Lombok Post
Metropolis

Kos-Kosan Bukan Sekadar Bisnis

Razia-kos

MATARAM a�� Bisnis kos-kosan adalah usaha tengah menjamur di Mataram. Bisnis rumah kos dianggap sangat berpeluang dan memiliki potensi besar meraih keuntungan.

Namun, di balik itu semua, kos-kosan ternyata dianggap oleh pengusaha atau pemiliki kos bukan hanya sekadar bisnis belaka. Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan oleh pengusaha kos agar tidak memberi dampak buruk terhadap lingkungan.

Sambiyo Broto salah seorang pemilik kos menuturkan, bisnis kos sangat rentan memberi pengaruh buruk terhadap lingkungan dan kerap dianggap negatif. Karena tak jarang ada penghuni kos yang melakukan hal tidak pantas.

a�?Untuk membuat penghuni kos nyaman, sebagai pemilik kos sebaiknya jangan cerewet. Namun tetap mengontrol dan memonitor agar tidak meresahkan lingkungan sekitar,a�? terang Broto, sapaan akrabnya.

Pensiunan PNS ini juga menerangkan, usaha kos yang kini ia lakukan bukan sekedar kepentingan bisnis belaka. Pasalnya, dari hasil sewa kos yang didapatkan di Mataram, digunakan untuk membiayai kuliah anaknya di luar daerah.

“Bayar sewa kos yang saya dapatkan, saya pakai buat bayar kos anak di Surabaya. Kebetulan biayanya tidak terlalu jauh berbeda,” ungkapnya.

Broto juga mengungkapkan beberapa persoalan yang kerap dihadapi pemilik kos-kosan. Misalnya saja saat para penghuni kos yang kebanyakan merupakan mahasiswa, tak jarang pacaran di kos-kosan. Selain itu, menurutnya menjaga penghuni kos perempuan lebih ribet ketimbang laki-laki.

“Kalau anak kos cewek sering membuang bekas pembalut ke selokan sehingga membuat saluran tertutup. Kita sudah beritahu beberapa kali, tapi mereka nggak pernah mau dengar. Akhirnya saluran tertutup dan dibongkar,” tuturnya.

Lain halnya dengan Broto Samsudin, salah seorang warga Lombok Barat juga mengungkapkan, peluang bisnis kos-kosan cukup menjanjikan. Beberapa waktu lalu, ia sempat merambah bisnis ini. Ia membeli sebuah lahan di daerah Kekalik Mataram. Lahan itu lengkap dengan rumah kos.

“Itung-itung investasi. Karena kan setiap bulan selalu dapat uang tanpa kita bekerja,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, bisnis atau usaha kos-kosan tidak bisa dilepaskan begitu saja. Harus ada pengawasan dan monitoring dari pemilik kos. Agar para penghuni kos tidak melakukan hal negatif di kos tersebut.
Ia mengatakan saat ini banyak kos-kosan yang terlalu bebas sehingga dimanfaatkan sebagai tempat penggunaan narkoba, mabuk-mabukan atau pun yang lainnya. (ton/r8)

Berita Lainnya

Gerbang Kota Ikut Terseok-Seok!

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Ogah Berniaga di Jalan Niaga

Redaksi LombokPost

Tolong, Jangan Masuk Angin!

Redaksi LombokPost

Volume Monumen Tak Sesuai Kontrak, Rekanan Didenda Rp 1,2 Juta Perhari

Redaksi LombokPost

Baginya, yang Penting Jangan Mengemis!

Redaksi LombokPost

Ibu Kota kok Kotor?

Redaksi LombokPost