Lombok Post
Praya

Sisakan Peninggalan Kusen Jendela dan Beduk

BEDUK: Cicit Raden Nune Umas (kanan) HL Zainudin didampingi pengurus masjid Lalu Patrah, berfoto di belakang beduk peninggalan Raden Nune Umas.

* Menelusuri Jejak Historis Masjid Raden Nune Umas Bonjeruk (2)

Masjid Raden Nune Umas menyisakan peninggalan sejarah berupa, kusen jendela, serpihan genteng dan kayu penyangga atap serta beduk.

SEJUMLAHA�A�benda berharga itu menjadi catatan sejarah perjalanan masjid yang didirikan Raden Nune Umas. Untuk kusen jendela masih terpasang di sisi kiblat masjid. Pengurus dan keturunan Raden Nune Umas sengaja tidak mengganti kusen jendela itu, untuk mengenang jerih payah Raden Nune Umas membangun masjid.

Kecuali, kaca jendela yang diganti berkali-kali karena pecah dan dimakan usia. Cicit Raden Nune Umas, yang merupakan pengurus sekaligus penanggungjawab masjid, HL Zainudin mengaku kayu kusen jendela yang digunakan pendulunya itu sangat kuat. Terbukti sejak ratusan tahun silam, kayunya tetap utuh tak dimakan rayap. Kayu itu disebut kayu besi.

a�?Memang ada juga sisa-sisa genteng Palembang yang diambil Raden Nune Umas bersama masyarakat Bonjeruk ke Ampenan pada masa lalu. Tapi, kami sudah ganti karena banyak yang retak,a�? ujarnya.

Serpihan genteng dan penyangga atap ilalang, ungkap Zainudin masih tersimpan di area masjid. Tidak itu saja, peninggalan berupa beduk yang terbuat dari kulit sapi betina dengan kayu berkualitas, sampai saat ini terjaga. Beduk itu tetap ditabuh setiap salat lima waktu. Jumlah pukulannya pun disesuaikan dengan waktu salat. Misalnya, salat zuhur empat kali tabuh, salat subuh dua kali. Begitu seterusnya.

Yang menabuh beduk itu pun, sambung Zainudin tidak sembarang. Hanya mereka yang kategori sesepuh dan berpengalaman yang diperkenankan. Karena dikhawatirkan salah jumlah pukulan, berakibat pada kebingungan warga yang mendengarnya. Beduk ditabuh terlebih dahulu, sebelum panggilan azan. Jika listrik padam, maka cukup dengan menabuh saja masyarakat sudah mengetahui waktu salat.

Sayangnya, dari dua sisi beduk. Satu diantaranya termakan usia. Sehingga, pengurus masjid hanya menggunakan satu sisi saja. Kendati demikian, keberadaan beduk yang ditempatkan di pintu depan masjid tersebut menjadi salah satu pengenang dan pengingat sejarah Raden Nune Umas.

a�?Untuk peninggalan sejarah lainnya sudah musnah karena termakan usia. Tapi, bagi kami yang terpenting adalah nama masjid ini tetap kami sebut masjid Raden Nune Umas. Tidak boleh diganti,a�? ujar Zainudin.

Dari informasi yang dikumpulkan Lombok Post, konon Raden Nune Umas juga menyiapkan pentungan yang tergantung di pohon beringin. Sayangnya, pentungan yang dimaksud sudah hilang, entah kemana. Sementara, pohon beringin hanya menyisakan akarnya saja yang sudah tua.

Jejak-jejak perjalanan Raden Nune Umas yang merupakan tokoh agama, pemerintahan dan pejuang melawan penjajah hanya menyisakan beberapa benda di masjid.
a�?Dulu masjid ini hanya hutan belantara. Tidak ada yang berani lewat di area masjid ini. Namun, melalui tangan beliau (Raden Nune Umas) hutan berubah menjadi masjid dan pemukiman warga,a�? sambung tokoh agama desa setempat, yang juga pengurus masjid Raden Nune Umas, Lalu Patrah.(Bersambung)

Berita Lainnya

Maulid, Momentum Jaga Persatuan Umat

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost

Jaksa Kumpulkan 96 Kades Terpilih

Redaksi LombokPost

Dewan Pertanyakan Penyedia Panel RISHA

Redaksi LombokPost

Kadis Baru Ditugaskan Perangi Calo

Redaksi LombokPost

PT Angkasa Pura I Salurkan Dana Pinjaman Mitra Binaan

Redaksi LombokPost