Lombok Post
Feature

Miniatur Masjid Bikin Pengangguran Sibuk

KERJA: Para remaja masjid lingkungan Pandan Salas sedang mengerjakan miniatur masjid untuk persiapan parade malam takbiran Idul Fitri 1436 H.

lebaran mulai terasa. Warga bersiap-siap menyambut hari kemenangan. Salah satunya menyiapkan pernak pernik malam takbiran. Salah satunya, miniatur masjid.

SOREA�itu, beberapa remaja Lingkungan Pandan Salas berkumpul di depan masjid Agung Al-Muttaqien. Berpakaian santai, ada yang menggunakan kaos oblong dengan topi ala R and B dengan celana jeans pendek.

Sambil menunggu kegiatan dimulai, mereka asyik bercanda. Beberapa saat kemudian, Suharli, ketua remaja masjid Agung Al-Muttaqien datang menghampiri dan memanggil untuk berkumpul. Rupanya, ketua remaja tersebut ingin mengadakan briefing membahas rencana pembuatan miniatur masjid.

a�?Ayo ngumpul, kita diskusi dulu tentang rencana pembangunan masjid-masjidan,a�? ajak Suharli.

Tak jauh dari tempat mereka berkumpul, berdiri sebuah miniatur masjid yang hampir rampung. Bangunan berukuran empat meter tersebut masih dalam proses pengecatan. Beberapa bagian bercat hijau tidak merata. Kubah yang terbuat dari besi plat pun belum rampung.

Setelah berdiskusi beberapa menit, mereka memulai gotong royong. Menuntaskan proyek masjid mini tersebut. Ada yang bertugas mengecat. Ada pula yang bertugas mengurus kubah.

Mereka mengerjakannya tanpa mengeluh. Sambil bercanda satu sama lain agar tidak membosankan.

Aktivitas para pemuda ini sudah dimulai dua hari sebelum puasa. Mulai dari merancang, membuat pola desain bentuk miniatur masjid. Dengan harapan, masjid kecil ini nantinya bisa menjadi terbaik saat diarak pada malam lebaran.

Suharli mengatakan, pembuatan masjid ini membutuhkan dana lumayan besar. Sejak awal pembuatan, sudah menelan biaya sekitar lima juta rupiah. Namun, dana tersebut masih belum cukup untuk memenuhi semua kebutuhan pembuatan.

Untuk sementara ini, hanya beberapa saja bahan yang bisa didapatkan. a�?Dana kita untuk membuat masjid mini ini masih kurang,a�? keluhnya.

Dana pembangunan miniatur masjid tersebut merupakan hasil iuran anggota remaja masjid. Iuran tersebut dibayar berdasarkan dua kategori. Yaitu, remaja masjid yang berpenghasilan dan remaja masjid pengangguran. Untuk remaja masjid berpenghasilan atau sudah bekerja, dikenakan iuran sebesar Rp 40.000 per orang. Sementara untuk remaja masjid pengangguran, membayar sebesar Rp 20.000 per orang.

Selain dari iuran para remaja masjid, Suharli mengaku, membuat proposal untuk menambah jumlah dana. Ia memasukkan proposal tersebut ke toko-toko di sekitar lingkungan tempatnya tinggal.
a�?Alhamdulillah, kita dapat dana tambahan dari sana,a�? ucapnya.

Meski dapat dana tambahan dari proposal yang ia buat, Suharli mengakui dana tersebut masih kurang. Ia bersama teman-temannya menggalang dana dari masyarakat sekitar lingkungannya. Mereka tidak mematok jumlah yang harus diberikan warga. Bagi mereka, sumbangan seikhlasnya dari warga sudah merupakan anugerah.

Meski belum memiliki cukup dana, semangat puluhan anggota Remaja masjid Agung Al-Muttaqien tidak surut, mereka tetap optimis bisa merampungkannya. Mereka bahkan rela bekerja hingga dini hari. Begadang. Mengerjakan proyek miniatur masjid memberikan semangat tersendiri. Sebab melalui masjid itu ia bisa merasakan aroma lebaran yang semakin dekat. Selain itu, pemuda yang menganggur juga punya kesibukan.

a�?Kalo siang hari tidak dikerjakan, banyak yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Kita mengerjakannya baa��da terawih hingga sebelum sahur,a�? ceritanya.

Antusiasme remaja masjid Agung Al-Muttaqien tersebut dimotivasi oleh perasaan gembira dapat ikut berpartisipasi dalam parade takbiran malam Idul Fitri 1436 H. Mereka sangat bangga bisa ikut serta menyemarakkan gebyar sekali setahun tersebut. Selain itu, pawai takbiran ini ditujukan untuk syiar islam dan menghidupkan malam hari raya.

a�?Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW: Siapa saja yang menghidupkan malam dua hari raya, maka Allah akan menghidupkan hatinya kelak di hari kiamat,a�? jelas lelaki lajang tersebut.

Suharli juga mengatakan, melalui momen pembuatan masjid-masjidan tersebut, para remaja masjid dapat menjalin tali silaturrahmi sesama remaja mesjid. Mereka juga dapat mempererat rasa loyalitas dan kebersamaan layaknya saudara kandung.

Pembangunan miniatur masjid tersebut tidaklah semudah yang terlihat. Pembuatnya menemukan kesulitan dalam mencocokan desain dengan buatan aslinya. Mereka menggunakan aplikasi autocat untuk membuat desain. Beberapa bagian di desain aplikasi tersebut sulit untuk dibuat ke dalam bentuk asli. Sehingga, beberapa bagian terlihat sedikit berbeda.

Namun dibalik itu semua, Suharli yakin pembangunan miniatur masjid tersebut dapat rampung lima hari sebelum idul fitri.

a�?H-5 masjid kecil ini pasti sudah rampung. Jadi, siap untuk digunakan parade takbiran malam lebaran nanti,a�? tandasnya. (*/r8)

Berita Lainnya

Bilik Bercinta di Tempat Pengungsian yang Tinggal Cerita

Redaksi Lombok Post

Pengalaman Dramatis Pendaki Terjebak Gempa di Gunung Rinjani (1)

Redaksi Lombok Post

Mereka yang Tetap Tegar Menghadapi Gempa di Sambelia

Nasihat Mendiang Ayah Menjadi Pegangan Hidup Zohri

Mengunjungi Lalu Muhammad Zohri, Sang Juara Dunia

Lalu Muhammad Zohri, Sprinter Muda NTB yang Sabet Juara Dunia

Melihat Festival Layang-Layang Raksasa di Pantai Loang Baloq

Kisah Penambang yang Lolos dari Lubang Maut Sekotong (1)

Festival Seribu Bedug di Pulau Seribu Masjid

Redaksi Lombok Post