Lombok Post
Metropolis

Ibu-Ibu Pejabat Punya Gaya Sendiri

pejabat
KECE : Ketua BKOW NTB Hj Syamsiah Amin berpose bersama Kepala Sekretariat Bakorluh NTB Hj Husnanidiaty Nurdin.

Tradisi memakai baju baru menyambut lebaran berlangsung lama. Padahal, tidak ada perintah dari agama untuk melakukannya. Lalu bagaimana pejabat di lingkup Pemprov NTB menyikapinya? Berikut laporannya.

***

DI INDONESIA perayaan Idul Fitri selalu dibarengi dengan tradisi memakai baju baru. Tidak heran memasuki hari-hari terakhir Ramadan, masyarakat berbondong-bondong menuju pusat perbelanjaannya. Tujuannya, membeli baju lebaran.

a�?Sebagai seorang ibu rumah tangga dan seorang istri juga, sudah menjadi kewajiban untuk saya dalam mempersiapkan segala kebutuhan lebaran. Termasuk baju lebaran,a�? kata Hj Syamsiah Amin, Ketua Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) NTB, sekaligus istri dari Wakil Gubernur Provinsi NTB H Muh Amin.

Menurutnya, hal terpenting dari lebaran itu bukan baju barunya. Tapi, hati yang selalu bersyukur karena tetap sehat saat hari kemenangan. Bisa beraktifitas dan merayakan tradisi lebaran bersama keluarga besar.

a�?Baju tidak harus baru, yang penting bersih,a�? ujarnya dengan tersenyum.

Walaupun demikian, Istri Wagub ini menjelaskan, seperti warga pada umumnya di dalam keluarganya, mereka juga masih menjalankan kebiasaan membeli baju baru untuk lebaran. Tetapi tidak sekedar memakai baju baru yang biasa-biasa saja. Baju baru yang dipakai merupakan baju khas NTB. Sehingga bisa tampil beda dengan orang lain.

a�?Sekaligus mempromosikan kain tenun khas NTB. Mungkin nanti baju lebarannya memakai tema sasambo,a�? ungkapnya.

Sasambo sendiri merupakan motif batik yang menggabungkan tiga etnis yang mendiami bumi NTB, yaitu Sasak, Samawa, dan Mbojo (Sasambo). Karena itu, sambung Hj Syamsiah Amin, sebagai pemimpin daerah, sudah berkewajiban untuk mempromosikan baju khas daerah.

a�?Saya dan suami paling menyukai sasambo dari Bima, karena unggul dalam hal kualitas dan desainnya,a�? katanya.

Senada dengan Hj Syamsiah Amin, Kepala Sekretariat Badan Koordinasi Penyuluhan (Bakorluh) NTB Hj Husnanidiaty Nurdin menyatakan, ia dan sekeluarga pada lebaran tahun ini akan kembali memakai baju baru. a�?Tahun ini keluarga memakai tema tenun Bima,a�? kata Eny, sapaan akrabnya.

Menurutnya, tradisi di keluarganya, baju lebaran harus menggunakan tema. Setiap tahun tema baju lebarannya selalu berganti. Tujuannya agar rapi, bersih tidak sembarangan, sekaligus memperkenalkan kain khas daerah.

a�?Untuk penyegaran saja, tiap tahun diupayakan baru. Lagipula, tidak setiap hari juga kan kita pakai baju baru,a�? jelas Eny.

Persiapan baju lebaran dilakukan jauh-jauh hari sebelum hari raya Idul Fitri. Dimulai dengan pemilihan tema terlebih dahulu. Keputusan tema apa yang dipakai tahun ini, dirembug dengan seluruh keluarga.

a�?Karena seragam, semuanya harus setuju,a�? ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menambahkan, setelah tema didapat, maka tinggal memilih bahan saja. Ketika bahan sudah ada, tinggal diserahkan saja ke penjahit. Proses semua ini, diusahakan selesai sebelum memasuki bulan puasa.

a�?Biar tidak mengganggu ibadah saat bulan puasa. Repot kan ketika sedang puasa kita harus keliling untuk mencari bahan baju,a�? kata Eny.

Untuk biayanya, Eny mengaku tidak sampai menguras kocek dalam-dalam. Harganya masih terjangkau jika ingin menerapkan penggunaan tema untuk baju lebaran. Malah lebih murah karena dibeli dalam jumlah banyak atau borongan satu keluarga. a�?Tidak mahal. Ini juga pengeluaran untuk satu tahun sekali.a�? pungkas Eny. (Wahidi Akbar Sirinawa/r8)

Berita Lainnya

Zul-Rohmi Perlu Banyak Sosialisasi

Redaksi Lombok Post

Mengejar Mimpi Jadi Daerah Industri

Redaksi Lombok Post

Gerbang Kota Ikut Terseok-Seok!

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Ogah Berniaga di Jalan Niaga

Redaksi LombokPost

Tolong, Jangan Masuk Angin!

Redaksi LombokPost

Volume Monumen Tak Sesuai Kontrak, Rekanan Didenda Rp 1,2 Juta Perhari

Redaksi LombokPost