Lombok Post
Pendidikan

Orientasi Jangan Ada Kekerasan

H Zainal Arifin
Kabid Dikdas Dinas Dikpora Mataram

MATARAM – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Mataram menekankan pihak sekolah tak melakukan tindakan kekerasan pada saat masa orientasi peserta didik baru (MOPDB) yang akan digelar mulai 23 Juli. Rencananya, seluruh siswa SD, SMP, dan SMA memulai tahun ajaran baru akan serentak dilaksanakan. Mengantisipasi adanya kekerasan, Dinas Dikpora Mataram membuat peraturan yang harus ditaati oleh pihak sekolah.

a�?Orientasi harus sesuai dengan hajatannya. Yakni memperkenalkan lingkungan sekolah,a�?kata Kabid Dikdas Dinas Dikpora Mataram H Zainal Arifin pada Lombok Post.

Menurutnya, MOPDB harus mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 39 Tahun 2008 tentang pembinaan kesiswaan. Materi utama adalah wawasan wiyata mandala. Peserta didik diperkenalkan bahwa sekolah adalah lingkungan pendidikan. Disamping itu, siswa juga diajarkan tentang aturan sekolah karena mereka sedang berada dalam masa transisi. a�?Bagaimana mentaati tata tertib di sekolah,a�?tambahnya.

Selain itu , lanjut Zainal, yang paling penting pengenalan program sekolah. Siswa baru ditunjukkan program-program sekolah, baik yang akademik maupun nonakademik. Juga diajarkan bagaimana cara belajar yang baik.

a�?Di sini juga siswa bisa masuk pada program sekolah,a�?imbuhnya.

Zainal meminta semua sekolah untuk mengacu pada peraturan Mendiknas. Dengan begitu, tidak ada kekerasan yang bisa membahayakan peserta didik baru.

a�?Tidak boleh ada kegiatan yang ditujukan hanya pada seorang siswa,a�? katanya.

Ditambahkan, semua atribut saat orientasi harus murah dan tidak memberatkan. MOPDB juga harus diadakan secara meriah agar semangat siswa muncul dalam membangun sekolah.

Terpisah Waka Kesiswaan SMAN 3 Mataram Dwi Sunarto menuturkan, MOPDB dilakukan di sekolah berlangsung meriah. Biasanya siswa melaksanakannya secara sederhana dan tidak memberatkan. Atribut digunakan seperti topi, tas dan lainnya tak memberatkan siswa.

a�?Kami pilih biasanya yang unik. Tas digunakan pada MOS dari tas kresek. Hal ini dilakukan untuk melatih mental siswa,a�?katanya.

Pada akhir acara, biasanya pihak sekolah melakukan acara besar-besaran guna memberikan kesenangan bagi siswa baru. Untuk tindakan kekerasan, sekolah sudah menekan siswa yang masuk anggota OSIS agar tak melakukan tindakan kekerasan sekecil pun. a�?Pada intinya kita ingin memperkenalkan sekolah. Terutama program program sekolah yang bisa diikuti siswa,a�?katanya. (jay/r13)

Berita Lainnya

Kasek Harus Memiliki Sertifikat Cakep Nasional

Redaksi LombokPost

500 Mahasiswa UNW Ikuti PERTAMA

Redaksi LombokPost

Jurusan Pertanian SMKN 7 Mataram Kurang Diminati

Redaksi LombokPost

KBM di Kota Mataram Mulai Normal

Redaksi LombokPost

Bantuan Kemendikbud Untuk Guru PNS Rp 1,5 Juta, Honor Rp 2 Juta

Redaksi Lombok Post

Bhayangkari Percantik Taman Baca di Pesisir Pantai

Redaksi LombokPost

Sintya, Siswi MAN 1 Mataram Juara Ajang KSM Bidang Fisika

Redaksi LombokPost

SMAN 10 Mataram Kekurangan Siswa

Redaksi LombokPost

Dua Siswa Lotim Masuk Tim Paskibraka Nasional

Redaksi LombokPost