Lombok Post
Opini

Waspada Lima Untuk Indonesia

Opini LombokPost
Opini LombokPost

* Oleh: Rozali Jauhari Alfanani, S.Pd (Alumni Prog. Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah FKIP Univ. Mataram)

BAGI Anda yang sekarang sedang menjadi warga negara Republik Indonesia atau warga negara asing yang sedang menikmati indahnya Indonesia, sedang berbisnis, ataupun sedang beraktivitas lain di negeri surga ini maka tidak ada salahnya membaca, memaknai positif, dan mewaspadai beberapa hal yang akan diuraikan dalam tulisan ini. Tulisan ini tidak bermaksud merendahkan atau apa, tetapi hanya sebagai acuan kita untuk berkehidupan dengan baik di negeri yang kita cintai ini.

Fakta-fakta tersebut tentunya menimbulkan dampak yang sangat negatif, baik psikologi, ekonomi, sosial, budaya, dan keagamaan sehingga wajar pada judul tulisan terdapat kata “waspada”. Kemudian kata “lima” tersebut di atas menunjukan jumlah hal yang dimaksud untuk diwaspadai oleh kita dalam kehidupan sehari-hari.

Langsung saja, lima hal yang penulis maksud untuk perlu diwaspadai adalah 1) Korupsi, 2) Narkoba, 3) Terorisme, 4) Prostitusi, dan 5) Pemalsuan. Kelima hal yang disebutkan tersebut adalah hal-hal yang tengah menggerogoti dan merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara bagi masyarakat bangsa ini. Oleh karena itulah mengapa lima hal tersebut masuk ke dalam jajaran kewaspadaan tingkat tinggi bagi rakyat Indonesia.

Pertama, korupsi merupakan penyakit bangsa ini yang sejak dahulu memang telah banyak merusak kaidah-kaidah berbangsa dan bernegara. Akibat dari perilaku korupsi tentunya kita semua tahu bahwa sangatlah tidak mengenakkan. Perilaku korupsi telah banyak mempengaruhi sistem kehidupan bernegara di republik ini. Hal tersebut dikarenakan perilaku korupsi (memakan uang rakyat atau menggunakan sesuatu yang bukan haknya) semakin merebak di mana-mana. Korupsi pun telah dilakukan oleh banyak pihak, mulai dari pejabat legislatif (anggota DPRD dan DPR), eksekutif (Gubernur, Bupati, dan Walikota), bahkan yudikatif (Hakim dan jaksa bahkan mantan ketua MK) yang notabenenya adalah para pihak yang menjadi penanggungjawab faktor kesejahteraan rakyat dan keadilan hukum. Ini miris dan menyakitkan di kala suasana kehidupan rakyat yang semakin terhimpit, malah pemimpin serta para wakilnya melakukan korupsi. Semoga usaha pemberantasan korupsi yang telah dan selalu dilakukan oleh KPK (walaupun sekarang sedang diserang dengan berbagai tuntutan praperadilan oleh para koruptor), kepolisian dan kejaksaan bisa terus membuahkan hasil, hingga pada akhirnya penyakit ini benar-benar hilang dari kehidupan bangsa.

Kedua, narkoba adalah narkotika dan obat-obatan terlarang yang sekarang juga telah menjadi bagian dari kejahatan luar biasa di negeri ini. Sesuatu yang bernama narkoba ini telah banyak pula menimbulkan korban jiwa yang tidak tanggung-tanggung mulai rakyat biasa hingga para publik figur. Bahkan saat ini, data menunjukan bahwa narkoba telah menjangkiti usia sekolah dan anak-anak. Padahal kita semua tahu bahwa dampak yang diakibatkan dari penyalahgunaan narkoba tersebut sangatlah fatal. Mulai dari dampak pskologis, sosial, dan fisik yang tentunya akan menghambat bahkan merusak masa depan penggunanya. Badan Narkotika Nasional (BNN) telah mengungkapkan bahwa setiap hari terjadi kasus kematian hampir 33 sampai 50 orang warga bangsa ini hanya karena narkoba tersebut. Hal ini pula yang mendorong pemerintah mencanangkan Indonesia darurat narkoba dan melaksanakan program rehabilitasi hampir 100 ribu pengguna narkoba seluruh Indonesia tahun ini. Bukan hanya para pengguna, pembuat dan pengedar barang haram yang beragam jenis ini pun mendapat perhatian khusus pemerintah dan pihak terkait. Bentuk perhatian khusus tersebut ialah diterapkannya hukuman mati bagi pembuat dan pengedar narkoba di negeri ini yang walaupun masih selalu saja ada kontroversi dan mendapat tekanan dari pihak luar. Akan tetapi, salut untuk pemerintah yang tetap melanjutkan proses hukuman mati tersebut yang telah dua kali terlaksana yang diharapkan dapat menjadi hukuman setimpal dan menimbulkan efek jera kedepannya. Bagi para penentang hukuman mati tolong berpikir ulang untuk menentangnya karena narkoba merupakan musuh bersama yang sangat berbahaya. Ada hukuman mati saja masih berani mengurus narkoba apalagi jika tidak ada. Anda sekarang menentang karena Anda tidak berposisi sebagai korban atau merasa peduli dengan korbannya, tetapi jika Anda atau keluarga Anda sudah menjadi korban narkoba maka sangat diyakini Anda akan “ngotot” agar mereka dihukum mati. Semoga kedepannya tidak ada lagi hal-hal berupa penentangan atas nama apapun untuk hukuman terhadap penjahat narkoba tersebut.

