Lombok Post
Metropolis

Inflasi Mataram Makin Parah

BERI KETERANGAN: Dari kanan; Kepala BPS Mataram, Lalu Putradi, Kepala Bappeda Lalu Martawang, Deputi Bank Indonesia (BI) NTB, Wahyu Yuwana Hidayat dan anggota TPID Doktor Firmansyah memberikan keterangan pers di Media Center Pemkot Mataram, kemarin.

MATARAM – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Mataram, Lalu Putradi menjelaskan, tingkat inflasi di Kota Mataram makin parah. Hal itu dibeberkan saat memberikan keterangan kepada wartawan di ruang Media Center Pemkot Mataram, Selasa (9/6).

Bersama Deputi Bank Indonesia (BI) NTB, Wahyu Yuwana Hidayat dan anggota Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Doktor Firmansyah. Mereka menerangkan tingkat inflasi di NTB khususnya Mataram di Mei 2015 yang terus meningkat. Diperkirakan, inflasi terjadi sampai lebaran mendatang.

“Kenaikan inflasi bulan Mei melebihi perkiraan kami. Penyumbang terbesarnya masih dari sektor makanan, seperti beras, cabe, dan lainnya,” ungkap Wahyu.

Kota Mataram mengalami bobot inflasi sebesar 0,34 persen. Sedangkan Kota Bima mengalami inflasi lebih rendah. Kota Bima hanya inflasi sebesar 0,06 persen. Ketika digabungkan, inflasi diA� NTB menjadi 0,28 persen.

Menurut Wahyu, inflasi di bulan Mei terjadi karena adanya kenaikan harga. Awalnya, ia memperkirakan harga beras akan mengalami deflasi tajam karena mendekati musim panen. Namun kenyataannya, harga masih mengalami inflasi meskipun rendah. Begitu juga dengan harga bawang merah dan cabe. Kedua komoditas ini juga mengalami kenaikan harga. Hal ini di karenakan faktor cuaca.

“Berdasarkan pantauan BPS, komoditi lain yang punya andil besar terhadap inflasi adalah pasir sekitar 0,0423 persen, telur ayam ras sebesar 0,0296 persen, kacang panjang sebesar 0, 0288 persen, dan kangkung 0, 0281 persen,” jelasnya.

Untungnya, kenaikan inflasi di Mataram masih di bawah inflasi nasional sebesar 0,5 persen per Mei 2015. “Masalah inflasi nasional sama seperti kita, penyebab utamanya juga dari sektor makanan,” imbuh Wahyu.

Di sisi lain, Kepala BPS Mataram Lalu Putradi menambahkan, secara historis NTB cenderung mengalami deflasi. Rata-rata deflasinya sebesar 0,07 persen. Namun pada bulan Mei ini terjadi hal di luar dugaan BPS. Inflasi naik menjadi 0,28 persen. Hal ini di picu masalah kenaikan harga identik di level petani.

Di Mataram dan Bima, kenaikan harga di sebabkan tarif angkutan udara dan komoditas pasir. “Komoditas pasir menjadi sesuatu yang baru. Selama ini jarang muncul sebagai inflasi. Ini di sebabkan banyaknya proyek pemerintah yang mulai jalan, sehingga permintaan terhadap bahan bangunan meningkat,” ungkapnya.

Prediksi inflasi bulan Juni, BI memperkirakan akan terjadi inflasi sesional. Artinya, akan terjadi kenaikan harga memasuki bulan puasa hingga lebaran. Ini disebabkan meningkatnya konsumsi masyarakat. Selain itu, liburan sekolah dan tahun ajaran baru juga jadi penyebab inflasi. Masyarakat akan sangat membutuhkan alat tulis dan seragam.

“Juni ini inflasi diperkirakan sebesar 0,93 persen, jauh lebih tinggi dari tahun lalu sebesar 0, 42 persen,” jelas Putradi.

Ia mengimbau, masyarakat tidak mengonsumsi secara berlebihan. Berdasarkan hasil rapat 27 Mei 2015 di Jakarta, Presiden Jokowi mengimbau agar masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah untuk bercocok tanam. Pekarangan rumah dapat digunakan untuk menanam cabe atau komoditas lainnya.

“Presiden meminta agar masyarakat menggalang gerakan menanam cabe. Sehingga, tidak bergantung pada pasar,” tandas Putradi. (cr-fer/r8)

Berita Lainnya

Zul-Rohmi Perlu Banyak Sosialisasi

Redaksi Lombok Post

Mengejar Mimpi Jadi Daerah Industri

Redaksi Lombok Post

Gerbang Kota Ikut Terseok-Seok!

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Ogah Berniaga di Jalan Niaga

Redaksi LombokPost

Tolong, Jangan Masuk Angin!

Redaksi LombokPost

Volume Monumen Tak Sesuai Kontrak, Rekanan Didenda Rp 1,2 Juta Perhari

Redaksi LombokPost