Sportivo

Bersakit-sakit Dahulu, Bersenang-senang Kemudian

Arya Yuniawan Purwoko2

BISAA�A�berprestasi di kancah nasional adalah mimpi setiap atlet. Terlebih di ajang bergensi empat tahunan PON. Salah satu atlet yang pernah mencicipi manisnya PON adalah Arya Yuniawan Purwoko, mantan atlet atletik nomor lompat jauh NTB.

Selalu ada cerita menarik dibalik kesuksesan seseorang. Seperti yang dialami mantan atlet atletik nomor lompat jauh NTB ini. Ya, Arya Yuniawan Purwoko semasa menjadi atlet, sukses mendonasikan emas buat kontingen NTB. Tiga kali ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) yakni 1996 Jakarta, 2000 Surabaya dan 2004 di Palembang. Arya sapaan akrabnya sukses membayar tuntas keparcayaan KONI NTB dengan medali emas.

Merunut kebelakang, Arya tak tiba-tiba moncer sebagai atlet lompat jauh. Banyak hal-hal yang dilalui sebagai seorang atlet yg ingin berprestasi. Prestasinya begitu cemerlang dalam persaingan di kancah nasional. Tak heran jika puluhan piagam dan trofi Kejurnas menjadi koleksi dia.
Pria yang kini mengajar di SMKN 1 Labuapi ini menjadi langganan skuad kontingen atletik NTB diberbagai kejuaran maupun event besar. Bahkan ia pernah didaulat mempekuat Indonesia di ajang Sea Games. Nasibnya kurang beruntung dan harus puas meraih posisi empat.

Menurutnya, untuk menjadi juara, dibutuhkan kedisiplinan dan konsentrasi. Tidak hanya itu dalam meraih prestasi diperlukan perjuangan dan pengorbanan. a�?Seorang atlet yg ingin meraih prestasi harus menentukan tujuan utama. Tujuan menjadi atlet harus diperhatikan. Kalau mau santai dan senang-senang terus, hasilnya pun akan demikian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian,a�? kata Arya mengenang.

Dalam olahraga prestasi dan terukur seperti atletik. Kemenangan dan pemecahan rekor adalah tujuan yang diharapkan oleh semua atlet. Untuk mencapai tujuan itu, seorang atlet harus mengandalkan kemampuan fisik dan keterampilannya, baik secara individu maupun tim. Kemampuan fisik yang prima dan keterampilan yang tinggi hanya dapat diperoleh dengan melakukan latihan.

“Karana sebuah prestasi bisa diraih dengan kerja keras. Atlet tidak akan pernah selamanya berada di level terbaiknya. Disinilah peran seorang pelatih untuk terus memotivasi,” jelasnya.

Dalam proses pembinaan atlet perlu memperhatikan kondisi dari faktor endogen dan eksogen atlet. Faktor eksogen adalah semua hal di luar individu atlet. Seperti latihan-latihan, sarana dan prasarana latihan, keadaan lingkungan, penghargaan dan lain sebagainya.
a�?Faktor eksogen harus benar-benar optimal. Latihan menjadi faktor yang berpengaruh langsung terhadap prestasi yang dicapai atlet,a�? ungkapnya.

Sedangkan faktor endogen berasal dari dalam diri atlet. Faktor ini berupa motivasi, bakat dan kemampuan atlet. a�?Inilah faktor yang paling menentukan atlet. Perkembangan atlet sangat bergantung dari faktor ini,a�? jelasnya.

Ia berharap kedepan atletik semakin solid. Bukan hanya pada prestasi namun juga sinergi antara pelatih, atlet, pengurus dan mendapat dukungan pemerintah daerah. (*/r10)

Related posts

Andy: Menpora Salah Langkah

Redaksi Lombok Post

Pilih Popwil Ketimbang Kejurnas

Redaksi Lombok post

Waspadai Sprinter Sumbar

Redaksi Lombok post

Leave a Comment