Ketiga, terorisme mungkin sempat menjadi “trend” yang membahayakan di negeri ini. Berbagai kejadian yang berhubungan dengan tindakan terorisme (khususnya pengeboman) yang mengatasnamakan agama dan jihad beberapa kali terjadi di negeri ini. Sasarannya pun mulai dari pihak asing seperti Amerika, Inggris, dan Australia yang berada di Indonesia, kemudian beralih ke pemerintah negeri ini yang dianggap sebagai sekutu asing, hingga aparat keamanan (Polri) yang dicap sebagai musuh karena mereka menganggap pihak keamanan menghalangi perjuangan jihad mereka yang salah kaprah tersebut. Hal ini terjadi karena banyak hal dan salah satunya ialah ekonomi. Keadaan ekonomi membuat mereka akhirnya menjadi orang-orang yang tidak mampu berpikir rasional dan realistis tentang tindakan dan dampak yang diakibatkannya. Selain itu, kelakukan mereka yang selalu mengatasnamakan agama sesungguhnya malah mempermalukan agama diakibatkan ulah mereka tersebut sangat bertentangan dengan ajaran agama yang benar. Itu semua terjadi juga karena pemahaman mereka terhadap agama, khususnya jihad sangatlah minim dan terkesan terlalu keras sehingga menimbulkan doktrin-doktrin garis keras atas nama jihad yang berujung pada terorisme. Bom Bali I dan II, bom kuningan, bom JW Marriot, bom Ritz Carlton, dan sebagainya telah menjadi kepingan sejarah kelam aksi-aksi terorisme di negeri ini. Oleh sebab itu, masa kini mari gunakan untuk hidup yang lebih baik dan bermanfaat. Pahami agama dengan baik, mendalam, dan mengikuti Al-Quran dan As-Sunnah yang rahmatan lil alamin agar tidak terjadi lagi penyimpangan pemahaman yang fatal dan malah merugikan serta memalukan tersebut.

Keempat, prostitusi adalah kejahatan yang sedang “naik daun” saat ini. mengapa begitu? Karena saat ini hampir semua channel televisi, media cetak, maupun media online banyak memberitakan hal-hal yang berkaitan dengan prostitusi tersebut. Hal tersebut bukan karena prostitusi merupakan sesuatu yang digemari karena banyak dampak positifnya, akan tetapi karena prostitusi tengah menjadi sorotan masyarakat hingga wakil presiden negeri ini. Sorotan yang dimaksud adalah karena prostitusi muncul ke permukaan sebagai suatu hal yang menakutkan disebabkan oleh maraknya kasus prostitusi yang menjadi lahan bisnis bagi sebagian pihak. Tentunya bisnis seperti ini adalah bisnis haram dan menimbulkan efek negatif di kalangan masyarakat. Bisnis prostitusi yang semula dilakukan di lokalisasi-lokalisasi dan tempat hiburan, akibat gencarnya razia dan penutupan lokalisasi oleh pemerintah daerah maka “bisnis setan” ini mulai merambah di jejaring sosial atau istilah lainnya ialah prostitusi online. Bisnis “esek-esek” ini pun tidak menjadi hal yang tabu lagi karena dilakukan oleh pihak-pihak mulai remaja sekolahan, mahasiswa, wanita penghibur, hingga baru-baru ini fakta menyebutkan keterlibatan beberapa artis papan atas (khususnya model majalah dewasa) dalam bisnis kesenangan sesaat tersebut. Bisnis yang beromzet ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah ini pun memiliki sistem pengelolaan yang rapi. Manajemen bisnis dipegang dan diatur oleh seorang bergelar mucikari yang “menjajakana�? anak asuhnya pada pihak-pihak pemburu kenikmatan duniawi tersebut. Ini sudah sangat meresahkan dan mengganggu tatanan kehidupan masyarakat bangsa ini yang bercirikan ketimuran dan pemilik ummat muslim terbesar di dunia. Berbagai hal memang sudah dilakukan dan harus terus digalakkan agar kasus-kasus kejahatan seperti prostitusi ini tidak menjangkiti siswa, anak-anak, hingga seluruh lapisan masyarakat negeri ini. Salah satunya adalah berikan pendidikan keagamaan yang kuat sebagai bekal menghadapi kerasnya arus globalisasi dan kemajuan iptek yang sewaktu-waktu bisa menenggelamkan kehidupan kita jika mengalami salah jalan akibat hal-hal buruk seperti tergiur dengan prostitusi manual maupun online.

