sudah saya kembalikan,a�? katanya dihubungi via telepon, Selasa (14/4).

Dengan dikembalikannya uang itu lanjut dia, masalah sudah selesai. Diakui uang tersebut sebagai pelicin untuk menggolkan Rosita menjadi tenga sukarela di Puskesmas Monta. Rencananya sebagian uang itu akan diserahkan ke koordinator bidan, Dewi Hasna. a�?Itu pun jika Rosita lulus tes,a�? akunya.

Sementara itu, koordinator bidan Puskesmas Monta, Dewi Hasna yang juga dihubungi via handphone membantah dugaan pungli dalam perekrutan tenaga sukarela tersebut. Ia mengaku, rekrutmen tenaga bidan berlangsung sesuai mekanisme. “Tidak ada pungli dalam perekrutan itu. Perekrutan tenaga bidan itu sesuai dengan kemampuan mereka sendiri,” elaknya.

Dikatakan, dari 22 orang yang ikut tes, satu orang di antaranya tidak lulus pada tes kedua. Alasannya karena bukan warga asli Kecamatan Monta. “Yang diutamakan adalah tenaga setempat,a�?katanya.

Dewi pun membantah, jika dia pernah menerima uang dari Kepala Pustu Sondo, Ruslan, sebagaimana yang disebut korban. “Itu tidak benar. Itu fitnah. Itu sama halnya membunuh karakter saya,” tandasnya. (mch/r7)

Berita Lainnya

Kades Jangan Alergi Diperiksa!

Redaksi LombokPost

Surya Paloh Road Show ke Lombok

Redaksi LombokPost

Lima Spa Abal-Abal Ditertibkan

Redaksi Lombok Post

Suka Duka Mahasiswa Bumi Gora Menuntut Ilmu di Benua Biru (2)

Redaksi Lombok Post

Bunuh Diri kok Hobi

Redaksi Lombok Post

Dua Kafe Siapkan Wanita Penghibur

Redaksi Lombok Post

Suka Duka Mahasiswa NTB Menuntut Ilmu di Eropa (1)

Redaksi Lombok Post

Efek Pemberlakuan Sistem Zonasi, Siswa Tak Perlu Daftar Sekolah Lagi

Redaksi Lombok Post

Didukung Warga, Ustad Budi Tak Gentar Dikepung Calon Petahana

Redaksi Lombok Post