Lombok Post
Feature Headline

Begibung Dulang Saji, Jadi Momen Silaturahmi

Dulang
BEGIBUNG : Warga Dusun Tenges-enges, Desa Dasan Tapen, Kecamatan Gerung Lombok Barat begibung dulang di masjid dalam rangkaian tradisi maleman.

Sebelum berbuka, para ibu rumah tangga di Dusun Tenges-enges, Dasan Tapen Gerung Lombok Barat berbondong ke masjid. Mereka membawa dulang saji, hidangan berbuka bagi para jamaah lelaki yang sudah berada di masjid sejak ashar. Dulang saji ini menjadi tanda tradisi maleman akan dimulai.

***

AZANA�maghrib tidak lama lagi. Puluhan dulang saji sudah menunggu warga yang sedang zikir di masjid. Dulang (nampan tempat menaruh makanan) ini berisi berbagai jenis makanan khas Lombok, seperti sate pusut (sate kelapa), pelecing kangkung, pelecing ayam, telur, serebuk (urap), dan sebagainya. Makanan ini disusun dalam satu nampan besar dengan tutup warna warni.

Selesai zikir, remaja masjid mengangkat dulang itu dan menyajikannya pada para jamaah sebagai hidangan berbuka. Begitu beduk tanda azan maghrib, warga pun berbuka puasa dengan khidmat. Menyantap makanan dalam suasana kekeluargaan. Tua, muda, juga anak-anak berbuka bersama sebelum salat berjamaah.

Meski acara inti maleman adalah zikir, doa, namatan (khatam Alquran) dan menyalakan dile jojor (lampu yang terbuat dari buah jampung, ditumbuk, lalu dililitkan ke penusuk seperti sate). Namun sesi penyajian dulang adalah hal yang penting. Terutama bagi ibu-ibu di kampung tersebut. Bagi mereka, momen maleman dan peringatan Nuzulul Quran adalah pesta besar kampung. Sehingga setiap rumah mengeluarkan dulang untuk dihidangkan bagi para jamaah yang beribadah di masjid.

Soal masakan tentu menjadi bagian para ibu rumah tangga. Sejak pagi mereka tidak kalah sibuk. Bahkan jauh hari sebelum maleman, mereka sudah menyiapkan segala bahan untuk membuat dulang.

Seperti Inaq Jannah. Dua hari sebelum acara ia sudah membeli berbagai bahan makanan di pasar demi membuat hidangan terbaik. Termasuk jajanan dan minuman teh dan kopi. Dua minuman ini selalu disediakan.

Seharian, wanita ini memasak di dapurnya. Meksi lelah, dan mengeluarkan biaya, semua itu dilakukan dengan ikhlas. Sehingga rasa lelah tidak terasa, terbayar ketika melihat masakannya disantap orang yang berzikir.

a�?Kami ingin bersedekah, dan sebagai bentuk rasa syukur pada Allah,a�? katanya.

Sama dengan Inaq Jannah, Ibu Anah, warga lainnya juga melakukan hal yang sama. Memasak dan menyediakan dulang saji bagi para jamaah di masjid. Bagi dirinya, nilai materi yang dikeluarkan tidak seberapa. Dibandingkan pahala yang akan didapatkannya. Warga juga tidak pernah terlalu memperhitungkan berapa biaya yang dikeluarkan.

Semuanya dilakukan dengan senang dan ikhlas. Tanpa paksaan. Apalagi maleman hanya satu kali setahun dan mentradisi di kalangan masyarakat. Tidak masalah bagi para ibu-ibu ini mengurus makanan selama acara di masjid berlangsung. Usai acara pun mereka kembali harus mengambil nampan dulang yang sudah habis.

a�?Rasa nikmat yang diberikan Allah tidak sebanding dengan apa yang kami lakukan,a�? katanya.

Karena maleman sendiri merupakan malam mencari Lailatul Qadar, maka warga juga memanfaatkannya untuk acara namatan, syukuran bagi anak-anak yang sudah khatam Alquran. Mereka diuji di depan warga membaca ayat-ayat Alquran.

a�?Di malam yang mulia ini, warga berharap mendapat berkah,a�? kata H M Kurdi, salah seorang warga.

Kemeriahan tradisi malemen tidak hanya dirasakan warga di Dusun Tenges-enges. Warga dari kampung sebelah juga diundang untuk datang dan menikmati hidangan dulang bersama saat buka. Cara itu dilakukan agar hubungan antar sesama warga semakin erat. Silaturahmi antar kampung terjaga dengan baik.

a�?Kami saling undang, sekarang di sini, besok di dusun sebelah, dan seterusnya sampai tanggal 29 Ramadan,a�? ujaranya.

Tradisi saling mengundang ini juga membuat hubungan sosial antar masyarakat di Desa Dasan Tapen terjalin dengan baik. Hidup rukun dan damai.

a�?Kamu dulu semua saudara dalam satu kampung, cuma sekarang beda-beda dusunnya,a�? ucap pria bersorban putih ini.

Selaku warga ia berharap tradisi ini bisa terus hidup dan dipertahankan. Sebab banyak manfaat positif yang bisa dirasakan warga. Tidak sekadar mengeluarkan dulang dan menyalakan dile jojor.

a�?Di malam Lailatul Qadar yang penuh berkah, kita isi juga dengan saling mendatangi satu sama lain,a�? pungkasnya. (SIRTUPILLAILI/r7)

Berita Lainnya

Korban Gempa Tagih Janji Jokowi

Redaksi LombokPost

Bantuan Air Bersih Dihentikan

Redaksi LombokPost

Pembangunan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi LombokPost

Pilkades Serentak Harus Dievaluasi

Redaksi LombokPost

4564 Honorer Lotim Akan Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Akhirnya Darmaga Labuhan Haji Dikeruk Juga!

Redaksi LombokPost

7.000 Petisi Penolakan Juknis Bantuan Gempa

Redaksi LombokPost

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Longsor!

Redaksi LombokPost