Lombok Post
NASIONAL

Tuntut Dibebaskan, Nenek Asyani ke Jakarta

Aktris Atiqah HasihAolan (kiri) bersama Seniman Perempuan Ratna Sarumpaet berbincang dengan Nenek Asyani (tengah) saat menggelar aksi yang tergabung dalam Perempuan Indonesia Menggugat di Car Free Day, Jakarta, Minggu (26/04/2015). Aksi teresebut sebagai bentuk penolakan terhadap hukuman yang diberikan kepada Nenek Asyani.--Foto: Imam Husein/Jawa Pos

JAKARTA – Perjuangan Nenek Asyani menuntut keadilan dan dibebaskan atas hukuman yang ditimpakan ke dirinya berlanjut hingga ke ibukota Jakarta. Di Jakarta perempuan yang tersangkut kasus pencurian beberapa batang kayu jati itu mendapat banyak dukungan.

Diantara dukungan disampaikan oleh seniman Ratna Sarumpaet. Dia menyampaikan keprihatinanya terhadap kasus yang menimpa ASyani. Ratna menilai bahwa kasus nenek berumur 63 tahun itu merupakan hilangnya moral masyarakat di Indonesia.

“Kasus ibu Asyani ini tidak masuk akal,” kata perempuan yang juga aktivis perlindungan hak asasi manusia itu. Menurut Ratna, putusan vonis masa percobaan 15 hari dan denda Rp 500 juta kepada Asyani dipicu oleh penegakan hukum di Indonesia yang tidak beres.

Bahkan ibu bintang film Atiqah Hasiholan itu menuturkan, jangan sampai Asyani menjadi “korban” sebuah kekejaman penegakan hukum di Indonesia. Dia menuturkan penjatuhan hukuman di Indonesia tidak hanya berfungi sebagai penghukuman, tetapi juga memberikan rasa keadilan.

Asyani datang ke Jakarta didampingi kuasa hukum Supriyono. Supriyono menuturkan mereka ke Jakarta untuk meminta bantuan LBH Jakarta. Mereka berencana melaporkan ketua majelis hakim di Pengadilan Negeri Situbondo Kadek Dedy Arcana ke Komisi Yudisial. “Asyani merasa keberatan dengan vonis PN Situbondo. Dia minta dibebaskan karena merasa tidak bersalah,” tutur Supriyono.

Sementara Febi Yonesta dari LBH Jakarta mengatakan pihaknya siap memberikan bantuan advokasi seperti yang diminta Asyani dan kuasa hukumnya. “Kami akan terus kampanyekan ketidakadilan yang didapat Nenek Asyani, termasuk mengawal laporan lawyer beliau ke KY (Komisi Yudisial),” ujar Febi.

Selain mengawal perkara tersebut, LBH juga berupaya menggalang dukungan agar masyarakat bisa membantu meringankan beban Asyani terhadap vonis denda yang didapatnya. Sebagaimana diketahui, Asyani mendapatkan vonis denda Rp 500 juta.

“Ini memang masih banding, tapi kalau nanti vonisnya tidak berubah kami mendorong masyarakat untuk bersama membantu Nenek Asyani membayar dendanya,” terangnya.LBH berharap penegak hukum belajar dari kasus nenek Asyani. Menurut Febi kasus semacam ini harusnya tidak sampai harus ke pengadilan. Namun lebih baik diselesaikan secara mediasi.(wan/gun)

Berita Lainnya

Lion Air JT 610 Bermasalah di Bali, Jatuh di Karawang

Redaksi LombokPost

16 Instansi Belum Umumkan Seleksi Administrasi CPNS

Redaksi Lombok Post

Jokowi Beri Sinyal Subsidi BPJS Kesehatan

Redaksi LombokPost

Tes CPNS Baru untuk Instansi Pusat

Redaksi LombokPost

Pendaftar CPNS Segera Lapor Dukcapil Kalau Data NIK Tidak Muncul Saat Daftar

Redaksi Lombok Post

Separo Kuota CPNS untuk Pendidik

Redaksi Lombok Post

Sampai Jumpa di Guangzhou 2022

Redaksi Lombok Post

Tiga Jamaah Haji NTB Meninggal di Tanah Suci

Redaksi Lombok Post

Busana Adat Warnai Peringatan HUT RI di Istana

Redaksi Lombok Post