Lombok Post
Feature

Lodeh Jadi Menu Favorit, Laris Manis saat Musim Dingin

* Kisah-Kisah Pemilik Resto Khas Indonesia di Berlin (1)

Diplomasi kuliner. Demikian para pemilik warung bercita rasa Indonesia mengumpamakan aktivitas mereka di Berlin, Jerman. Dengan menu Nusantara yang disajikan di meja makan, warga asing pun menjadi “tunduk” pada kuliner Indonesia. Wartawan Jawa Pos DIAR CANDRA yang baru pulang ke tanah air sempat mengunjungi tempat-tempat kuliner Nusantara itu di sela-sela meliput final Liga Champions awal bulan lalu.

—————————

PAPAN kayu cokelat bertulisan “Tuk Tuk Restaurant” menjadi penanda cukup kuat buat Anda yang mencari kuliner Asia atau Asia Tenggara di Berlin. Terletak di kawasan Schrneberg atau tepatnya beralamat 2 Grossgrschen Strasse, nuansa budaya Indonesia langsung terasa begitu membuka pintu rumah makan seluas 160 meter persegi itu.

Alunan musik gamelan Sunda pun pelan terdengar. Dekorasi ruangan yang didominasi anyaman bambu menyeret pengunjung pada romansa suasana pedesaan Jawa tradisional.

Menengok ke sisi kiri ruangan paling depan, terdapat lukisan perempuan-perempuan Bali sedang mandi. Masih di ruangan yang sama, pada meja kasir terdapat patung suami istri dari kayu yang dipercaya dalam mitologi Jawa sebagai lambang kesuburan, loro blonyo.

Dibuka sejak 1984 atau saat Perang Dingin masih berlangsung, Tuk Tuk menjadi restoran tertua bercita rasa Indonesia yang bertahan sampai sekarang di ibu kota Jerman itu. Meski telah tiga kali berganti pemilik, Tuk Tuk tak kehilangan pelanggan.

Ronald Christian, pemiliknya kini, menyambut Jawa Pos (Group Lombok Post) saat berkunjung pekan lalu. Restoran yang hanya buka sore mulai pukul 17.00 waktu setempat itu bisa menampung 70-80 orang dengan 35 meja yang ada.

“Kami cuma buka lima jam per hari dan menyediakan makan malam. Pernah ada tamu yang nanya kenapa hanya lima jam, saya jawab jujur karena kami kekurangan staf di sini,” terang Ronald.

Pria kelahiran Jakarta tersebut mengatakan, hanya ada beberapa orang yang bekerja di Tuk Tuk. Dengan pemasukan rata-rata per bulan mencapai EUR 20 ribu (Rp 300 juta), Tuk Tuk berhasil terus menggelindingkan roda bisnisnya di Berlin. Pendapatan itu lantas dipotong sewa bangunan, gas, air bersih, dan listrik sebesar EUR 8 ribu (Rp 120 juta). Juga gaji pegawai dan pemenuhan bumbu mencapai EUR 6 ribu (Rp 90 juta).

Ronald menceritakan, saat dirinya mengambil alih Tuk Tuk dari pemilik keduanya, Suwido Sarjono, tiga tahun silam, kondisi finansial restoran sedang buruk. Lulusan Teknik Industri Technische Universitas (TU) Berlin tersebut menebus Tuk Tuk seharga puluhan ribu euro.

“Saya tidak hanya melihat aspek bisnis dari Tuk Tuk ini ketika membelinya. Tapi juga sisi histori dan cap Indonesia yang melekat di sini. Ada perasaan nggak rela kalau Tuk Tuk ini sampai dibeli bukan orang Indonesia dari tangan Pak Wido (sapaan Suwido Sarjono, Red) sebagai pemilik yang kedua,” papar Ronald.

Pak Wido sebagai second owner menjalankan Tuk Tuk selama 12 tahun. Mulai 2000 sampai 2012. Sedangkan Pak Jan, sapaan Jan Lennard, mengelolanya mulai 1984 sampai 2000.

Sebagai kilas balik, Tuk Tuk didirikan Pak Jan, seorang pria Jerman yang jatuh cinta pada satu desa di tengah Pulau Samosir, Danau Toba, bernama Tuk Tuk. Meski di Thailand dan Laos tuk-tuk adalah angkutan tradisional mesin roda tiga, menurut Ronald, justru ada kesamaan Tuk Tuk versi Indonesia dengan Thailand dan Laos. Sehingga bisa menjaring pengunjung lebih luas. Wisatawan asal Asia Tenggara pun mampir ke warung tersebut untuk menjajal berbagai masakan yang ada.

