Lombok Post
Opini

Pola Berubah, Gaya Masih Sama

Ratusan siswa SMA melakukan corat-coret seragam sekolah seusai menjalanai Ujian Nasional (UN) di jalan Ringrod Medan, Rabu 15/4). Aksi corat-coret sebagai ungkapan kegembiraan para siswa atas berahirnya ujian nasional. FOTO: TRIADI WIBOWO/SUMUT POS--

Ujian Nasional (UN) tahun ini bukan lagi peentu kelulusan siswa SMA sederajat. Siswa tidak perlu lagi menganggap UN sebagai momok. Perubahan pola ini patut disyukuri. Sekolah tiga tahun, tidak lagi ditentukan ujian beberapa jam. Langkah dari Menteri Pendidikan Anies Baswedan patut diapresiasi.

Perubahan pola ini, menuntut siswa sampai kalangan pendidik merubah paradigma. Jangan lagi menganggap UN sakral. Menjadikan UN begitu menakutkan. Siswa dalam tekanan. Para pendidik dalam ketakutan. Untuk siswa tertekan bila nilai jelek dan tidak lulus. Bagi guru, nilai jelek berarti dimarah oleh atasan. Mulai kepala sekolah sampai kepala dinas.

Bisa dimaklumi, perubahan pola perdana, belum membumi. Gaya lama UN masih terbawa. Mulai dari siswa yang membawa contekan, guru menghimpun siswa khusus, dan mark up nilai di sekolah.

Tidak berhenti sampai disana. Pengumuman UN 15 Mei lalu belum berubah. Masih banyak siswa gemar corat-coret seragam. Kok tidak malu!
Siswa SMA yang gemar corat-coret seragam, harusnya berpikir. Kegemberiaan apa hendak dirayakan. Wong sekarang sekolah punya otoritas kuat meluluskan siswa. Menggelikan, yang corat-coret seragam, belum tahu nilai UN. Parah memang.

Banyak kalangan mempertanyakan aksi corat-coret seragam. Disaat siswa SMA membuang seragam masih bagus. Banyak siswa di sekolah-sekolah pelosok di Lombok, sekolah tanpa seragam. Imbauan Dinas Pendidikan masing-masing kabupaten/kota dan pengamanan dari polisi, kurang direspon. Masih banyak pelajar yang wara-wiri di jalan dengan seragam warna-warni.

Sebenarnya, sekolah bisa mengambil alih. Ada beberap sekolah menerapkan sumbangan seragam. Bagis siswa kelas XII, harus memberikan seragam ke sekolah. Bila tidak diberikan, ijazah ditahan. Cara ini, diyakini bisa menekan aksi corat-coret. Gaya lama yang harusnya diretas.

Ironi, pola UN saat ini tidak diikuti dengan perubahan gaya. Para pelajar semestinya memikirkan masa depan lebih panjang. Mempersiapkan diri masuk di dunia kerja atau melanjutkan pendidikan di bangku kuliah.(*)

Berita Lainnya

Pemuda dan Transformasi Masa Depan

Redaksi Lombok Post

Penyaluran DAK Fisik dan Dana Desa Pascagempa Lombok

Redaksi Lombok Post

Kebijakan dan Pengelolaan Dana Desa Melalui KPPN Mataram

NTB Menuju Panggung (Politik) Nasional

Redaksi Lombok Post

TGB dan Masa Depan Indonesia Gemilang

Redaksi Lombok Post

Gerakan Zakat: Antara Pergerkan, Angka, dan Regulasi

Redaksi Lombok Post

DIPLOMASI KEMANUSIAAN LEMBAGA ZAKAT

Redaksi Lombok Post

LEMBAGA ZAKAT: DARI FUNDRAISING KE FRIEND-RAISING

Redaksi Lombok Post

PILKADA ZAMAN NOW

Redaksi Lombok Post