Lombok Post
Opini

Membangun Museum Sekolah

PERSIAPKAN LSS : Halaman SMKN 1 Lingsar terlihat bersih. Hal ini tak lepas dari upaya sekolah mempersiapkan diri pada LSS tingkat NTB

* Oleh Dr. Rosiady Sayuti
Kadis Dikpora NTB

Salah satu acara yang di desain oleh Panitia Konperensi Internasional Teknologi Pendidikan di Malaysia yang saya hadiri beberapa waktu yang lalu adalah mengunjungi salah satu sekolah yang telah menggunakan IT dalam proses pembelajarannya. Sebuah sekolah dasar yang cukup tua di Kuala Lumpur. Sekolah yang didirikan khusus untuk anak-anak Cina. Berdiri pada tahun 1934. Ketika Malaysia masih dijajah oleh Inggris.

Tapi yang menarik dari kunjungan saya tersebut adalah ketika Guru Besarnya (sebutan untuk kepala sekolahnya) membawa saya jalan-jalan keliling sekolahnya. Sebelum membawa saya ke ruang-ruang kelas dan laboratorium dan IT Training Centernya, beliau membawa saya ke sebuah ruangan berukuran sekitar 5 x 8 meter, yang dijadikan Museum Sekolah. Menarik sekali, karena baru kali itu saya mengunjungi dan mengetahui adanya museum di sekolah. Di museum tersebut dipamerkan berbagai ornamen yang menjadi sejarah sekolah. Yang pertama tentu foto kepala-kepala sekolahnya, sejak awal sekolah tersebut didirikan. Kemudian beberapa mesin ketik dan mesin stensil yang pertama-tama mereka miliki. Ada juga buku-buku tulis yang memiliki nilai sejarah, seperti buku tamu zaman dulu, yang tentu sudah penuh. Ada buku absen beberapa kelas yang masih tersusun rapi. Ada juga piala-piala, yang tentu menjadi kebanggaan sekolah, sebagai bukti sekolah mereka pernah menjuarai berbagai macam lomba. Bahkan ada baju olah raga dari kepala sekolahnya atau mantan siswanya. Ketika mendapat kehormatan untuk menjadi pembawa obor asian games puluhan tahun yang lalu.

Mengapa perlu museum?

Dari kunjungan tersebut saya berkesimpulan bahwa a�?ruangan museuma�? seperti yang di sekolah tersebut sangat perlu. Saya yakin kita tidak akan mengalami kesulitan ataupun dana yang besar untuk mewujudkannya di sekolah-sekolah kita. Ruangan museum seperti itu akan memiliki banyak arti dan manfaat. Baik bagi sekolah tersebut maupun bagi masyarakat. Saya belum tahu, apakah ada sekolah kita di NTB yang sudah memiliki museum seperti itu. Yang pasti, kita sering dan selalu mengalami kesulitan, ketika membuat proposal untuk berbagai kegiatan yang sifatnya kompetisi, harus menjelaskan sejarah berdirinya sekolah. Tidak banyak dari guru guru kita yang memahami dengan baik, sejarah berdirinya sekolah kita masing-masing.

Selaras dengan pembangunan dunia pariwisata di daerah kita NTB, adanya museum sekolah ini mungkin akan menjadi daya tarik tersendiri. Ketika film a�?Laskar Pelangia�? mengangkat cerita fiksi tentang perjuangan sebuah sekolah Muhammadiyah di Belitung Timur untuk mempertahankan eksistensinya, tiba-tiba daerah tersebut menjadi ramai dikunjungi oleh para wisatawan dari berbagai daerah. Bahkan turis mancanegara. Salah satu obyek utamanya adalah bangunan sekolah yang diangkat dalam fim tersebut. Yang kondisinya seperti yang kita di film tersebut.

Ini menunjukkan bahwa sebuah museum, apabila dikemas dan dipublikasikan dengan baik, akan menjadi daya tari tersendiri bagi para wisatawan. Tinggal bagaimana kita mengemasnya, dan kemudian mempromosikannya.

Membangun museum sekolah saya yakin tidaklah sulit. Tinggal mencari satu ruangan khusus. Kalau koleksinya saya kira sudah cukup banyak tersedia, yang sekarang ditempatkan berceceran dimana-mana. Bahkan mungkin di lemari yang sudah tidak aman lagi, karena tuanya.

Kemudian dibuatkan narasi dari setiap koleksi yang dipamerkan. Setiap sekolah pasti sudah punya foto-foto para kepala sekolah. Mungkin juga foto dari para siswa angkatan pertama, atau bahkan ada seolah yang punya koleksi foto-foto dari semua angkatan. Demikian juga peralatan ataupun alat peraga laboratorium yang memiliki nilai sejarah. Ataupun ada foto dari murid-murid yang memiliki prestasi nasional atau internasional. Baik di bidang olah raga ataupun seni dan lainnya. Wah, kalau ini bisa kita wujudkan, maka akan bertambah lagi destinasi wisata yang dapat kita pasarkan ke para wisatawan yang berkunjung ke daerah kita. Khususnya kepada para tamu yang berkunjung ke sekolah-sekolah kita. Dan bertambah pula ruang pembelajaran bagi anak-anak kita. Bukankah bagi generasi muda, museum adalah a�?jendela ke masa lalu, dan inspirasi untuk melangkah ke masa depan.a�? Wallahu aa��lam bissawab.

Berita Lainnya

Pemuda dan Transformasi Masa Depan

Redaksi Lombok Post

Penyaluran DAK Fisik dan Dana Desa Pascagempa Lombok

Redaksi Lombok Post

Kebijakan dan Pengelolaan Dana Desa Melalui KPPN Mataram

NTB Menuju Panggung (Politik) Nasional

Redaksi Lombok Post

TGB dan Masa Depan Indonesia Gemilang

Redaksi Lombok Post

Gerakan Zakat: Antara Pergerkan, Angka, dan Regulasi

Redaksi Lombok Post

DIPLOMASI KEMANUSIAAN LEMBAGA ZAKAT

Redaksi Lombok Post

LEMBAGA ZAKAT: DARI FUNDRAISING KE FRIEND-RAISING

Redaksi Lombok Post

PILKADA ZAMAN NOW

Redaksi Lombok Post