Lombok Post
Metropolis

Warga Keluhkan Sampah Kiriman

MENUMPUK: Salah seorang warga menunjukkan sampah yang kerap menutupi saluran drainase di Lingkungan Melayu Bangsal, Ampenan

MATARAM – Warga Ampenan Lingkungan Melayu Bangsal mengungkapkan kekesalannya kepada pemerintah yang seolah tak mau mengurus permasalahan sampah. Sebab, sampah yang dianggap sebagai sampah kiriman itu membuat warga Ampenan harus merasakan dampak buruknya.

Saluran drainase warga Lingkungan Melayu Bangsal yang berhubungan langsung dengan muara kali Jankuk kerap tersumbat sampah. Sehingga air pembuangan warga di sekitar sana tidak bisa dialirkan dan menggenangi pemukiman.

“Kami rasa Dinas Kebersihan tak mau bekerja. Pemerintah juga tak punya itikad untuk menyelesaikan persoalan sampah,” keluh Ilham, warga Lingkungan Melayu Bangsal Ampenan.

Ilham menjelaskan, sudah beberapa kali menggelar gotong royong dan kerja bakti bersama pemuda dan warga sekitar. Sayangnya, hal tersebut tidak memberikan efek berarti. “Sekarang kami bersihkan, besok pagi sampahnya sudah mulai numpuk. Kami sudah tidak tahan dengan situasi seperti ini. Sementara pemerintah bingung tak tau solusi,” kesalnya.

Menurut Ilham, sampah-sampah kiriman tersebut berasal dari sampah rumah tangga milik warga yang membuang di kali. Selain itu, sampah kiriman tersebut juga berasal dari beberapa pasar yang dibuang ke kali. Sehingga kali Jangkuk bahkan laut yang ada disekitaran Ampenan dipenuhi tumpukan sampah.

“Saya sudah sering snorkling di sekitaran pantai Ampenan. Kalau mas lihat dibawah laut itu, ada gunungan sampah. Mereka yang kaya di sana enak buang sampah sembarangan, kami yang di sini kena imbasnya,” ujarnya dengan nada tinggi.

Hal tersebut dibenarkan Kepala Lingkungan Melayu Bangsal, Muhammad Nur. Menurutnya, permasalahan sampah ini sangat merugikan warganya. Pasalnya, air pembuangan bekas mandi, nyuci atau yang lainnya sering tersumbat. Bahkan kadang kembali meluap di pemukiman warga.

“Airnya bisa diam tergenang di kamar mandi warga. Bahkan bisa meluap. Baunya minta ampun mas,” tuturnya.

Ia sudah beberapa kali menyampaikan hal ini kepada pemerintah melalui berbagai kesempatan. Namun, ia menyayangkan hingga saat ini, belum ada respon.

Dani, salah seorang warga lainnya mengaku permasalahan ini dihadapi warga sudah 20 tahun. Namun, tidak pernah bisa dicarikan solusinya. “Kalau saya jadi kepala Dinas Kebersihan, saya akan tiru penanganan sampah di Kota-Kota Besar. Saya buat jaring penampung sampah di beberapa titik sungai dan perbanyak petugas kebersihan untuk mengangkut sampah itu agar kali tetap bersih dan sesuai fungsinya,” cetusnya.

“Jangan nantinya cuma dipasangi jaring terus sampahnya nggak diangkut. Sebenarnya ini soal kemauan saja. Mau atau nggak pemerintah lihat kali itu bebas sampah,” sambungnya. (ton)

Berita Lainnya

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Kurang Perhatian, Sungai Ancar Meluap

Redaksi LombokPost

SPSI Usul UMK Rp 2,13 Juta

Redaksi LombokPost

Rumah Belum Jadi, Tenda Kemasukan Air

Redaksi LombokPost

Pasca Gempa, BPS Belum Keluarkan Data Kemiskinan

Redaksi LombokPost

Kalau Lagi Mood, Lima Jam Bisa Selesai

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Longsor!

Redaksi LombokPost

Taksi Online Jangan Parkir Sembarangan!

Redaksi LombokPost

Bantuan Jadup Urung Disalurkan

Redaksi LombokPost