Lombok Post
Tanjung

Kerja Tiap Hari, Tapi Hasil Didapat Tiap Akhir Pekan

bersih
MENCARI: Nampak pemulung sedang mencari sesuatu di antara tumpukan sampah di TPA Sambik Bangkol, Gangga, KLU, kemarin.

Bagi kebanyakan orang, tumpukan sampah adalah hal menjijikkan. Namun, bagi para pemulung, tumpukan sampah itu adalah ladang rezeki. Walaupun berkubang dalam gunungan sampah, mereka tidak merasa jijik. Dari tumpuhan sampah itulah, gemerincing rupiah mereka raih.

***

SEDARI pagi, sejak pukul 8.00 Wita beberapa orang nampak menyemut dan sibuk mengais-ngais tumpukan barang. Itulah aktivitas pembuka di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sambik Bangkol, kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara (KLU).

Di sanalah saban hari, para pemulung di Lombok Utara a�?ngantora�� tiap hari. Macam-macam latar belakang mereka. Mulai ibu rumah tangga dan juga para lekaki bapak rumah tangga tentu saja.

Usia pun beragam. Mulai yang dewasa, hingga mereka yang belia dan masih anak-anak. Tapi, mereka memiliki keterampilan yang sama. Berebut barang berharga dari tumpukan sampah. Senjata utama mereka adalah sebuah tongkat besi, yangbagian ujungnya bengkok dan tajam, sebagai pengait. Sementara peralatan kerja mereka berupa keranjang sampah.

Tidak jauh dari tempat para pemulung ini mengais-ngais rezeki, beberapa tumpukan sampah juga telah dibakar. Asap, panas terik matahari tidak menjadi penghalang bagi mereka mencari a�?berliana�? di antara tumpukan sampah yang baru datang.

Di antara mereka, Inaq Mar. Dengan peralatan seadanya ia sudah memersiapkan apa yang harus dibawa. Pemulung seperti Inaq Mar berada di tempat itu bisa seharian. Itu sebabnya, perempuan itu menyiapkan bekal dari rumah. Biasanya setelah istirahat makan siang, aktivitas memulung dimulai lagi.

a�?Saya sudah dah cukup lama mencari sampah di sini,a�? ujarnya pada Lombok Post. Inaq Mar mengaku sejak tempat tersebut dijadikan sebagai TPA, tidak lama kemudian ia mencoba mencari rezeki di sana. Kalau tidak salah hitung, sudah delapan bulan.

Di sana, ia mencari apa saja yang bisa dijual kembali. Seperti botol minuman, karton, besi, plastik, dan logam lainnya.

Ibu 40-an tahun ini mengaku, pendapatannya dari hasil mengais sampah di TPA tersebut tidak terlalu banyak.a�?Seminggu, saya dapat jual kadang Rp 100 ribu, kadang lebih,a�? katanya.

Ia memang mengumpulkan dulu apa yang dia dapat dari mengais sampah tersebut hari demi hari. Kemudian dia menjual hasilnya tersebut ke pengepul setelah dikumpulkan sekali sepekan. a�?Tidak seberapa. Namun Alhamdulillah ada untuk buat beli beras. Bantu-bantu suami juga,a�? katanya.

Selain Inaq Mar, seorang bocah juga turut mengais-ngais rezeki di tumpukan sampah tersebut. a�?Daripada libur momot, lebih baik begini,a�? kata bocah yang mengaku bernama Ebeng itu.

Meski matahari sudah mulai terik, bocah tersebut nampak asyik-asyik saja mencari sesuatu yang bisa dijadikan uang. Sampah-sampah di TPA itu sendiri berasal dari sejumlah kecamatan dari seluruh KLU. Paling banyak berasal dari tiga Gili, Trawangan, Meno dan Air. (r12/DEKI ZULKRNAEN*)

Berita Lainnya

Sekda Izinkan Huntara BUMN yang Tak Ditempati Dibongkar, Asal…

Redaksi LombokPost

Empat Puskesmas Darurat Mulai Beroperasi

Redaksi LombokPost

7.000 Petisi Penolakan Juknis Bantuan Gempa

Redaksi LombokPost

Pelebaran Jalan Ganggu Distribusi Air

Redaksi LombokPost

Sekjen FPM dan BSMI Kunjungi Korban Gempa Lombok

Redaksi LombokPost

PAD Diperkirakan Sudah Tembus Rp 3 Miliar

Redaksi LombokPost

Dikpora Pertanyakan Juklak dan Juknis

Redaksi LombokPost

Warga Sekitar Tambang Khawatirkan Longsor

Redaksi LombokPost

Disbudpar dan Warga Gili Meno Gelar Mandi Safar

Redaksi LombokPost