Lombok Post
Headline Kriminal

Ada Bercak Darah

pengunjung meletakkan karangan bunga dan berdoa di depan pintu rumah Angeline di Sanur, kemarin. F-MIFTAHUDDIN/RADAR BALI

* Temuan KPAI Saat Datang ke Rumah Angeline

DENPASAR – Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Arist Merdeka Sirait kembali mendatangi kediaman rumah Angeline di Jalan Sedap Malam, Denpasar, sekitar pukul 17.00 Wita, Jumat (12/6) kemarin. Arist mengungkapkan banyaknya kejanggalan terkait penetapan tersangka dalam kasus ini. Salah satunya adalah bercak darah yang ada di kamar Margareith Ch Megawe, ibu angkat korban.

Menurut Arist, keberadan bercak darah itu diperolehnya dari Lab Forensik RS Sanglah Denpasar.

“Kami harus tahu apakah bercak darah yang ada di kamar Ibu Margareith, itu merupakan persekongkolan kejahatan antara tersangka Agustinus Tae dengan pihak-pihak terkait yang disebutkan selama ini. Darah itu harus dicocokkan dengan darah Angeline. Kalau itu cocok maka ini adalah indikasi awal keterlibatan ibu angkat ANG,” ujarnya.

Ini tugas penyidik untuk mendalami tindakan persekongkolan kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang seisi rumah Angeline. Menurut Arist, pada 24 Mei sore sampai malam, pihaknya mendatangi rumah korban. Saat itu dia sempat berkomunikasi dengan ibu angkat Angeline yakni Margareith. Arist dan rombongannya masuk sampai di kamar Angeline, dan kamar tersebut sangat tidak layak untuk seorang anak kecil. Ketika pernyataan tidak layak itu diucapkan Arist, ibu angkat Angeline sempat protes. Akibatnya, Arist di-bully di media sosial.

“Saat itu saya tanya, “Apakah Ibu yakin Angeline masih ada? Dia jawab masih ada. Lalu, saya tanya, “Di mana” Karena saya akan menjemputnya. Dia bilang ada di sekitar sini. Jawaban ini sambil menunjuk ke lokasi kuburan yang ditemukan polisi. Jadi, benar bahwa sebenarnya ANG sudah dibunuh sejak tanggal 16 Mei itu,” ujarnya.

Akibat penemuan baru itu, Arist bersama timnya langsung mendatangi TKP penemuan Angeline.

“Tujuan kami ke TKP penemuan ANG adalah untuk mencocokkan keterangan pelaku. Dan, ternyata benar, lokasi yang ditunjuk Margareith, bahwa ANG sulit dijemput itu ke arah kuburan yang digali polisi,” ujarnya.

Selanjutnya, KPAI telah mendapatkan konfirmasi bahwa pihak Forensik Mabes Polri sedang menguji bercak darah yang ditemukan di kamar Margareith dan sampel darah Angeline.

“Besok (hari ini, red) hasil pengujian itu akan disampaikan ke Polda Bali,” ucap Sirait.

Kapolresta Denpasar Kombes Pol Anak Agung Sudana membenarkan terkait temuan baru yang dilaporkan oleh KPAI mengenai adanya bercak darah yang ditemukan di kamar Agustinus Tae dan Margareith.

“Bercak darah yang ada di kamar Agustinus tersebut kita telusuri hingga di kos Agustinus, di Jalan Ceningan Sari. Di sana ditemukan sarung bantal yang berisi bercak darah. Sedangkan untuk di kamar Margareith kami temukan tisu berisi bercak darah,” ujarnya saat ditemui di Mapolresta Denpasar.

Menanggapi temuan tersebut dirinya mengatakan tidak serta merta membuat Margareith langsung ditetapkan sebagai tersangka. Sebab masih belum menemukan bukti yang sah sesuai yang diatur dalam Pasal 184 KUHAP yang mencantumkan bahwa alat bukti yang sah keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa.

“Kami tadi melakukan gelar perkara mengenai pemulangan jenazah ANG,” lanjutnya.

Meskipun adopsi Angeline belum sah, gelar perkara tersebut dikatakannya dilakukan untuk menyesuaikan siapa yang sah dan berhak atas jenazah Angeline.

Sementara mengenai dari hasil penyidikan sementara, mengenai adanya lubang tempat mengubur jenazah Angeline dijelaskan bahwa tanah tersebut sengaja digali karena akan digunakan untuk mengubur atau menutup kotoran ayam ternak yang berjumlah ratusan di kediaman Margareith.

“Jadi, lubang itu sengaja digali karena tanahnya digunakan untuk menutup kotoran-kotoran ayam,” lanjutnya.

Dirinya juga menambahkan jika sebanyak 13 orang saksi yang sudah diperiksa hingga hari ini belum menetapkan tersangka lain selain Agus.

“Hingga saat ini tersangka masih Agus seorang, dan selanjutnya masih akan terus kita kembangkan guna mengungkap adanya pelaku-pelaku lain,” pungkas Kombes Pol Agung Sudana.

Dirinya mengatakan jika sejauh ini Margareith menunjukkan sikap kooperatif selama dimintai keterangan oleh penyidik. Dan, hingga berita ini diturunkan Margareith beserta Christina masih berada di dalam ruang penyidikan.

Margareith masuk ke dalam ruang penyidik Polresta Denpasar sekitar pukul 14.00 Wita. Dia menutupi wajahnya menggunakan kerudung dan mengenakan baju hitam serta celana motif kotak-kotak, disusul oleh Christina yang memakai baju berwarna putih. (ken/ras/yes/r7)

Berita Lainnya

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Jaksa Kumpulkan 96 Kades Terpilih

Redaksi LombokPost

Memahami Potensi Pemuda

Redaksi LombokPost

IGI Pertanyakan Kebijakan Sukiman

Redaksi LombokPost

26 Oven Untuk Petani Tembakau Lotim

Redaksi LombokPost

Garbi Bakal Gembosi PKS?

Redaksi LombokPost