Lombok Post
Praya

Bantuan Lamban, Rumah Diperbaiki Sendiri

TERTIMPA POHON: Inilah kediaman keluarga Suhadah yang tersapu angin puting beliung.

*Kondisi Korban Puting Beliung di Desa Ranggagata (1)

Tanggap darurat dinas teknis terhadap bencana alam di Lombok Tengah lamban dan terlalu birokratis. Hal ini dikeluhkan para korban karena mereka tak segera tertolong.

***

SABTU pukul 14.30 Wita musibah angin puting beliung menimpa Dusun Gerunung, Desa Ranggagata. Bencana itu menyisakan kekecewaan korban lantaran lambannya pemerintah menyalurkan bantuan. Mereka diminta disurati terlebih dahulu oleh pemerintah desa, baru turun mendata dan menyalurkan bantuan.

Ada 15 rumah yang terkena pusaran angin dari arah utara dan barat. Kedatangannya, membuat warga satu dusun itu berhamburan keluar rumah. Mereka takut tertimpa genteng atau benda lain. Mereka pun hanya bisa melihat keganasan puting beliung itu sembari membaca ayat-ayat pendek dan menyebut Sang Maha Pencipta.

Pada hari itu, memang kondisi cuaca mencekam. Di mana, di Lombok Barat dan Kota Mataram banjir. Sementara di Gumi Tatas Tuhu Trasna diserbu angin puting beliung. Musibah semacam itu menjadi langganan setiap tahunnya di Desa Ranggagata. Namun di Dusun Gerunung tahun ini mendapat giliran.

Untuk menuju dusun ini membutuhkan waktu sekitar 25 menit dari desa induk. Dari 10 dusun di Desa Ranggagata, Dusun Gerunung merupakan salah satu dusun terpencil. Kondisi jalannya cukup menantang. Jika dimusim penghujan seperti ini, jalannya berbecek dan dimana-mana ada saja kubangan air. Kalau tidak hati-hati mengendarai motor bisa-bisa terjatuh.

Jarak dusun yang satu itu dari desa induk sekitar 3 kilometer. Di dusun itu ada 120 kepala keluarga (KK). Rata-rata mereka bermata pencaharian sebagai petani pemilik lahan, buruh tani dan bekerja ke Malaysia. Masing-masing dari mereka memiliki rumah layak huni. Ada yang bangunannya dari batu bata beratap genteng, asbes atau seng.

Ada pula sebagian dari mereka kediamannya bisa dibilang memprihatinkan. Terbuat dari tiang kayu dan bambu ditutup dari anyaman bambu yang beratapkan seng. Kendati demikian, rumah-rumah itu dibangun penuh suka cita. Yang penting bagi mereka ada tempat berteduh dari terik matahari, hujan dan binatang buas.

Namun, rumah yang dibangun dengan berhutang dan menjual barang-barang berharga itu rusak dalam hitungan menit. Ada yang rusak berat, sedang dan rusak ringan. Dari 15 rumah yang terkena musibah itu, rumah keluarga Burhanudin dan keluarga Suhadah rusak parah.

Mereka tidak bisa berbuat banyak. Hutang bangunan rumahnya saja belum terlunasi. Parahnya, Suhadah saat ini suaminya di Malaysia. Ada satu kamar tidur yang tersisa genteng utuh di kediamannya. Yang lainnya berhamburan. Ia dan dua orang anaknya hanya bisa memandang rumah yang dibangun dari kiriman uang suaminya itu.

Dia pun sangat mengharapkan bantuan pemerintah. “Kalau tidak ada bantuan, terpaksa saya harus menunggu kiriman uang dari suami,” ujar Suhadah sembari menunjukkan kediamannya yang tertimpa pohon tersebut.

Di tempat berbeda, ada pula sebagian dari mereka yang memperbaiki sendiri rumahnya masing-masing. Kebetulan kondisinya juga tidak terlalu parah atau bisa dikatakan rusak ringan. Sebut saja kediaman keluarga Hj Nikmah, Asmuni dan Hj Sahrah. Mereka hanya menambah beberapa genteng atap rumah yang retak dan terjatuh.

Langkah itu dilakukan karena saat kejadian puting beliung, badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) dan dinsosnakertrans tidak langsung turun. Mereka turun setelah dua hari kejadian. Itu pun harus dipecut dengan pemberitaan media massa. Potret seperti itu menjadi catatan warga yang tertimpa musibah.

“Mau nunggu pemerintah membantu, lebih baik kami perbaiki sendiri saja,” ujar sejumlah korban puting beliung.(Dedi Shopan Shopian )

Berita Lainnya

Bangun Mandalika, ITDC Pinjam Rp 3,6 Triliun ke AIIB

Redaksi LombokPost

Penjualan Songket Sukarara Anjlok

Redaksi LombokPost

Warga Merasa Bayar Angin, Bukan Air PDAM

Redaksi LombokPost

150 Pendaki Jajal Jalur Aik Berik

Redaksi LombokPost

BPK Periksa 10 Desa di Loteng

Redaksi LombokPost

Suhaili Tagih Komitmen Pusat

Redaksi LombokPost

Loteng Kembali Raih WTP?

Redaksi LombokPost

2.500 Sertifikat Gratis Dibagikan

Redaksi LombokPost

Segel Kantor Desa Lajut Dibuka

Redaksi LombokPost