Lombok Post
NASIONAL

Layak Dihukum Mati

Satgas Perlindungan Anak saat acara 'Malam 1000 Lilin' di Bundaran Hotel Indonesia pada Kamis (11/6/2015) malam. Anggota Satgas Perlindungan Anak, Dewi Motik, mengatakan acara tersebut untuk melepas kepergian Angeline (8), seorang anak perempuan yang meninggal secara tragis di Bali.--RAKA DENNY/JAWAPOS

SANKSI bagi pelaku kejahatan seksual anak di Indonesia dinilai terlalu ringan. Hukuman maksimal 15 tahun kurungan penjara dan denda Rp 5 miliar, dalam Undang-Undang Perlindungan Anak, dianggap tak setimpal dengan kejahatan yang dilakukan. Apalagi, hukuman tersebut ternyata tidak menimbulkan efek jera dan efek takut bagi para predator seksual anak. Buktinya, hingga kini masih banyak anak-anak yang menjadi sasaran kebuasan nafsu mereka.

Pemerhati anak, Seto Mulyadi mengatakan, pemerintah sapatutnya berani mengambil langkah tegas untuk menghukum predator seksual anak. Misalnya, hukuman seumur hidup, kebiri hingga hukuman mati. Dengan demikian, pelaku atau calon pelaku akan berpikir seribu kali sebelum melakukan niat buruknya.

“Jika pemerintah bisa menghukum mati pengedar narkoba yang dirasa membahayakan anak bangsa, kenapa tidak dengan predator seksual anak? Bukannya sama,” tegas pria yang akrab disapa Kak Seto itu pada JPNN kemarin.

Dia menuturkan, langkah itu akan sangat berarti bagi anak-anak Indonesia dalam menyambut hari anak pada 23 Juli nanti. Dalam momentum itu, dapat disisipkan gerakan nasional untuk menyelamatkan anak Indonesia dari kejahatan, baik seksual maupun kekerasan lain.

Menurut pencipta karakter “Si Komo” itu, gerakan itu akan kembali membuka mata masyarakat tentang gawatnya kondisi anak-anak Indonesia. Sehingga, masyarakat akan kembali “awas” dan saling memperhatikan lingkungan sekitarnya.

“Diharapkan, di lingkungan rukun tetangga misalnya, dapat saling menjaga. Kemudian dibentuk seksi khusus pengawasan anak,” tuturnya.

Sementara itu, untuk pihak orang tua, ada beberapa cara yang disarankan olehnya untuk langkah antisipasi. Pertama, sejak anak mulai bisa bicara harus dijelaskan tentang pendidikan seks. Pelajaran ini dapat diberikan mulai dari materi ringan. Seperti, menolak dibantu orang lain saat membasuh organ intim.

Pelajaran lain, dapat berupa pengenalan underwear rules. Seorang anak diajarkan bahwa mereka tidak boleh membiarkan seseorang menyentuh bagian tubuh mereka yang tertutup pakaian dalam. Begitu juga sebaliknya.

“Penjelasan itu menegaskan bahwa tubuh adalah milik pribadi. Ada sentuhan baik dan buruk,” ungkapnya.

Namun, lanjut dia, dari seluruh pelajaran tersebut ada hal mendasar yang perlu dilakukan orang tua di rumah. Yakni komunikasi yang baik dengan anak. Orang tua harus rajin bertanya pada anak tentang kegiatan atau perasaan mereka pada hari itu.

Untuk membiasakan komunikasi dengan anak, dapat dimulai dengan rajin mendongeng untuk mereka. Dengan begitu, anak juga akan mulai terbiasa berkomunikasi dengan orang tua mereka. Sehingga, bila terjadi hal-hal yang tidak lazim maka dapat segera terdeteksi.

“Jangan jadikan rumah seperti hotel. Orang tua dan anak numpang tidur saja. Lalu melakukan kegiatan sendiri-sendiri di luar rumah,” urai bapak artis Dhea Seto ini.

Sementara itu, parlemen juga menyatakan dukungan agar kasus kejahatan seksual anak mendapatkan jerat pidana maksimal. Seperti kasus pembunuhan terhadap Angeline. Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mendukung jika penegak hukum menjatuhkan vonis mati terhadap pembunuh bocah berusia delapan tahun itu.

“Layak dihukum mati. Karena tidak hanya membunuh, tapi juga menodai moral Indonesia,” kata Hidayat di gedung parlemen, Jakarta, kemarin.

Menurut Hidayat, hukuman mati perlu agar memberikan efek jera kepada pelaku pembunuhan keji. Jika vonis maksimal itu diterapkan, Hidayat berharap ada efek pencegahan agar kasus itu terulang lagi.

“Ini penting untuk menjaga kelangsungan hidup anak-anak Indonesia,” tegasnya.

Selain itu, kasus Angeline menjadi peringatan bagi para penegak hukum. Kepolisian harus terus mengusut kasus demi kasus kejahatan terhadap anak di seluruh pelosok wilayah Indonesia.

“Ini ujian juga kepada pemerintah,” tandasnya. (mia/bay/r7)

Berita Lainnya

Lion Air JT 610 Bermasalah di Bali, Jatuh di Karawang

Redaksi LombokPost

16 Instansi Belum Umumkan Seleksi Administrasi CPNS

Redaksi Lombok Post

Jokowi Beri Sinyal Subsidi BPJS Kesehatan

Redaksi LombokPost

Tes CPNS Baru untuk Instansi Pusat

Redaksi LombokPost

Pendaftar CPNS Segera Lapor Dukcapil Kalau Data NIK Tidak Muncul Saat Daftar

Redaksi Lombok Post

Separo Kuota CPNS untuk Pendidik

Redaksi Lombok Post

Sampai Jumpa di Guangzhou 2022

Redaksi Lombok Post

Tiga Jamaah Haji NTB Meninggal di Tanah Suci

Redaksi Lombok Post

Busana Adat Warnai Peringatan HUT RI di Istana

Redaksi Lombok Post