Lombok Post
Metropolis

Merdunya Rebana Sasak

rebana
MEMIKAT : Para pemain rebana asal Dasan Agung saat mengikuti pawai Bulan Citra Budaya (BCB) 2014 di Mataram.

MATARAM a�� Rebana merupakan salah satu alat musik khas masyarakat Sasak. Jenis musik ini merupakan bentuk perpaduan antara kebudayaan Islam Arab dengan etnis Sasak yang ada di Lombok.

Sekilas, musik rebana ini mirip dengan gamelan, menggunakan pakaian adat Sasak, ada alat renceh, suling dan gong. Namun berbedanya gong rebana terbuat dari kulit, bahan dasarnya pun dari lingkaran kayu, bagian tengahnya dibiarkan berlubang dan dilapisi kulit sapi atau kambing.

Berbeda juga dengan rebana marawis yang ditabuh menggunakan tangan. Rebana ini ditabuh menggunakan alat pukul khusus.

Bunyi-bunyian yang dihasilkan musik ini sangat khas, dan setiap ketukan gendang memiliki makna tersendiri. Suara musik rebana dipadukan dengan syair-syair pujian kepada Allah SWT, dan Nabi Muhammad SAW.

Menurut Mamiq Jagat, salah satu pemerhati budaya di Kota Mataram, pukulan dalam setiap alunan musik rebana mengandung makna bahwa kemanapun manusia melangkah tetap juga akan mati dan kembali kepada Allah.

a�?Lito late, lauq daye, timuq bat, akhirnya akan tetap ke kubur,a�? jelasnya.

Artinya bolak balik dari timur ke barat, selatan ke utara namun akan tetap balik atau berakhir di dalam kubur. Hal itu dapat dimaknai, kemanapun manusia melangkah pergi, tetap akan berakhir dengan kematian. Untuk itu manusia tidak boleh sombong dalam menjalani hidup dan harus berbuat baik selama hidup.

Rebana biasanya dipentaskan untuk menyambut tamu kehormatan, atau dalam acara-acara hari besar Islam.

Musik rebana bisa dinikmati di beberapa lokasi di Kota Mataram, seperti halaman kantor Disbudpar Kota Mataram di kawasan Jalan Udayana yang menjadi pusat latihan dan informasi wisata. Selain itu juga bisa mendatangi langsung sanggar yang ada di Lingkungan Otak Desa, Kelurahan Dasan Agung, dan dalam acara a�� acara perayaan hari besar umat Islam di Lombok.

Saat ini pengembangan musik rebana makin memprihatinkan. Para seniman musik ini makin berkurang, sementara regenerasi tidak terjadi. Jika dibiarkan terus, maka bukan tidak mungkin musik ini akan punah. (ili/r4)

Berita Lainnya

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost

Ayo, Keruk Sungai Ancar!

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Harus Nabung Stok Sabar

Redaksi LombokPost

Pol PP Mengeluh Lagi

Redaksi LombokPost

Evi: Kasihan Pak Sudenom

Redaksi LombokPost

Yang Lolos TKD Jangan Senang Dulu!

Redaksi LombokPost

Sekolah Sesak, ABK Terdesak

Redaksi LombokPost

Belum Satu pun Rumah Tahan Gempa yang Terbangun

Redaksi LombokPost