Lombok Post
Feature

Tradisi Membersihkan Diri dalam Penampahan

LARIS MANIS : Ayam kampung asli laris manis di pasaran untuk dijadikan santapan dalam tradisi penampahan, satu hari sebelum puasa atau satu hari sebelum lebaran.

* Tradisi Masyarakat Lombok Menyambut Ramadan (2-Habis)

Menyambut Ramadan tidak hanya dengan nyekar atau ziarah makam. Salah satu tradisi unik masyarakat Sasak Lombok adalah a�?penampahana�?. Membersihkan diri dengan memotong hewan, rowah (makan bersama) disertai zikir dan doa. Biasanya dilaksanakan satu hari sebelum puasa dan satu hari sebelum Hari Raya Idul Fitri.

KABARA�datangnya puasa Ramadan menjadi kabar gembira di kalangan masyarakat Desa Sesela, Lombok Barat. Warga pun mulai sibuk. Tidak hanya menyiapkan diri menghadapi puasa. Tapi tradisi penampahan yang akan dilakukan satu hari jelang puasa.

Kesibukan itu terasa di rumah Ibu Hendra. Ibu rumah tangga yang sehari-hari berjualan di Pasar Kebon Roek ini sudah menyiapkan 10 kilogram (kg) daging ayam. Ayam tersebut dibeli warga dari penjual, ada yang membayar langsung namun ada yang membayar belakangan. Daging inilah yang dimasak untuk tradisi penampahan bersama, tetangga dan kerabat terdekat di kampung tersebut.

a�?Kita mengadakan zikir dan doa, lalu makan bersama dari ayam yang kita sembelih tersebut,a�? kata Ibu Hendra.

Tradisi ini dijalankan Ibu Hendra setiap tahun, turun temurun sejak zaman nenek moyangnya. Meski harus mengeluarkan belanja lebih, baginya tidak masalah, sebab tradisi itu dilakukan untuk mendapatkan berkah di akhir bulan Syakban dan memasuki bulan Ramadan.

a�?Harapan kami agar mendapat keberkahan dan mensucikan diri memasuki bulan puasa,a�? harapnya.

Selain daging ayam, dalam penampahan juga warga biasanya menyembelih satu ekor sapi kemudian dibagi-bagi.Warga yang berutang bisa membayar setelah lebaran. Tradisi serupa dilakukan masyarakat Islam hampir di seluruh wilayah Lombok. Termasuk di Kota Mataram.

Di beberapa perkampungan tua, tradisi ini masih dipertahankan. Pada sore hari, warga biasanya berkumpul dan mengadakan rowah atau makan bersama yang diawali dengan zikir dan doa.

Kata penampahan sendiri berasal dari kata tampah artinya menyembelih. Warga menyembelih hewan seperti ayam, kambing atau sapi untuk dimakan bersama setelah zikir dan doa. Istilah ini hanya digunakan untuk memudahkan penyebutan kegiatan ini.

Penampahan juga bisa maknai sebagai bentuk pengorbanan masyarakat, membersihkan diri dari dosa saat memasuki bulan Ramadan. Bagi umat muslim yang melakukan, bisa menjalankan ibadah puasa dalam keadaan bersih.

Penampahan dilanjutkan dengan tradisi rowah atau zikiran bersama di masjid, juga di rumah warga dengan mengundang tuan guru atau kiyai. Acara roah biasanya dilakukan pada malam pertama memasuki bulan Ramadan.

Ketua Harian Majelis Adat Sasak (MAS) Lalu Bayu Windia mengatakan pada intinya tradisi ini sebenarnya adalah doa. Doa meminta keselamatan saat akan memasuki Ramadan. Waktunya juga bertepatan dengan bulan Syakban, dimana bulan ini merupakan bulan yang bagus untuk memanjatkan doa-doa.

a�?Disebut kenduri sore hari atau rowah kebian. Waktunya dilakukan sore,a�? jelasnya.

Banyak hikmah yang bisa dipetik dari tradisi ini, diantaranya nilai silaturahmi, bisa makan bersama, kumpul dengan tetangga, keluarga dalam suasana penuh keakraban dan religius. Ia tidak sepakat jika tradisi penampahan dianggap sebagai pemborosan dan bida��ah, kemudian dilarang. Sebab warga hanya mengadakan acara makan bareng diikuti membaca doa dan zikir, mengundang tetangga sebagai sebuah starting poin memasuki bulan puasa.

a�?Mana yang lebih boros dengan pesta ulang tahun 1 orang di hotel berbintang. Ini tidak ada kok soal boros-boros, mereka saling sumbang dan hubungan sosial semakin kuat,a�? ujarnya.

Tradisi ini telah hidup dan tumbuh alami di tengah masyarakat. Untuk itu, tradisi ini perlu terus dilestarikan, tanpa ada pem-bida��ah-an.

a�?Ini orang hanya makan bersama, sebelum makan orang zikir dan berdoa,a�? kata Bayu.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Mataram H Abdul Latif Nadjib menjelaskan, di Mataram penampahan lebih dikenal dengan rowah kebian. Para prinsipnya tujan tradisi ini sama. Meski demikian, tradisi ini belum disentuh sebagai bagian promosi pariwisata.

a�?Tapi pada intinya kami tetap menjaga dan melestarikan tradisi ini hidup di tengah masyarakat,a�? ujarnya. (*/r7)

Berita Lainnya

Bilik Bercinta di Tempat Pengungsian yang Tinggal Cerita

Redaksi Lombok Post

Pengalaman Dramatis Pendaki Terjebak Gempa di Gunung Rinjani (1)

Redaksi Lombok Post

Mereka yang Tetap Tegar Menghadapi Gempa di Sambelia

Nasihat Mendiang Ayah Menjadi Pegangan Hidup Zohri

Mengunjungi Lalu Muhammad Zohri, Sang Juara Dunia

Lalu Muhammad Zohri, Sprinter Muda NTB yang Sabet Juara Dunia

Melihat Festival Layang-Layang Raksasa di Pantai Loang Baloq

Kisah Penambang yang Lolos dari Lubang Maut Sekotong (1)

Festival Seribu Bedug di Pulau Seribu Masjid

Redaksi Lombok Post