Lombok Post
Giri Menang

Pengusaha Raup Rupiah, Giliran Warga Raup Masalah

MEGAH: Bangunan vila yang megah belum mampu menigkatkan laju perekonomian warga sekitar Senggigi.

Pengusaha berlomba-lomba menanam modal di kawasan wisata senggigi. Usaha vila, hotel, dan hiburan malam kian mengeliat. Tapi, hadirnya investor itu belum mampu mengangkat perekonomian warga sekitar.

***

PANORAMA senggigi panen sanjungan. Pantai yang indah dan bukit dengan embusan angin sejuk khas Lombok diburu pengusaha. Investor dari berbagai negara saling berebut demi mendapat peluang berinvestasi di pulau kawasan wisata paling moncer di NTB ini.

Pengusaha asing maupun lokal rela membeli tanah dengan harga mahal. Mereka mendirikan usaha yang menghasilkan gemerincing rupiah berlipat-lipat. Demi meraih hasrat bisnisnya, para pengusaha tak hanya mengincar area pinggir pantai. Area perbukitan pun tak kalah menarik.

Gunung Senggigi dikeruk, lalu diganti dengan vila-vila megah. Kini, bangunan vila berjejer layaknya kota baru ditengah bukit nan terjal.

Tapi coba tengok dari atas vila itu. Ada pemandangan lain yang jelas berbeda. Warga yang memegang cangkul dan membawa jala ikan masih menghiasi kawasan wisata tersebut. Mereka masih dibelit kemiskinan yang rasanya tiada ujung.

Mereka bekerja dan mencari uang hanya untuk kebutuhan makan sehari. Esoknya lagi, mereka harus membanting tulang guna membuat dapurnya tetap mengepul. a�?Bangunan di sekitar kami boleh bagus, tapi kami masih miskin,a�? ujar Sahril, warga Dusun Duduk, Desa Batulayar, Kecamatan Batulayar kepada koran ini.

Rasanya memang tak adil. Bayangkan saja, dusun mereka dikeliling bangunan vila, hiburan malam, dan hotel-hotel. Namun, warga tetap bergelut dengan penghasilan di bawah standar. a�?Jangan dikira, hidup di tengah kemewahan Senggigi, kami mendapat percikan dari usaha mereka. Kalaupun ada, pengusaha hanya sebatas memberikan sumbangan seadanya,a�? aku dia.

Sahril mengungkapkan, bisa dibilang warga yang tinggal dilingkaran kawasan wisata Senggigi hanya menjadi penonton. Dirinya hanya mendapat cerita saja di tengah perputaran ekonomi di sana. a�?Hadirnya usaha-usaha ini belum mampu membuat kami sejahtera. Yang miskin tetap miskin,a�? keluh dia.

Sekadar diketahui, pajak di kawasan wisata seperti hotel, tahun ini ditargetkan mencapai Rp 33 miliar. Sedangkan pajak restoran ditarget hingga Rp 16 miliar. Untuk target pajak hiburan malam, Pemkab Lobar memasang angka Rp 2,3 miliar.

Sumbangan pendapatan itu berasal dari perputaran uang yang ada di kawasan wisata itu. Sementara, warga hanya menikmati cerita terhadap penghasilan daerah tersebut. Warga tetap bekerja seperti sedia kala. Warga banyak yang masih tinggal di rumah kumuh. Bahkan, ada pula warga yang hidup tanpa listrik. a�?Begitulah kondisi kami sampai hari ini,a�? kata Kadus Senggigi, H Farhan. (Islamuddin/Giri Giri Menangbersambung/r12)

Berita Lainnya

Dengan Kartu Nikah Administrasi Lebih Mudah, Benarkah?

Redaksi LombokPost

Harga Kedelai dan Kacang Tanah Melonjak

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Tiga Desa dan Dua Sekolah Diaudit Khusus

Redaksi LombokPost

PJU di PLTU Jeranjang Segera Dibangun

Redaksi LombokPost

Pemancing Diduga Hanyut di Perairan Labuan Poh

Redaksi LombokPost

Sinyal Mutasi Makin Menguat

Redaksi LombokPost

Sekolah Terdampak Gempa Belum Diperhatikan

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Butuh Lebih Banyak Huntara

Redaksi LombokPost