Lombok Post
Headline Opini

Istilah Backpacker Dalam Pariwisata Kita

Backpacker keliling lombok

Oleh :
Irma Agryanti
(Pemerhati Bahasa, Fungsional pada Disbudpar Prov. NTB)

ISTILAH backpacker timbul bersamaan dengan tren generasi muda yang melakukan perjalanan mandiri ke berbagai wilayah. Istilah ini acapkali dipakai dalam ranah pariwisata. Meski terdengar umum, tetapi sampai sekarang belum begitu jelas bagaimana sebaiknya istilah ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Sudah mafhumnya, para pelaku pariwisata terbiasa memakai istilah-istilah bahasa inggris yang sekaligus menghubungkan mereka dengan dunia internasional. Sekalipun jelas terjemahannya dalam bahasa indonesia, istilah-istilah pariwisata cenderung tetap dipertahankan dalam bahasa inggris.

Backpacker sendiri dalam kepariwisataan memiliki pengertian orang yang melakukan perjalanan jauh dari satu kota ke kota lain dengan biaya yang ditekan seiirit mungkin. Mereka adalah orang-orang yang paham benar cara mengatur pengeluaran sehingga biaya yang mereka keluarkan selama perjalanan benar-benar digunakan untuk hal yang memang diinginkan. Lebih dalam lagi mereka tidak hanya sekedar melakukan perjalanan tetapi aktif bergaul dengan masyarakat dan mencoba memahami budaya setempat. Masalahnya, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kita tak mudah mendapatkan terjemahan yang tepat dengan sudut pandang kepariwisataan tadi. Secara etimologi, backpacker terdiri dari dua akar kata Back dan Pack. Menurut Consice Oxford Dictionary kata Back yang berasal dari bahasa Jerman Baec berarti Belakang dan Pack yang berasal dari kata benda bahasa Jerman Pak serta kata kerja bahasa Jerman Pakken berarti Paket. Jika keduanya diindonesiakan begitu saja akan menjadi a�?paket (yang digendong) di belakanga�?.

Sementara itu, di Jerman sendiri Backpack lebih dikenal dengan Rucksack. Ruck dari kata Der Rucken yang berarti bagian tubuh sedangkan Sack yang berarti tas. Dan jika diindonesiakan begitu saja akan menjadi a�?tas pada (bagian tubuh) punggung atau bahua�?.

Meski dalam konteks ini terjemahan Backpacker sebagai a�?orang dengan paket (yang digendong) di belakanga�? lebih janggal dibandingkan Rucksacktourist yang berarti a�?wisatawan dengan tas pada (bagian tubuh) punggung atau bahua�?, tetapi, Wikipedia dalam versi bahasa Indonesia mengartikan istilah inggris ini dengan bentuk lain yaitu Wisata Beransel. Artinya, dilakukan teknik terjemahan yang tidak begitu saja diterjemahkan seperti yang terjadi pada a�?orang dengan paket (yang digendong) dibelakanga�? maupun a�?wisatawan dengan tas pada punggung atau bahua�?. Di samping Wisata Beransel sendiri bermakna perjalanan ke suatu tempat tanpa membawa barang-barang yang memberatkan. Adapun barang bawaan hanya berupa tas yang digendong, pakaian secukupnya dan perlengkapan lain yang dianggap perlu.

Lantas apakah terjemahan Wisata Beransel ini sudah tepat? Barangkali belum bisa dikatakan tepat. Artinya, ketiga terjemahan tadi belum juga relevan dengan maksud konseptualnya yang mana menjadi sedikit aneh karena setiap orang yang berpergian dengan menggunakan tas dipunggung bisa menganggap dirinya sebagai seorang Backpacker. Sebab menurut Tjiptadi, (1984) makna dengan benda sangat bertautan dan menyatu. Jika satu kata tidak bisa dihubungkan dengan bendanya, peristiwa atau keadaan tertentu maka kita tidak bisa memperoleh makna dari kata itu.

Bagaimanapun, bahasa Indonesia kita yang luas ini tentu masih memiliki kata-kata lain yang lebih cocok. Kita hanya perlu mencari tandingannya agar tak salah kaprah. (*)

Berita Lainnya

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Masih Banyak Warga Loteng Buang Air Besar Sembarangan

Redaksi LombokPost

Pemkab dan ITDC Raih Penghargaan ISTA

Redaksi LombokPost

Ahli: Penangkapan Muhir Bukan OTT

Redaksi LombokPost

Pola Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma’ruf Serupa

Redaksi LombokPost

Kades Jangan Alergi Diperiksa!

Redaksi LombokPost

Surya Paloh Road Show ke Lombok

Redaksi LombokPost