Kelima, pemalsuan pun kini ikut-ikutan menghiasi pojok-pojok berita kriminal di negeri ini. Semua hal hampir tidak asli lagi di negara ini yang tentunya semakin menambah keresahan kita dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Uang palsu, sudah sejak lama menjadi momok yang banyak merugikan masyarakat. Kini ada lagi berbagai jenis makanan palsu mulai dari telur palsu, susu palsu, hingga makanan pokok kita yaitu beras pun menjadi palsu. Tidak berhenti di situ saja, kementerian riset dan teknologi-pendidikan tinggi (kemenristek-dikti) melalui menterinya pun telah mengumumkan bahwa banyaknya beredar ijazah dan perguruan-perguruan tinggi palsu di tengah-tengah masyarakat. Hal ini pun menjadi ironi di tengah upaya mengejar ketertinggalan dunia pendidikan dengan negara-negara lain malah direcoki dengan kehadiran ijazah-ijazah palsu yang sejatinya menjadi suatu tanda dari hasil belajar di setiap jenjang pendidikan. Terakhir terdengar pula ditangkapnnya pembuat buku nikah dan akta cerai palsu di daerah ibukota yang semakin menambah kepalsuan di negeri yang kita cintai ini. Lantas, apakah kita mesti menyalahkan pihak yang di atas? atau kita pasrah saja selaku masyarakat bawah?. Tentu tidak, pemalsuan dalam bentuk apapun harus kita lawan bersama karena sangat mengganggu dan merusak segenap hal dalam kehidupan kita saat ini dan kedepannya. Berlakulah jujur dan utamakan keaslian maka Anda akan aman, sukses, dan mendapatkan jalan ketenangan dalam berkehidupan. Hanya orang-orang yang tidak berkualitas yang senantiasa menginginkan bahkan menggunakan kepalsuan-kepalsuan dalam hidupnya.

Lima hal di atas hanya sebagian kecil fenomena yang sedang rentan terjadi di negeri ini. Lima hal tersebut pun hanya diuraikan sekedarnya saja karena sebagai gambaran kondisi bangsa ini yang tentunya kita sebagai pelaku kehidupan negeri ini harus segera “move on” dari kelima hal dan hal-hal lain yang dapat mengganggu serta merusak tatanan kehidupan bangsa ini. Jauhi diri dari perilaku korupsi, hindari diri dari penyalahgunaan narkoba, kuatkan diri dari doktrin terorisme, selamatkan diri dari kejahatan prostitusi, dan kualitaskan diri dari hal-hal yang berbau kepalsuan. “Jadilah legenda untuk Indonesia (potongan lirik lagu Superman Is Dead) dan tentunya legenda yang positif dan bisa dibanggakan.(*)

Berita Lainnya

Pemuda dan Transformasi Masa Depan

Redaksi Lombok Post

Penyaluran DAK Fisik dan Dana Desa Pascagempa Lombok

Redaksi Lombok Post

Kebijakan dan Pengelolaan Dana Desa Melalui KPPN Mataram

NTB Menuju Panggung (Politik) Nasional

Redaksi Lombok Post

TGB dan Masa Depan Indonesia Gemilang

Redaksi Lombok Post

Gerakan Zakat: Antara Pergerkan, Angka, dan Regulasi

Redaksi Lombok Post

DIPLOMASI KEMANUSIAAN LEMBAGA ZAKAT

Redaksi Lombok Post

LEMBAGA ZAKAT: DARI FUNDRAISING KE FRIEND-RAISING

Redaksi Lombok Post

PILKADA ZAMAN NOW

Redaksi Lombok Post