Lombok Post
NASIONAL

Payah ! Rupiah Loyo Hingga Akhir Tahun

ilustrasi uang/foto:jpnn.com

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) semakin tertekan. Merujuk data Bloomberg, kurs rupiah kemarin bertengger di posisi Rp 13.291 per USD. Angka tersebut turun tipis dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 13.281 per USD. Sedangkan dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), kurs rupiah berakhir di level Rp 13.288 dibandingkan sehari sebelumnya Rp 13.243 per USD.

Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah menilai, kurs rupiah yang sudah setara saat krisis moneter 1998 itu mayoritas disebabkan sentimen eksternal.

“Kita selalu pantau nilai tukar rupiah dari hari ke hari, dari waktu ke waktu. Memang beberapa hari belakangan sentimen agak memburuk karena pengaruh dari pernyataan Bank Sentral AS (The Fed) dan negosiasi yang tidak begitu menggembirakan soal utang Yunani,” ujarnya di Jakarta,A�Jumat (5/6).

Hal tersebut, lanjut dia, semakin diperparah kondisi akhir Mei lalu di mana kebutuhan valas melonjak untuk pembayaran utang luar negeri. Sedangkan kondisi global saat ini masih terkait isu-isu tentang kemungkinan The Fed menaikkan suku bunganya.

“Kalau dilihat, faktor-faktor fundamental ekonomi AS terus menunjukkan perbaikan. Dan yang agak kita pantau terus juga ada kecenderungan tingkat upah tenaga kerja AS sudah mulai naik, kenaikan kali ini lebih cepat daripada tahun lalu,” katanya.

Halim mengungkapkan bahwa tren yang terjadi biasanya saat upah sudah naik maka inflasi di AS juga cenderung naik. Apabila inflasi naik, besar kemungkinan The Fed akan menaikkan suku bunganya.

Sementara itu, BI mencatat penurunan posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia sekitar USD 100 juta. Posisi cadev akhir Mei 2015 tercatat sebesar USD 110,8 miliar. Posisi tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan dengan akhir April 2015 sebesar USD 110,9. Salah satu penyebab penurunan tersebut yakni upaya BI untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah yang melemah.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Tirta Segara mengatakan, perkembangan posisi cadev dipengaruhi oleh kenaikan kebutuhan devisa.

“Antara lain untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah. Tak hanya itu, penurunan juga disebabkan oleh penggunaan devisa dalam rangka stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya,” tuturnya.

Meski demikian, lanjutnya, penerimaan devisa dari penerbitan sukuk global pemerintah mampu menahan penurunan cadev lebih lanjut. Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa per akhir Mei 2015 masih cukup membiayai 7,1 bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.”

“BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan,” tambahnya.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listyanto mengungkapkan bahwa penurunan cadev tersebut yang diakibatkan oleh intervensi yang dilakukan BI sepanjang bulan Mei masih bersifat terbatas.

“Jika dibandingkan nilai rupiah di bulan April lalu trennya menguat, sementara sepanjang Mei trennya melemah. Sangat mungkin BI melakukan stabilisasi secara terbatas sepanjang Mei. Stabilisasi tersebut akhirnya terefleksikan dari cadev yang sedikit menurun. Strategi Intervensi yang terbatas tersebut rupanya berlanjut di Juni dimana dalamA� seminggu ini tren pelemahan rupiah kembali berlanjut,” ujarnya kepada JPNN.

Dia mengungkapkan bahwa BI perlu mencermati risiko pelemahan rupiah tersebut, terutama dampaknya bagi pergerakan inflasi.

“Sebab, menurut BI juga, setiap 1 persen depresiasi dapat menyumbang inflasi sebesar 0,07 persen,” tambahnya.

Eko memprediksi bahwa tren pelemahan tersebut akan terjadi hingga akhir tahun ini. Pasalnya, pelemahan juga akan terus terjadi selama ketidakpastian eksternal soal rencana kenaikan suku bunga The Fed belum diketok palu.

“Saya rasa tren rupiah melemah akan berlanjut hingga akhir tahun. Terlebih lagi jika pertumbuhan ekonomi menuju realisasi yg lebih rendah dari tahun lalu,” ujarnya.

Dia mengimbau agar adanya penguatan sisi fundamental domestik. Sebab, hal tersebutA� sangat penting untuk mendorong pertumbuhan melalui menarik investasi langsung dan meningkatkan ekspor bernilai tambah.

“Hal itu juga bisa mempercepat penyerapan belanja modal untuk infrastruktur dan ketahanan pangan di APBNP 2015,” tutupnya. (dee/oki/r7)

Berita Lainnya

Lion Air JT 610 Bermasalah di Bali, Jatuh di Karawang

Redaksi LombokPost

16 Instansi Belum Umumkan Seleksi Administrasi CPNS

Redaksi Lombok Post

Jokowi Beri Sinyal Subsidi BPJS Kesehatan

Redaksi LombokPost

Tes CPNS Baru untuk Instansi Pusat

Redaksi LombokPost

Pendaftar CPNS Segera Lapor Dukcapil Kalau Data NIK Tidak Muncul Saat Daftar

Redaksi Lombok Post

Separo Kuota CPNS untuk Pendidik

Redaksi Lombok Post

Sampai Jumpa di Guangzhou 2022

Redaksi Lombok Post

Tiga Jamaah Haji NTB Meninggal di Tanah Suci

Redaksi Lombok Post

Busana Adat Warnai Peringatan HUT RI di Istana

Redaksi Lombok Post