Lombok Post
Sportivo

Madrid Dihadang Kutukan

Real Madrid's Portuguese forward Cristiano Ronaldo reacts at the end of the UEFA Champions League semi-final first leg football match Juventus vs Real Madrid on May 5, 2015 at the Juventus stadium in Turin. Juventus won 2-1. AFP PHOTO / MARCO BERTORELLO

*JUVENTUS A�2 V 1 A�REAL MADRID

MADRID – Real Madrid harus melewati jalan terjal untuk bisa mencapai final Liga Champions musim ini. Ini seiring kekalahan 1-2 (1-1) yang diderita dari Juventus pada leg pertama di Juventus Stadium,A kemarin (6/5). Mantan bomber Real, Alvaro Morata membuka keunggulan tuan rumah saat laga baru berjalan delapan menit. Tapi, Real bisa menyamakan skor melalui sundulan Cristiano Ronaldo. Gol penentu kemenangan Juve dilesakkan Carlos Tevez melalui titik penalti.

Kekalahan ini memang belum menutup peluang Real untuk lolos ke final. Sebab, masih ada leg kedua yang berlangsung di Santiago Bernabeu pada Rabu pekan depan (13/5). Namun, jika menilik sejarah perjalanan Liga Champions, banyak yang beranggapan kalau kutukan tengah menghadang skuad Los Blancos -julukan Real Madrid.

Ya, sejak kompetisi antarklub paling prestisius di dunia itu berubah format menjadi Liga Champions pada musim 1992-1993, belum ada tim yang bisa back to back juara atau mempertahankan trofi yang diraih pada musim sebelumnya.

Statistik penampilan Real di fase knockout mendukung adanya ancaman kutukan buat Iker Casillas dkk. Di mana, Real selalu kandas di fase knockout jika mereka menelan kekalahan pada leg pertama. Tapi, Carlo Ancelotti selaku entrenador Real optimistis timnya bisa melawan semua kutukan, sekaligus memastikan lolos ke final. Apalagi, Casillas dkk hanya butuh kemenangan 1-0 untuk mengeliminasi Juve di leg kedua nanti.

“Juve lebih menekan di babak kedua. Sejak itu, kami mulai menghadapi banyak masalah. Ruang gerak kami semakin sempit ketika mereka mengubah formasi menjadi 3-5-2,” papar Ancelotti kepada Football Italia.

Ancelotti menyesalkan terjadinya gol kedua Juve lewat penalti Tevez. Penalti diberikan wasit Martin Atkinson setelah Tevez dijatuhkan Dani Carvajal di kotak terlarang. Carvajal terpaksa menjatuhkan Tevez karena dia kalah sprint saat bomber asal Argentina itu melakukan penetrasi lewat serangan balik.

“Soal gol kedua, kami hanya kurang beruntung. Kami juga apes karena satu peluang membentur mistar,” ujar Ancelotti merujuk sundulan James Rodriguez yang mengenai mistar atas Juve.

Ancelotti menolak anggapan kalau timnya terlalu memberikan ruang buat Andrea Pirlo. “Melakukan pressing terhadap Pirlo saya pikir juga beresiko. Sebab, akan ada banyak ruang untuk melepaskan umpan buat Tevez. Itu situasi yang banyak terjadi di babak pertama,” paparnya.

“Kami juga terlalu terburu-buru. Saya berharap di leg kedua nanti semua bisa bermain lebih sabar,” timpal pria asal Italia itu.

Sukses menaklukkan Real membuat optimisme di kubu Juve membuncah. Tim berjuluk Nyonya Tua itu hanya butuh hasil seri untuk mengamankan tiket ke final. Kans itu sangat terbuka mengingat Juve sudah tak punya beban di pentas Serie A Liga Italia. Sebaliknya, Real masih harus bertarung dengan Barcelona dalam pacuan perburuan gelar Primera Division. Lawan berat pun menghadang Real, Sabtu mendatang (9/5), di mana mereka akan menjamu Valencia.

“Kami bermain dengan intensitas tinggi sehingga bisa meredam agresifitas Real,” kata Massimiliano Allegri, pelatih Juve di situs resmi UEFA.
Juve memainkan pola 4-3-1-2 di babak pertama. Namun, pola itu berubah menjadi 3-5-2 seiring masuknya Andrea Barzagli. Media pun banyak yang menanyakan kepada Allegri, pola mana yang akan dipakai di Santiago Bernabeu pekan depan.

“Kalian terlalu banyak bertanya. Pertandingan (leg pertama) baru saja berakhir. Saya pikir, pertahanan kami cukup bagus. Tak mudah membiarkan pemain sekelas Barzagli di bangku cadangan. Tapi, saya harus membuat pilihan dan dia tampil bagus setelah keluar dari bangku cadangan,” jelasnya.

Allegri juga membuat keputusan berani dengan memainkan Stefano Sturaro ketimbang Roberto Pereyra. Padahal, Sturaro sebelumnya hanya tampil empat menit di Liga Champions.

“Keputusan ini (memainkan Sturaro) karena Pereyra bisa mengubah permainan jika masuk sebagai pengganti. Saya butuh pemain yang bisa membantu pertahanan,” tandasnya. (bas/r10)

Berita Lainnya

Selangkah Lagi Timnas U-19 Ke Piala Dunia

Redaksi Lombok Post

Huswatun Cetak Sejarah, Petinju Putri Pertama RI Raih Medali Asian Games

Redaksi Lombok Post

Zohri : Saya Nggak Percaya Bisa Juara

Prancis Fantastis! Juara Dunia setelah Tumbangkan Kroasia 4-2

Banjir Hadiah Menanti Zohri

Zohri, Sprinter Pertama Indonesia yang Menjadi Juara Dunia

AS Roma Butuh Keajaiban Kedua

Redaksi LombokPost

Chilena Ronaldo Seindah Puisi

Redaksi Lombok Post

NTB Layak Jadi Tuan Rumah PON 2024

Redaksi Lombok Post