Lombok Post
Opini

Ramadan Zero Razia

RAZIA: Beberapa Patner Song (PS) yang menemani para pengunjung kafe menutup wajahnya ketika aparat melakukan pemeriksaan barang bawaannya, belum lama ini.

RAMADHANA�tinggal menghitung hari. Mendekati Ramadan para pemilik warung, harus bersiap diri. Setiap Ramadan tiba, soal rumah makan selalu menjadi polemik. Persoalannya, rumah makan buka saat sebagian masyarakat tengah berpuasa. Tindakan ini kemudian mengundang sweeping dari organisasi kemasyarakatan. Untuk menghindari sweeping, pemerintah daerah turun cepat. Satpol PP meminta supaya rumah makan tutup selama Ramadan. Buka mendekati berbuka. Imbauan ini tidak digubris. Pemilik warung tetap buka siang hari. Masalah warung buka siang hari saat Ramadan, sebenarnya sepele. Pemilik warung hanya perlu berpikir soal toleransi. Jangan buka warung terlalu vurgar. Menerima pembeli sembarangan. Pemilik warung jangan kucing-kucingan menerima pembeli.

Ramadan tiba, bukan berarti seluruh warung dipukul rata harus tutup. Pasalnya, ada saudara non muslim yang tidak berpuasa. Selain itu, mereka yang dalam perjalanan atau tengah haid pun tidak berpuasa. Bila semua warung tutup, yang tidak berpuasa kesulitan mencari makan. Ormas dan aparat pemerintah daerah, jangan lagi uber-uberan dengan pemilik warung. Untuk menghindari sweeping, para pemilik warung diberi pemahaman cara berjualan yang baik. Pemilik warung pun harus mengindahkan imbauan yang disampaikan pemerintah. Lucu rasanya, setiap Ramadan tiba, uber-uberan soal warung makan. Padahal urusan puasa atau tidak, bukan kewenangan manusia.

Selain warung makan. Toleransi bagi pemilik tempat hiburan harus dipikirkan. Pemerintah tidak perlu repot-repot meminta tutup tempat hiburan. Atur saja, jangan membuka karaoke seperti hari biasa. Regulasi khusus saat Ramadan bisa dibuat. Seperti tutup saat waktu salat tiba. Menutup permanen tempat hiburan selama Ramadan kurang bijak. Tempat hiburan memiliki banyak karyawan.

Bila tidak beroperasi, tentu berpengaruh pada pendapatan karyawan. Malah disebut-sebut, gaji karyawan tempat hiburan selama Ramadan menurun drastis. Konyol kalau gara-gara tempat hiburan buka, banyak yang enggan beribadah. Soal ibadah ini urusan masing-masing. Tempat hiiburan tidak buka, banyak juga kok yang memilih nongkrong di pinggir jalan. Apa harus menyalahkan tempat hiburan buka?

Ramadan suci, bergantung pada individu. Masyarakat tinggal memilih mau jalur yang mana. Pemerintah daerah jangan terlalu banyak razia saat Ramadan. Nanti dipikir masyarakat, Ramadan kerjaannya cuma razia. Masih banyak urusan masyarakat lebih penting. urusan moral, urusan akhlak, biar dicari sendiri oleh masyarakat.(*)

Berita Lainnya

Pemuda dan Transformasi Masa Depan

Redaksi Lombok Post

Penyaluran DAK Fisik dan Dana Desa Pascagempa Lombok

Redaksi Lombok Post

Kebijakan dan Pengelolaan Dana Desa Melalui KPPN Mataram

NTB Menuju Panggung (Politik) Nasional

Redaksi Lombok Post

TGB dan Masa Depan Indonesia Gemilang

Redaksi Lombok Post

Gerakan Zakat: Antara Pergerkan, Angka, dan Regulasi

Redaksi Lombok Post

DIPLOMASI KEMANUSIAAN LEMBAGA ZAKAT

Redaksi Lombok Post

LEMBAGA ZAKAT: DARI FUNDRAISING KE FRIEND-RAISING

Redaksi Lombok Post

PILKADA ZAMAN NOW

Redaksi Lombok Post