Lombok Post
Metropolis

Indonesia Bakal Jadi Kiblat Mode Dunia

KIBLAT FASHION: Menteri Perindustrian Saleh Husin meninjau industri kerajinan tenun di Desa Sukarara, Lombok Tengah, kemarin. Menteri Husin ingin melihat dari dekat, denyut industri kerajinan di NTB, mengingat daerah ini akan menjadi salah satu penopang mimpi Indonesia sebagai kiblat fashion dunia.

* Kain Tenun Jadi Andalan Utama

MATARAM – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) kini tengah menyiapkan peta jalan Indonesia sebagai kiblat fashion dunia. Kemenperin memulainya dengan penguatan industri kerajinan tenun di seluruh negeri. Sebab, kain tenun, akan menjadi bahan ciri khas utama fashion Indonesia, lantaran keragaman dan kekayaan corak yang tiada banding.

a�?Peta jalan untuk menjadi kiblat fashion dunia sedang kita siapkan. Kita mulai pembenahan di sektor hulu, untuk penyiapan bahan baku,a�? kata Menteri Perindustrian Saleh Husin, dalam kunjungan kerja ke sentra industri kerajinan tenun NTB di Desa Sukarara, Lombok Tengah, Jumat (5/6).

Dia mengatakan, tenun akan menjadi salah satu andalan Indonesia untuk menjadi pusat mode dunia. Dalam sejumlah pentas mode bergengsi dunia yang diikuti para perancang Indonesia, kain tenun memang sudah mulai mendapat sambutan luar biasa dunia fashion.

Dulu, kata Husin, kain tenun tidak dilirik para perancang ternama. Lantaran bahan alami yang digunakan dalam pewarnaan benang kain, menyebabkan coraknya kalah mengilap dibanding benang produksi pabrik.

Namun, kini arah mode dunia justru sudah mulai meninggalkan benang produksi pabrik. Dan malah kembali ke bahan-bahan alami nan natural.

a�?Jelas itu menjadi peluang kita,a�? kata Menperin.

Ditegaskannya, pengembangan industri kerajinan tenun, kendati berskala kecil, tak bisa dipandang remeh. Terbukti, industri ini telah mampu bertahan dari terjangan krisis ekonomi yang hebat sekalipun.

a�?Itu sebabnya, kita dorong industri ini menjadi semakin kuat,a�? tandasnya.

Secara umum, sumbangsih sektor industri baik kecil maupun skala besar, saat ini mampu menyumbang 24 persen dari total produk domestik bruto Indonesia.

Kemenperin memberi jalan pada para perajin untuk meningkatkan kualitas produk kain tenun mereka. Yang berarti pula, dengan meningkatkan kualitas bahan baku. Apa yang dibutuhkan para perajin, kata Husin, akan difasilitasi pemerintah. Termasuk dari sisi teknologi dan peralatan.

a�?Kita mendorong mereka untuk terus menggunakan bahan-bahan alami. Tapi, ruang meningkatkan kualitas bahan-bahan alami itu yang akan kita intervensi,a�? tandasnya.

Langkah pihaknya yang menyambangi para perajin, kata Menperin, merupakan bagian dari upaya menyerap apa yang dibutuhkan mereka. Mengingat, dari seluruh sentra industri tenun di Indonesia, tidak memiliki masalah seragam. Sehingga, tidak melulu soal ketersediaan peralatan dan teknologi.

Yang pasti, kata dia, kain tenun Indonesia harus masuk pasar global dalam lima tahun mendatang. Itu sebabnya, Kementerian Perindustrian juga akan terlibat dalam upaya menciptakan branding kain tenun Indonesia secara masif.

a�?Kita akan sangat unggul. Karena setiap daerah akan tetap mempertahankan corak khas. Itu menjadi kekayaan yang tak terkira,a�? tandas Menteri Husin.

Sementara, Sekretaris Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah Kemenperin, Busharmaidi mengatakan, momentum menjadikan kain tenun Indonesia masuk pasar global saat ini sangat tepat, menyusul pertumbuhan kelas menengah Indonesia yang kian besar.

a�?Saat ini jumlah kelas menengah di Indonesia, sudah melebihi jumlah seluruh penduduk Malaysia,a�? kata dia. Tingginya kelas menengah, secara tidak langsung menjadikan ekonomi kian bergairah lantaran daya beli meningkat.

Berkaca pada tahun lalu, total nilai ekspor Indonesia kata Busharmaidi, mencapai 20 juta Dollar AS. Dan sebanyak sepuluh persen di antaranya disumbangkan oleh sektor tekstil, termasuk kain tenun di dalamnya.

Saat ini bahan-bahan kain tenun sudah menjadi yang dilirik. Rupanya, kain tenun yang memang selalu lebih tebal dibanding kain produksi pabrik, menjadi sangat berguna saat musim dingin di Eropa atau di Amerika.

Untuk meningkatkan kualitas bahan baku, saat ini pihaknya kata Busharmaidi, telah menggelar secara rutin tiap tahun, Festival Serat Alam. Festival ini menjadi panggung munculnya serat-serat alam unggulan yang dimiliki Indonesia. Sehingga, serat-serat alam unggul itu akan menjadi salah satu bahan berkualitas.

Secara umum, kendala utama yang dihadapi kata dia adalah soal ketersediaan bahan baku. Kain dan benang memang sudah mampu diproduksi di Indonesia. Namun, bahan-bahannya tetap diimpor.

a�?Itu sebabnya, kita akan kembali menggalakkan menanam kapas. Termasuk penggunaan serat lain, semisal serat nanas dan serat lainnya,a�? tandasnya. (kus/r7)

Berita Lainnya

Kekayaan Tersembunyi Pantai Penghulu Agung Ampenan

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Jalan di Tempat

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost