Lombok Post
Sportivo

Selama Ada Niat, Tidak Ada yang Tidak Mungkin

Supiati-Atlet PON

* Cerita Mantan Atlet NTB Peraih Medali di PON (3)

Bisa berprestasi di kancah nasional adalah mimpi setiap atlet. Terlebih di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON). Salah satunya mantan atlet atletik NTB Supiati.

TIDAKA�dipungkir, cabor atletik NTB beberapa tahun terakhir cukup disegani di tingkat nasional bahkan internasional. Begitu banyak atlet potensial pernah lahir di cabor ini. Terutama pernah menempatkan NTB di podium tertinggi setiap even dan kejuaraan. Salah satunya Supiati.

Sprinter wanita andalan NTB di PON dan Sea Games. Memulai karir menjadi atlet sejak duduk dibangku kelas V Sekolah Dasar (SD), Supiati muda perlahan tumbuh menjadi salah satu manusia tercepat di Indonesia dan Asia Tenggara. a�?Saya pernah menjadi atlet lari termuda di PON. Karena waktu itu saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP),a�? kenangnya.

Berkat polesan dan program latihan yang diberikan pelatih, wanita yang kini mengabdikan diri menjadi pelatih di tanah kelahirannya, Kabupaten Sumbawa Besar (KSB) ini berhasil meraih kesuksesan sebagai atlet. Tak tanggung-tanggung, wanita berambut panjang ini tiga kali berturut-turut meraih medali perunggu Sea Games, yakni Sea Games 2001, 2003 dan 2005. a�?Di PON Palembang dan Riau waktu itu saya mendapat medali perak,a�? tuturnya.

Sejak duduk di kelas IX SMP ia sudah mewakili Indoensia ke Sea Games. Walapun saat itu ia belum berhasil meraih medali. Namun, mengingat usia yang masih belia. Hal tersebut merupakan kebanggaan tersendiri. a�?Saya baru bisa menyumbangkan medali sejak SMA. Medali pertama saya medali emas di Kejurnas,a�? ceritanya.

Terkait target 15 medali emas kontingen NTB di PON XIX Jabar nanti, menurutnya, KONI NTB selaku organisasi yang menaungi atlet harus memperhatikan pertandingan terakhir. Karena menurutnya, prestasi atlet, khususnya di atletik akan berubah pertiga bulan. a�?Karena atletik merupakan olahraga terukur. Lihat Iswandi di Sea Games 2015. Padahal ia menyandang status unggulan di nomor sprinter. Namun tak disangka, ia kalah bersaing dengan rekan senegara Yaspi Boby yang sejatinya atlet daerah lain, ini yang harus diperhatikan,a�? jelasnya.

Untuk itu, para atlet, pelatih dan pengurus harus memperhitungkan kapasitas atlet lawan. Peta kekuatan daerah lain perlu jadi refrensi sebagai bahan pertimbangan. Terlebih cabor atletik yang ditargetkan mampu pertahankan tujuh medali emasnya di PON XVIII Riau.

a�?Ini bukan tugas mudah. Namun saya yakin bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Segala sesuatu bisa terjadi. Selama ada niat, berusaha, dan jangan lupa berdoa,a�? pungkasnya. (bersambung/r10)

Berita Lainnya

Selangkah Lagi Timnas U-19 Ke Piala Dunia

Redaksi Lombok Post

Huswatun Cetak Sejarah, Petinju Putri Pertama RI Raih Medali Asian Games

Redaksi Lombok Post

Zohri : Saya Nggak Percaya Bisa Juara

Prancis Fantastis! Juara Dunia setelah Tumbangkan Kroasia 4-2

Banjir Hadiah Menanti Zohri

Zohri, Sprinter Pertama Indonesia yang Menjadi Juara Dunia

AS Roma Butuh Keajaiban Kedua

Redaksi LombokPost

Chilena Ronaldo Seindah Puisi

Redaksi Lombok Post

NTB Layak Jadi Tuan Rumah PON 2024

Redaksi Lombok Post