Opini

Beraninya Sama Anak Kecil

DEFINISI anak menurut Undang-Undang Perlindungan Anak No 23 tahun 2002 adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak dalam kandungan.

Defenisi undang-undang ini mencakup janin, bayi, anak-anak sampai berumur 18 tahun. Undang-undang ini juga mengatur tanggung jawab sosial anak dan tanggung jawab anak dimuka hukum.

Semua perhatian belum hilang dengan kekerasan yang menimpa Angeline. Publik kembali dibikin geger dengan kekerasan terhadap anak di Monjok, Mataram. Tragis, bocah berinisial AL yang usianya tak jauh beda dari Angel itu, mengalami banyak kekerasan fisik. Membuat miris, bocah yang seharusnya kelas III sekolah dasar (SD) itu tidak disekolahkan. Bocah AL tidak bersama orang tuanya. AL tinggal bersama kakaknya. Terungkapnya kekerasan yang dialami AL, berkat laporan dari warga sekitar. Laporan itu yang kemudian ditindaklanjuti.

Apa yang dialami AL tentu menyedihkan. Orang sekitar yang seharusnya menjaga dan melindungi justru berlaku culas.

Kekerasan (Bullying) menurut Komisi Perlindungan Anak (KPA) adalah kekerasan fisik dan psikologis berjangka panjang. Dilakukan seseorang atau kelompok terhadap seseorang yang tidak mampu mempertahankan diri dalam situasi dimana ada hasrat untuk melukai atau menakuti orang atau membuat orang tertekan, trauma/depresi dan tidak berdaya.

Kekerasan yang dialami AL bisa dilihat dengan mata. Yang mengkhawatirkan, adalah dampak psikologis tidak terlihat. Depresi dan trauma berkepanjangan yang dialami AL tetap membekas. Kekerasan yang dialami tetap terbawa sampai dewasa. Dikhawatirkan, ketika tidak sanggup mengobati trauma, prilaku keji yang diterima AL, ditularkan ke orang lain. Tentu butuh psikolog untuk menata puing-puing kejiwaan AL yang remuk.

Batas-batas kekerasan menurut Undang-Undang Perlindungan Anak nomor 23 tahun 2002 ini, Tindakan yang bisa melukai secara fisik maupun psikis yang berakibat lama, dimana akan menyebabkan trauma pada anak atau kecacatan fisik akibat dari perlakuan itu. Dengan mengacu pada definisi, segala tindakan apapun seakan-akan harus dibatasi, dan anak harus dibiarkan berkembang sesuai dengan hak-hak yang dimilikinya (Hak Asasi Anak). Hak anak untuk menentukan nasib sendiri tanpa intervensi dari orang lain.

Semakin maraknya kekerasan terhadap anak, patut menjadi perhatian bersama. Anak sebagai generasi penerus. Tunas muda yang menanti untuk dipupuk menjadi jiwa-jiwa tangguh. Lawan kekerasan terhadap anak!.(*)

Related posts

Ujian Nasional (UN) 2015 Masih Perlukah?

Iklan Lombok Post

Istilah Backpacker Dalam Pariwisata Kita

Iklan Lombok Post

MEMBISIKI BIROKRASI

Redaksi Lombok post

Leave a Comment