Lombok Post
Opini

MEMAKNAI PESAN MORAL IBADAH PUASA

RUKYATUL HILAL : Salah seorang petugas Kementrian Agama (Kemenag) NTB melakukan rukyatul hilal (melihat bulan) untuk menentukan awal bulan puasa, di Taman Loang Baloq, Mataram, NTB

Oleh: FATHURRIJAL
(Peneliti pada Lembaga Kajian Komunikasi, Agama, Sosial dan Politik (LEKKASPOL) NTB)-
Aktivis Angkatan Muda Muhammadiyah NTB

a�?a��Betapa Banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan pahala kecuali hanya mendapatkan Lapar dan Dahagaa��a�� (Hadits Nabi Muhammad Saw).

BULAN Ramadahan, kembali menyapa umat Islam di seluruh dunia, semua elemen masyarakat, mulai dari masyarakat desa sampai masyarakat kota, menyambutnya dengan ceria dan bahagia.

Kebahagiaan dan keceriaan menyambut datangnya bulan mulia ini, tentu dikarenakan Ramadhan adalah bulan dimana semua amal ibadah dilipatgandakan pahala-nya. Ibadah Sunnah dalam bulan ini, bila dikerjakan dengan rasa penuh keimanan dan kikhlasan bernilai sama dengan ibadah wajib. Subhanallah, ternyata Allah mendesain bulan Ramadhan ini dengan beragam hikmah yang ada di dalamnya.

Rasulullah Saw, juga pernah bersabda kepada para sahabat-sahabatnya, a�?a��Kalau saja ummatku tahu apa hikmah-hikmah yang ada di bulan Ramadhan, niscaya mereka semua menginginkan bulan-bulan selain Ramadhan untuk dijadikan sebagai bulan Ramadhana��a��.

Oleh sebab itu, sebagai ungkapan rasa syukur, umat Islam yang sampai saat ini dipertemukan oleh Allah dengan bulan Suci-Nya, hendaknya memberikan amal-amal terbaiknya pada bulan ini, Ramadahan adalah bulan yang tepat untuk menginstrosfeksi diri, untuk menjadi insan-insan yang lebih baik dan lebih dekat dengan-Nya.

Ibadah Puasa Ramadhan menyimpan banyak pesan moral yang bisa dijadikan sebagai motivasi untuk menjadi insan-insan muttaqien. Dengan memaknai pesan-pesan moral yang terkandung dalam ibadah puasa ramadhan, Insya Allah umat islam yang melaksanakan ibadah puasa akan terjauhkan dari ganjaran berupa lapar dan dahaga, sebagaiana hadits nabi yang penulis kutif di awal tulisan ini.

Menurut Sahiron Syamsuddin salah seorang Fakar Tafisr Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, menilai bahwa setidaknya ada lima pesan moral yang terkandung dalam Ibadah Puasa Ramadhan, dimana kelima pesan moral itu adalah sebagai bentuk pendidikan dan harus bisa diaplikasikan ke dalam praktek keseharian ummat Islam (Menyingkap dan Melestarikan Pesan Moral Ibadah Puasa dan Ritual Takbir, 1428 H).

Pertama, Ibadah puasa ramadhan mendidik Ummat Islam untuk selalu tetap istiqomah dalam jalan Taqwa, dalam artian bahwa seluruh prilaku seyogyanya selalu berada dalam naungan keridhoaan Allah Swt, dengan cara melakukan hal-hal yang diperintahkan-Nya dan menghindari diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan oleh ajaran agama Islam.

Kedua, Ibdah puasa juga melatih kita untuk selalu berbuat sabar, bersabar untuk tetap berada pada jalan yang benar dan bersabar dalam menghadapi penderitaan-penderiataan hidup. Tanpa kesabaran umat islam tidak mungkin mampu menahan diri dari makan dan minum ketika berpuasa. Sifat sabar, semcam ini juga harus dimiliki dalam kehidupan yang penuh dengan godaan, cobaan dan problem yang berkaitan dengan aspek-aspek ekonomi, pendidikan, politik, kemanusiaan dan lain-lainnya, sifat sabar tidaklah muncul dengan sendirinya, melainkan harus dilatih secara bertahap, sehingga kesabaran tertanam secara kokoh dalam jiwa kita.

