Lombok Post
Metropolis

Alat Penakar Hujan Bakal Diperbanyak

PENAKAR HUJAN: Inilah wujud alat penakar hujan yang idealnya ada di seluruh kecamatan di NTB. Saat ini dari 116 kecamatan di NTB, baru 107 kecamatan yang telah memiliki alat ini. Akibatnya, masih dijumpai petani salah pola tanam, yang berujung pada gagal panen.

DOMPU – Sebanyak 20 hektar lahan pertanian di Kempo, Kabupaten Dompu, terkena kekeringan. Tidak adanya teknologi yang menunjang pembacaan iklim curah hujan, jadi kendala penyuluh untuk memberikan informasi terhadap petani. Akibatnya, petani salah menentukan pola tanam.

a�?Sudah mulai dari bulan Mei 2015 daerah sini terkena kekeringan,a�? kata Koordinator Badan Penyuluhan Pertanian Kecamatan Kempo Mashujam.

Menurutnya, memasuki bulan juli ini, total lahan 20 hektare masuk ke dalam kategori berat yang terkena kekeringan. Sebanyak 20 hektar itu, lanjutnya, terbagi ke 15 hektar lahan yang ditanami padi dan 5 hektar ditanami oleh jagung. a�?Yang 20 hektar ini merupakan sawah tadah hujan,a�? ujar Mashujam.

Mashujam mengakui, petani terkecoh dengan perubahan iklim yang terkesan mendadak. Jika melihat siklus tahun lalu, di bulan mei dan juni, daerah Kempo masih mengalami musim hujan. Terlebih lagi, pada bulan April 2015 ini, dari pengamatan alam yang dilakukan oleh petani, kecamatan Kempo A�masih mengalami hujan dengan intensitas tinggi. a�?Petani memperkirakan hujan sampai bulan Mei, ternyata hujan berhenti di akhir bulan April,a�? terangnya.

Akibat perkiraan hujan yang akan berlangsung hingga bulan Mei, lanjutnya, petani memaksakan untuk menanam padi. Kenyataan di lapangan terjadi sebaliknya. Hujan berhenti di akhir April, sehingga tanaman padi yang membutuhkan air yang banyak, terancam gagal panen. a�?Seharusnya, pola tanam yang benar, ketika sudah ada tanda-tanda memasuki musim kering, petani mulai menanam jagung yang tidak membutuhkan banyak air,a�? ungkap Mashujam.

Mashujam mengakui, para penyuluh tidak bisa berbuat apa-apa. Minimnya teknologi dan informasi untuk mengetahui perubahan cuaca secara berkala, membuat penyuluh di Kecamatan Kempo tidak bisa berbuat apa-apa.

Sementara itu, Sekretaris Badan Koordinasi Penyuluhan NTB Husnanidiaty Nurdin mengatakan, alat untuk mengukur curah hujan yang disebut Penakar Hujan Observatorium, penting untuk ada di setiap kecamatan se-NTB. a�?Sekarang kan baru ada 107 alat pengukuran. Belum cukup untuk mengcover seluruh kecamatan yang ada di NTB,a�? katanya saat safari Ramadan di Kabupaten Dompu.

Padahal, lanjutnya, jika penakar hujan observatorium itu bisa ada di setiap kecamatan, tentu penyuluh di lapangan tidak kesulitan untuk memberikan informasi terhadap terjadinya perubahan cuaca kepada petani. Dengan demikian, petani tidak akan salah dalam melakukan pola tanam. a�?Kita usahakan ke BMKG untuk dapat menyediakan alat ini di kantor BPP yang ada di tiap kecamatan di NTB,a�? tandasnya. (cr-dit/r12)

Berita Lainnya

Zul-Rohmi Perlu Banyak Sosialisasi

Redaksi Lombok Post

Mengejar Mimpi Jadi Daerah Industri

Redaksi Lombok Post

Gerbang Kota Ikut Terseok-Seok!

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Ogah Berniaga di Jalan Niaga

Redaksi LombokPost

Tolong, Jangan Masuk Angin!

Redaksi LombokPost

Volume Monumen Tak Sesuai Kontrak, Rekanan Didenda Rp 1,2 Juta Perhari

Redaksi LombokPost