Lombok Post
Giri Menang Headline

Bisnis Birahi yang Tiada Mati

RAZIA: Beberapa Patner Song (PS) yang menemani para pengunjung kafe menutup wajahnya ketika aparat melakukan pemeriksaan barang bawaannya, belum lama ini.

Denyut penjualan jasa kupu-kupu malam tak pernah mati. Penikmatnya dari banyak kalangan. Bahkan, tak jarang mereka yang jadi panutan masyarakat ikut bermain dengan penyedia cinta satu malam itu.

*********

GEMERLAP lampu club, mewarnai malam yang dingin. Seorang perempuan berpakain seksi duduk di pangkuan seorang pria.A�Dentuman suara musik mengiringi kemesraan pasangan yang bukan suami-istri itu. Di tengah hangatnya lagu berirama dangdut, pasangan itu terlihat kian mesra.

Di depannya terdapat botol minuman berwarna hijau. Gelas yang tersedia di meja telah dipenuhi minuman berwarna cokelat bening.

Sesekali, perempuan seksi itu menenggak minuman tersebut. Begitu pula dengan pria hidung belang yang terlihat sangat menikmati larutnya malam.

Suasana itu tergambar di sebuah club malam di kawasan wisata Senggigi. Perempuan seksi yang mendampingi lelaki hidung belang itu biasa dipanggil PS (partner song).

Mereka bekerja malam hari. Terkadang mereka melayani tamu hanya sekadar menemani minum. Ada pula yang menemani bernyanyi. Kala itu, malam sudah larut. Perempuan itu tampak mabuk berat. Tapi, dia mampu mengontrol diri, seakan-akan dirinya terlihat sadar.

Koran ini mencoba mendekatinya. Ia pun menyambut dengan ramah. Awalnya, perempuan yang biasa dipanggil Rin ini cuek. Ketika diajak bicara, ia pun setengah hati. a�?Mau cas saya Mas,a�? katanya menjawab koran ini.

Ia pun menjelaskan seputar harga sekadar menemani tamu bernyanyi. Biasanya, ia dihitung per jam. Satu jam dibanderol dengan harga Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu. a�?Itu untuk temani bernyanyi saja,a�? aku dia.

Ketika koran ini mengaku wartawan, ia langsung kaget. Bahkan, dia sempat beranjak dari tempat duduk. Ia pun bertanya maksud dari koran ini berbincang dengannya.

Setelah dijelaskan, ia pun bersedia diwawancari. Tapi, syaratnya jangan di tempat kerja (club). Dia membuat janji bertemu di kos-kosannya yang berlokasi di Desa Batulayar, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat (Lobar).

a�?Datang siang saja Mas,a�? janjinya sambil memberikan nomor kontak.

Keesokan harinya, Rin mengirim pesan singkat dan meminta meluncur ke kosnya. Sebab, dirinya harus ke club sore harinya. Kos-kosan tempat tinggal Rin terbilang sederhana. Di dalamnya hanya terdapat tempat tidur dan kulkas mini. Ia menyewa Rp 700 ribu per bulan.

Perempuan 23 tahun ini menceritakan awal muasal dirinya masuk dunia malam. Tahun 2011, dirinya pernah menikah dengan lelaki idamannya.

Pernikahannya itu tidak bertahan lama. Dua tahun menikah, dirinya bercerai dengan sang suami. Saat itu, mereka memiliki satu orang anak lelaki. Kini, anaknya itu dibawa suaminya. a�?Saya sudah nikah dan punya anak satu,a�? akunya.

Usai bercerai, Rin menjalani kesehariannya dengan bekerja di sebuah perusahaan. Kebetulan, dia ditugaskan di bagian promosi barang.

Promosi barang itu menuntutnya harus jauh dengan orang tua. Karena, dia kerap dikirim keluar daerah bersama rekan kerjanya. a�?Saya bekerja di perusahaan rokok. Jadi SPG,a�? aku dia.

Nah, pekerjaannya itu mengharuskannya memakai pakaian seksi. Selain itu, dituntut pandai-pandai merayu untuk meyakinkan konsumen. a�?Kita seperti penggoda kesannya,a�? ujar dia.

Ia menjalani pekerjaan itu hanya enam bulan. Rin mulai melirik pekerjaan yang lain. Kali ini, ada tawaran untuk bekerja menjadi PS.

Rin tidak menolak, meski harus datang ke Lombok. Tawaran gaji yang besar disertai fasilitas membuatnya tergoda untuk datang. a�?Saya mulai ke Lombok awal 2014,a�? akunya.

Ia memulai pekerjaan menjadi seorang PS. Ia kerap melayani tamu-tamu berkelas. Ada oknum pejabat, ada juga oknum pengusaha. Tidak sekadar menemani bernyanyi di kafe, namun mengaku kerap dibooking.

Rin bercerita, dirinya kali pertama diajak seorang oknum pejabat. Kala itu, dirinya hanya diminta menemani bernyanyi di room. Tapi, lama-lama kelamaan, oknum pejabat itu meminta melayani nafsu birahinya. a�?Saya awalnya takut, karena baru di sini (Lombok),a�? tuturnya.

Oknum pejabat itu, sambungnya, ternyata pandai merayu. Ia pun dibuat terpesona. Apalagi dia menjamin keamanan alias tidak akan digerebek aparat. Rin pun mengamini keinginan oknum pejabat tersebut. Syaratnya, dia harus bayar Rp 1 juta. a�?Saya minta Rp 1 juta, dia langsung mau,a�? akunya.

Rin dibawa ke sebuah penginapan di kawasan Senggigi. Ia mengaku, untuk Rp 1 juta, dirinya hanya melayani satu ronde. Jika ingin long time, sambung dia, harus bayar lebih.