Ketiga, Ibadah puasa juga melatih umat Islam untuk selalu berbuat jujur dalam berprilaku. Menahan diri dari seluruh yang membatalkan puasa dilakukan di ruang public maupun ketika dalam keadaan sendirian. Hal ini berarti orang yang berpuasa sedang dididik bersikap jujur. Terlepas dari orang lain melihat atau tidak, kita dituntut untuk melakukan sesuatu yang benar. Kejujuran ini pada intinya adalh kejujuran terhadap diri sendiri. Begitu juga sebaliknya, ketidakjujuran pada hakekatnya adalah ketidak jujuran pada diri sendiri. Sifat jujur ini jangan sampai hanya dimiliki ketika berpuasa, namun harus diaplikasikan dalam segala aspek kehidupan. Konsekuensi positif dari kejujuran dan konsekuensi negative dari ketidakjujuran akan berpulang pada individu yang melakoninya.

Keempat, Ibadah puasa Ramadhan mengajarkan kaum muslimin untuk memiliki sifat bertanggung jawab, sifat ini adalah signifikansi atau pesan utama yang dapat diambil dari ibadah puasa. Sebab tanpa rasa tanggung jawab pada diri sendiri, seseorang tidak akan melaksanakan ibadah puasa. Sebaliknya, dengan rasa tanggung jawab, seseorang akan terdorong untuk melaksanakan sesuatu, meskipun sesuatu itu berat. Karena itu, marilah kita jadikan ibadah puasa ini menjadi dasar dan bekal kita untuk menajdi orang yang selalu berusaha melaksanakan tugas kehidupan dengan penuh rasa tanggung jawab.

Kelima, Ibadah puasa juga mendidik kaum muslim untuk memiliki rasa kepedulian sosial. Dengan berpuasa kita merasakan betapa menderitanya seseorang ketika ia tidak mendapatkan sesuap nasi untuk dimakan atau secangkir teh atau air bersih untuk menghilangkan dahaga. Kepekaan terhadap nasib orang inilah salah satu pesan utama ibadah puasa. Kepekaan dan perhatian terhadap masyarakat ini bahkan merupakan salah satu ajaran terpenting dalam Islam.

Agar ibadah puasa ramadhan tahun ini tidak hanya sebatas rutinitas tahunan dan berlalu tanpa makna, penulis mengajak diri dan kaum muslim yang ada di NTB ini, bil khusus yang ada di pulau Lombok untuk dapat mengaplikasikan (mengamalkan) pesan-pesan moral yang terkandung dalam ritus ibadah puasa ramadhan tersebut.

Pemaknaan terhadap pesan-pesan moral ramadhan di atas, mutlak dilakukan, baik pada saat Ramadhan dan lebih-lebih susudah bulan Ramadhan berlalu. Hal ini penting dilakukan agar, kita tidak termasuk pada golongan orang yang berpuasa hanya mendapat lapar dan dahaga, sebagaimana yang dijelaskan oleh nabi Muhammad Saw sebagaimana yang penulis kutip di awal tulisan ini.

Semoga dengan pemaknaan dan pengaplikasian pesan-pesan moral di atas ke dalam kehidupan nyata, Allah memberikan ganjaran dan balasan terbaiknya untuk orang-orang yang berpuasa Ramadhan. Semoga! Nasrun Minallah Wa fathun Qarieb, Amien!

Berita Lainnya

Pemuda dan Transformasi Masa Depan

Redaksi Lombok Post

Penyaluran DAK Fisik dan Dana Desa Pascagempa Lombok

Redaksi Lombok Post

Kebijakan dan Pengelolaan Dana Desa Melalui KPPN Mataram

NTB Menuju Panggung (Politik) Nasional

Redaksi Lombok Post

TGB dan Masa Depan Indonesia Gemilang

Redaksi Lombok Post

Gerakan Zakat: Antara Pergerkan, Angka, dan Regulasi

Redaksi Lombok Post

DIPLOMASI KEMANUSIAAN LEMBAGA ZAKAT

Redaksi Lombok Post

LEMBAGA ZAKAT: DARI FUNDRAISING KE FRIEND-RAISING

Redaksi Lombok Post

PILKADA ZAMAN NOW

Redaksi Lombok Post