Lombok Post
Feature

Gasing, Permainan Nenek Moyang Sambil Menunggu Bedug Magrib

SERU: Sejumlah orang bermain gasing tradisional di Labuhan Haji sambil menunggu waktu berbuka.

Seluruh penjuru Lombok mengenal permainan yang satu ini. Gangsing atau gasing selalu dimainkan untuk mengisi waktu luang. Saat berpuasa permainan ini juga kerap dimainkan sembari menunggu bedug Magrib.

SOREA�seusai salat Ashar, sejumlah pria terlihat asyik dengan permainanannya. Mereka yang umumnya sudah menikah, bersorak gembira sambil memainkan sebuah mainan kayu yang disebut gasing. Tak ada rasa canggung apalagi malu kendati mereka bermain layaknya anak kecil yang begitu kegirangan.

Setelah satu gasing berputar di tanah, lawannya harus bisa menjatuhkan gasing tersebut. Caranya dengan menabrakkan gasing pesaing hingga gasing musuh tak lagi berputar. Jika seketika itu saat ditabrakkan langsung berhenti, otomatis pemilik gasing yang masih berputar pemenangnya.

Namun jika setelah ditubruk, gasing lawan tetap saja menari-nari, maka harus ditunggu siapa yang lebih dahulu terjatuh. Tali yang dililit melingkar pada badan atas gasing menjadi alat pemutar.

Saat dilempar ke tanah, tali juga ditarik dalam waktu bersamaan. a�?Mainnya seru, makanya saya tak pernah bosan,a�? kata Amin, 45 tahun.

Jauh sebelum ada gasing modern yang kini dimainkan anak-anak, masyarakat sasak sudah mengenal permainan yang kerap menjadi adu ketangkasan ini. Di berbagai penjuru desa, tua muda memainkannya.

Bagi para orang dewasa seperti yang sedang bermain di Labuhan Haji, saat ini mereka memainkan gasing yang jauh lebih besar dengan bentuk melebar. Bagi anak-anak, gasing yang dimainkan tak berbentuk pipih melainkan agak lonjong.

Bahkan bagi anak yang lebih kecil lagi, ada gasing mini yang dibentuk dari buah yang ditusuk dengan lidi. Jika banyak permainan tradisional mulai hilang dimakan waktu, tak demikian dengan gasing.

Di Lombok Timur misalnya, kejuaraan tingkat desa hingga kecamatan masih kerap dilakukan. Tidak harus menunggu bulan puasa memang, namun saat Ramadan biasanya menjadi selingan untuk menunggu waktu berbuka.

Bukti kedekatan masyarakat suku Sasak dengan gangsing salah satunya dibuktikan dengan nama sebuah bukit di Sembalun. Bukit setinggi 1700 meter itu dikenal dengan nama Bukit Pergangsingan. Warga setempat meyakini di zaman para raja dulu, bukit itu kerap dijadikan lokasi bertanding para keluarga bangsawan.

a�?Di puncak sanalah nenek moyang kita sering bermain,a�? kata Sembahulun, tokoh sekitar.

Dengan pemandangan luar biasa di puncak Pergangsingan, menjadikan permainan gasing menjadi semakin menarik. Kendati kini tak ada lagi yang bermain benda berputar itu di sana, warga tetap akan mempertahankan nama bukit tersebut. a�?Itu termasuk entitas kita suku Sasak,a�? kata pria yang juga mendalami budaya Lombok itu. (bersambung)

Berita Lainnya

Bilik Bercinta di Tempat Pengungsian yang Tinggal Cerita

Redaksi Lombok Post

Pengalaman Dramatis Pendaki Terjebak Gempa di Gunung Rinjani (1)

Redaksi Lombok Post

Mereka yang Tetap Tegar Menghadapi Gempa di Sambelia

Nasihat Mendiang Ayah Menjadi Pegangan Hidup Zohri

Mengunjungi Lalu Muhammad Zohri, Sang Juara Dunia

Lalu Muhammad Zohri, Sprinter Muda NTB yang Sabet Juara Dunia

Melihat Festival Layang-Layang Raksasa di Pantai Loang Baloq

Kisah Penambang yang Lolos dari Lubang Maut Sekotong (1)

Festival Seribu Bedug di Pulau Seribu Masjid

Redaksi Lombok Post