Lombok Post
Metropolis

30 Persen Koperasi Terancam Dibekukan

SUPRAN

MATARAM – Tidak semua koperasi di NTB sehat wal afiat. Justru, 30 persen di antaranya sakit dan terancam dibekukan. Jumlah badan hukum koperasi di NTB saat ini mencapai 3.396 unit. 1.708 koperasi yang terancam ini sudah mati suri tanpa aktifitas. a�?Mereka tidak menunjukkan itikad baik sampai sekarang,a�? kata Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Diskop UMKM) H Supran kepada wartawan, kemarin (6/5).

Koperasi yang dinyatakan tidak aktif, tidak menggelar Rapat Akhir Tahun (RAT) selama dua tahun berturut-turut dan tidak melaksanakan fungsinya sebagai koperasi, yakni melakukan kegiatan usaha agar memberikan manfaat bagi anggotanya. a�?Bahkan, ada juga yang tidak jelas alamatnya,a�? lanjut Supran.

Sejak bulan bulan lalu, pihaknya sudah melayangkan teguran keras kepada sekitar 39 persen koperasi yang terbilang mati suri. Namun, sampai sekarang, tidak banyak di antara pengelola koperasi yang memberikan respon. Sebagian besar cuek dan tampaknya sudah pasrah untuk dibekukan. a�?Dari semua yang sudah kami layangkan teguran, kurang dari sepuluh persen yang datang kemari dan memberikan respon,a�? katanya.

Mendapat teguran tersebut, memang ada pengelola koperasi yang berjanji akan segera melakukan pembenahan. Mulai dari perencanaan untuk melakukan RAT termasuk membenahi manajemen dan Sumber Daya Manusia (SDM). a�?Kita hanya beri tenggat waktu sampai Juni. Kalau tidak ada niat untuk berubah, koperasi-koperasi itu akan langsung dibekukan. Ini agar mereka tidak menyalahgunakan kewenangan,a�? tegasnya.

Di sisi lain, Diskop dan UMKM NTB mengaku sudah melakukan pembenahan terhadap koperasi yang masuk kategori tidak aktif melalui program pembinaan bekerja sama pemerintah di kabupaten kota. Salah satunya melalui pendidikan dan pelatihan kepada pengelola koperasi, terutama yang tidak aktif agar mereka mampu menjalankan usaha dan membuat pelaporan keuangan, sehingga tidak menjadi penghambat dalam menggelar RAT.

a�?Salah satu target kita kan untuk peningkatan kualitas koperasi,a�? imbuhnya.

Supran menganalisis, banyak faktor yang menyebabkan banyak koperasi mati suri. Alasan utama, mereka didirikan tanpa mengedepankan prinsip kekeluargaan. Kemungkinan besar, hanya dibuat untuk mengejar program bantuan pemerintah. Sehingga, pengelolaannya pun tidak serius dan sarat menemui kendala.

a�?Ada yang bikin koperasi sekedar berharap dapat bantuan dari pemerintah. Padahal landasan koperasi hrsnya untuk bangun perekonomian berasaskan kekeluargaan,a�? kata Supran. (uki/r9)

Berita Lainnya

Gerbang Kota Ikut Terseok-Seok!

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Ogah Berniaga di Jalan Niaga

Redaksi LombokPost

Tolong, Jangan Masuk Angin!

Redaksi LombokPost

Volume Monumen Tak Sesuai Kontrak, Rekanan Didenda Rp 1,2 Juta Perhari

Redaksi LombokPost

Baginya, yang Penting Jangan Mengemis!

Redaksi LombokPost

Ibu Kota kok Kotor?

Redaksi LombokPost