Lantas apa yang membuat Tuk Tuk itu berbeda dengan restoran Asia Tenggara lainnya? Menurut Ronald, pembedanya adalah cara penyajian. Makanan disajikan secara fresh, baru dimasak ketika ada pemesan. Itulah yang membuat mereka kembali ke Tuk Tuk. Dan menu seperti rendang, gulai ikan, serta nasi rames adalah favorit di Tuk Tuk.

Nah, di tangan Ronald ada beberapa perubahan besar dari segi menu. Ronald yang merupakan pemeluk Islam meniadakan daging babi dan berbagai jenis olahannya di dapur Tuk Tuk. Pergeseran tersebut memang menimbulkan pro dan kontra dari para pelanggan.

Namun, Ronald tak terlalu memusingkan hal itu. Bapak dua anak tersebut sepakat bahwa perubahan memang selalu menimbulkan pro dan kontra. Ada yang mendukung dan menolak. Ronald memang kehilangan banyak pelanggan Jerman. Namun, konsumen asal Turki, Iran, atau Malaysia berdatangan.

“Apalagi setelah ada sertifikasi halal dari pemerintah, pengunjung muslim semakin menunjukkan respeknya kepada kami. Alhamdulillah, kami menikmati rezeki yang ada saat ini,” sebut suami Diah Widianingsih itu.

Mengenai harga makanan di Tuk Tuk, kisarannya adalah EUR 8 sampai 50. Sajian termahal berupa nasi tumpeng dengan jenis lauk-pauk mencapai sepuluh jenis. Salah seorang pengunjung setia Tuk Tuk asal Jerman Jens Tippenhauer menyatakan sudah menjadi pelanggan mulai bertahun-tahun lalu. Tippenhauer yang sering datang bersama rekan dan famili mengatakan, sayur lodeh Tuk Tuk paling enak.

Cerita soal restoran Indonesia lainnya adalah Mabuhay. Mabuhay saat ini dijalankan pasangan suami istri Jerman dan Indonesia Michael-Lisa Goering. Seperti halnya pada Tuk Tuk, Michael dan Lisa adalah pemilik kedua restoran yang berada di 28 Koethener Strasse tersebut.

Sebelumnya Mabuhay adalah usaha patungan orang Filipina dan Indonesia yang didirikan pada era 2000-an. Kemudian, setelah diambil alih Michael dan Lusi dengan cara dibeli pada 2012, ada penambahan nama di papan nama warung makan, yakni Mabuhay – Indonesian Food.
“Langkah lain yang dilakukan agar menjadi seutuhnya masakan Indonesia adalah menghilangkan menu-menu Filipina atau Chinese food yang tadinya mendominasi daftar pilihan menu yang ada,” jelas Michael.

Michael yang aslinya pegawai Kementerian Keuangan Jerman memandang bisnis kuliner itu sebagai usaha sampingan yang menyenangkan. Tak mematok target berapa ribu euro yang didapat per bulan, Michael punya target lebih, yakni mengenalkan kuliner Indonesia kepada orang Jerman.

“Resto kami yang terletak di kawasan perkantoran dan mes mahasiswa perkuliahan selalu penuh sesak. Tapi, musim dingin mungkin yang terpadat. Lihat, kami sampai membangun ruangan lain di luar bangunan yang sekarang,” beber Michael sambil menunjuk sebuah tenda berbentuk rumah berukuran 3 x 4 meter di depan Mabuhay. (*/bersambung/c9/end/r8)

Berita Lainnya

Bilik Bercinta di Tempat Pengungsian yang Tinggal Cerita

Redaksi Lombok Post

Pengalaman Dramatis Pendaki Terjebak Gempa di Gunung Rinjani (1)

Redaksi Lombok Post

Mereka yang Tetap Tegar Menghadapi Gempa di Sambelia

Nasihat Mendiang Ayah Menjadi Pegangan Hidup Zohri

Mengunjungi Lalu Muhammad Zohri, Sang Juara Dunia

Lalu Muhammad Zohri, Sprinter Muda NTB yang Sabet Juara Dunia

Melihat Festival Layang-Layang Raksasa di Pantai Loang Baloq

Kisah Penambang yang Lolos dari Lubang Maut Sekotong (1)

Festival Seribu Bedug di Pulau Seribu Masjid

Redaksi Lombok Post