Lombok Post
Tanjung

Selain Kerang Mutiara, Lobster Mulai Dikembangkan

RISET: Beberapa bak yang disiapkan dan telah diisi lobster untuk diteliti dan dikembangkan.

*Mengunjungi UPT Loka Pengembangan Bio Industri Laut di Dusun Teluk Kodek

Indonesia dikelilingi lautan yang memiliki sumberdaya alam melimpah. Namun dengan melimpahnya sumberdaya alam ini, Indonesia menjadi incaran negara yang ingin mengeruknya. Akibatnya beberapa komoditas hasil laut kian berkurang. Ini yang menjadi alasan LIPI melakukan penelitian teknologi budidaya sumberdaya laut agar bisa diterapkan di masyarakat dan meningkatkan perekonomian.

***

UPT Loka Pengembangan Bio Industri Laut Pusat Penelitian Oseonografi LIPI di Dusun Teluk Kodek, Desa Malaka, telah melakukan beberapa penelitian budidaya. Penelitian ini menyangkut beberapa komoditas hasil laut seperti kerang mutiara, lobster, teripang, abalon, dan lainnya.

Untuk kerang mutiara, LIPI memang sudah lama meneliti dan membudidayakan. Mutiara hasil budidaya dapat berbentuk bulat (dibentik dalam jaringan lunak tubuh kerang) atau pun setengah bulat (pada permukaan bagian dalam).

Sementara mutiara alami memiliki bentuk mutiara tidak beraturan. Masa perkembangbiakan kerang mutiara sendiri adalah musiman. Di NTB, khususnya Lombok Utara musimnya berlangsung mulai Agustus-September hingga Januari-Februari.

Untuk menghasilkan benih, induk jantan dan betina dirangsang dalam sebuah wadah. Perangsangan dilakukan dengan pemberian pakan alami secara berlebihan. Kejutan suhu atau dikeringkan selama beberapa waktu. Setelah itu, induk betina dibuahi sperma dan mengalami proses pembelahan. Hasil pembelahan kemudian menjadi benih kerang (spat) pada umur 21 hingga 23 hari.

Setelah tiga minggu, spat melekat pada kolektor. Benih siap dipelihara dan dilepas di lautan. Lembaran kolektor diikat pada bingkai persegi panjang (pocket). Kantong pembungkus diperlukan untuk melindungi benih dari serangan predator seperti ikan dan keong.

Untuk kecepatan tumbuh benih di perairan NTB bekisar antara 5 hingga 7 milimeter per bulan. Untuk mencapai ukuran yang dapat diisi inti diperlukan waktu antara 16 hingga 20 bulan.

Setelah berukuran 10 centimeter, kerang bisa diisi inti mutiara. Inti dimasukkan bersama potongan kecil mantel atau bagian tubuh yang menghasilkan lapisan mutiara berukuran 1×2 centimeter. Di dalam indung telur, nantinya mantel tumbuh menutupi inti dengan lapisan mutiara hingga ukurannya bertambah besar.

Setelah 18 hingga 24 bulan lapisan mutiara bisa dipanen. a�?Kerang mutiara sudah berhasil kita kembangkan. Namun yang menjadi kendala adalah sebelum sempat dipanen, mutiara ini sudah dipanen orang lain,a�? ujar Plt Deputi Ilmu Pengetahuan Bidang Kebumian Zainal Arifin.

Penelitian teknologi budidaya kerang mutiara ini sudah 15 tahun dilakukan. Berbagai percobaan di laboratorium dan lapangan sudah dilakukan. Keberhasilan teknologi dalam koridor riset ini tentu harus diaplikasikan kepada masyarakat.

Untuk itu dengan konsep technopark yang diusung pemerintah pusat, teknologi budidaya kerang mutiara ini dipamerkan ke masyarakat. Disertai pelatihan dan pendidikan agar bisa diterapkan masyarakat secara mandiri.

a�?Penyebaran teknologi ini dilakukan dalam bentuk pameran, pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat,a�? katanya.

Ditambahkan, setelah menyelesaikan pelatihan masyarakat akan memperoleh bantuan mengidentifikasi lokasi yang sesuai untuk budidaya kerang mutiara dan teripang. Masyarakat atau kelompok nelayan juga memperoleh bantuan perlengkapan dasar budidaya kerang mutiara dan teripang.

Tentu, kelompok nelayan juga akan didampingi untuk menjamin keberhasilan budidaya. a�?Masyarakat juga dibantu mengidentifikasi calon pembeli atau pasar produk tersebut,a�? jelasnya.

Selain empat komoditas yang dikembangkan dalam program Marine Technopark. LIPI juga mulai melakukan riset dan budidaya lobster yang dimulai sejak Februari lalu.

Ada empat lobster yang mulai diteliti dan dikembangkan yakni lobster batu, lobster pasir, lobster batik dan lobster mutiara. a�?Selain jumlahnya yang sudah mulai berkurang di alam, lobster ini juga bernilai ekonomis tinggi,a�? ujar Ali, salah seorang peneliti LIPI bidang Lobster.

Untuk riset dan budidaya ini, benih lobster yang masih transparan diambil dari alam kemudian dimasukkan ke dalam bak yang sudah disiapkan. Untuk lobster usia 0 hingga 9 bulan diletakkan di bak pemeliharaan. Terpisah dengan lobster berusia 9 bulan keatas yang sudah siap dipasarkan.

Masing-masing bak pemeliharan terdiri dari empat bak dilengkap selang udara. Untuk lobster usia 0-9 bulan masih bisa ditaruh secara bersama dalam satu bak. Namun untuk lobster usia 9 bulan keatas bak hanya digunakan untuk satu lobster saja.

a�?Kami lakukan riset, jika sudah menemukan hasilnya akan diterapkan ke masyarakat seperti kerang mutiara dan lainnya,a�? kata Ali. (PUJO NUGROHO)

Berita Lainnya

50 Orang Dilatih Jadi Aplikator Risha

Redaksi LombokPost

Rekruitmen P3K Diharapkan Bisa Mulai Tahun Depan

Redaksi LombokPost

Kantor Sementara DPRD Mulai Dibangun

Redaksi LombokPost

Warga Dusun Boyotan Terancam Tak Dapat Rp 50 Juta

Redaksi LombokPost

Baru 40 Sekolah Rusak Berat Dirobohkan

Redaksi LombokPost

Sekda Izinkan Huntara BUMN yang Tak Ditempati Dibongkar, Asal…

Redaksi LombokPost

Empat Puskesmas Darurat Mulai Beroperasi

Redaksi LombokPost

7.000 Petisi Penolakan Juknis Bantuan Gempa

Redaksi LombokPost

Pelebaran Jalan Ganggu Distribusi Air

Redaksi LombokPost