Biasanya, Rin memasang harga hingga Rp 2,5 juta sampai Rp 3 juta untuk semalam. a�?Short time, saya pasang tarif Rp 1 juta saja,a�? sebutnya.

Tidak hanya oknum pejabat, dia juga kerap mendapat panggilan dari oknum pengusaha. Namun, dirinya melayani panggilan itu di luar jam kerja. a�?Kalau lagi kerja ndak bisa. Biasanya saya bisa keluar pas libur,a�? aku dia.

Untuk mendapatkan jasanya, aku dia, dirinya tidak mencari pelanggan, apalagi sampai harus membuka jasa lewat online. Terkadang pelanggannya datang sendiri, ada juga yang diberikan mucikarinya.

a�?Kalau pelanggan dari Mami (sebutan untuk mucikari), kami bagi dua. Saya Rp 600 ribu, ke maminya Rp 400 ribu,a�? katanya.

Ia menjalani pekerjaan haram ini tidak terlepas dari desakan ekonomi. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia mengandalkan pendapatan dari gaji PS dan penghasilan dari menjual jasa.

a�?Di sini saya haru bayar kos dan kredit motor. Kalau ndak sampingan (jual jasa), susah tutupi kebutuhan ini,a�? akunya sesekali mengisap rokok.
Disamping kebutuhan itu, biaya perawatan juga membuat dirinya pusing. Rin mengaku, dirinya harus tetap tampil menarik. Cara itu untuk menggaet perhatian pelanggan.

a�?Kita harus dandan Mas. Beli kosmetik, smoothing rambut, dan lainnya. Kalau ndak rawat begitu, ndak ada yang lirik,a�? cetusnya sambil tertawa.

Berbeda dengan Rin. Vina kolega Rin, punya cerita lain. Jika Rin banyak mendapat pelanggan di kafA�-kafA�, Vina malah mendapat pelanggan dari temannya.

a�?Saya ndak bisa minum dan rokok. Makanya jarang ke kafe,a�? aku dia.

Vina ini tinggal bersama rekannya, yang biasa menghabiskan malam di kafe. Ia hanya sesekali ke kafe, itupun jika ada yang mengajak.

Untuk mendapatkan pelanggannya, ia biasanya dihubungi mami. Terkadang, dia juga dapat pelanggan sendiri. a�?Kalau ada yang mau booking, baru saya layani. Saya juga kan kerja di sini (Lombok),a�? akunya.

Pelanggan yang berasal dari mami, tidak semua bayaran masuk ke kantongnya. Ia harus membagi dengan maminya. Jika dibayar Rp 800 ribu, uang yang harus diserahkan kepada mami Rp 200 ribu. a�?Sisanya saya. Kalau dapat sendiri pelanggannya, terima utuh,a�? katanya.

Ia sendiri tidak memasang tarif maksimal. Paling rendah, tarif yang dipasang untuk sekali main hanya Rp 500 ribu. a�?Kalau di bawah itu, tidak mau saya,a�? jelasnya dia.

Vina tidak memilih tempat untuk memadu cinta. Ia mengaku, yang penting aman. Bisa di kos, bisa juga di hotel. Asalkan, dirinya tidak kena tangkap. a�?Kos boleh, hotel juga boleh,a�? akunya.

Seperti alasan kebanyakan perempuan, Vina memilih jalan ini untuk memenuhi kebutuhan sehari. Ia yang bekerja di sebuah perusahaan hanya menerima gaji Rp 1,5 juta. a�?Hidup di Lombok dengan gaji sebesar itu, masih kurang. Apalagi saya harus kirim untuk anak saya juga,a�? bebernya.
Menjadi kupu-kupu malam, akunya, tidak seenak yang dibayangkan. Sakitnya, sambung dia, ketika kena razia. Ia mengaku, pernah kedapatan sedang berduaan di sebuah hotel. Kala itu, aparat gabungan polisi dan Pol PP menggelar razia pasangan mesum. a�?Saya diangkut. Ada juga wartawan yang foto-foto. Di situ kami malu,a�? katanya.

Disinggung mengenai lelaki yang biasa menidurinya, Vina blak-blakan. Ia mengungkapkan, dari oknum pejabat hingga oknum pengajar pernah dilayaninya. a�?Ada juga yang mengaku oknum dosen. Dia ngajar di sebuah kampus di Mataram,a�? aku perempuan yang berasal dari Pulau Sumbawa ini.

Para pekerja seks di Lombok ini mempunyai latar belakang yang beragam. Pengakuan mengejutkan datang dari RK (Inisial), 22 tahun dan BW, 26 tahun. Keduanya mengaku Mantan pegawai bank di Jakarta.

BW mengaku, dirinya sudah lama bekerja di bank. Tapi, penghasilan dianggap kecil, dirinya memilih banting setir. Ia pun datang ke Lombok untuk menjajakkan diri.

Seperti wanita malam lainnya, ia kerap menerima pesan melalui mami dan rekannya. Ada pula yang didapati dari room. a�?Saya pegawai bank dulunya. Sekarang jadi PSK di Lombok,a�? katanya.

Ia mengaku, baru enam bulan datang ke Lombok. Saat ini, dirinya bekerja di sebuh tempat hiburan malam di Senggigi. a�?Saya kos di sini. Kalau dihitung, lebih besar pendapatan di sini,a�? akunya.

BW dan RK ini pernah diciduk petugas BNN NTB, Desember tahun lalu. Mereka kedapatan berada dalam room bersama pengunjung kafe. Keduanya diduga memakai narkoba dan sempat diamakan ke BNN. (jlo/r12)

Berita Lainnya

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Jaksa Kumpulkan 96 Kades Terpilih

Redaksi LombokPost