Lombok Post
Metropolis

Pengepul Diyakini Tak Bermain

rumput laut
ANJLOK: Petani rumput laut di Desa Seriwe, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, sedang menjemur hasil panennya.

MATARAM – Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) NTB Aminollah menampik anjloknya harga rumput laut akibat permainan para pengepul. Dia mengatakan, anjloknya harga rumput laut akibat arus laut yang kurang bagus.

a�?Arus ini ada yang kencang dan stagnan. Dan di Lombok mengalami arus stagnan. Ini perlu dipahami petani,a�? terangnya pada sejumlah wartawan, kemarin
Aminollah menjelaskan, rumput laut sangat cocok pada laut yang memiliki arus kencang. Karena ketika arusnya stagnan atau melambat, sedikit terjadi pergerakan pertumbuhan.

Sehingga menyebabkan rumput laut mudah terkena hama seperti lumut, bahkan sampah. Walau demikian, hal ini bisa dihindari bila petani lebih intensif melakukan perawatan terhadap rumput lautnya.

a�?Umur rumput laut bisa dipanen ini 45 hari, kalau perawatannya seminggu sekali akan berpengaruh pada kualitas rumput laut,a�? ujarnya. Itu sebabnya, dia menganjurkan mereka lebih rutin mengecek atau memonitor budidaya rumput laut, maksimal dalam seminggu tiga hingga empat kali.

Adapun melihat anjloknya harga, lanjutnya, harga ini masih lebih baik dibandingkan harga rumput laut yang pernah mencapai Rp 4 ribu pe rkilogramnya. Dengan harga Rp 7 ribu per kilogram, pengepul pun kata dia hanya mengambil sedikit keuntungan. a�?Pengepul ini tidak banyak ambil untung,a�? tandasnya.

Sisi lain, sambungnya, kebutuhan mitra di luar Lombok sedang mengalami peningkatan. Sementara kualitas rumput laut agak berkurang, akibat panen terlalu cepat karena hama.

Di lain sisi juga, petani tentu tidak mau kehilangan mitranya. a�?Sehingga rumput laut dipanen lebih cepat, menggangu masa tanam dan berimbas pada kualitas hanya untuk memenuhi kuota kebutuhan mitra,a�? terang Aminollah.

Lebih jauh ia mengatakan, ke depan pihaknya akan memperbaiki mutu dan pola tanam budidaya lebih baik lagi. Dengan menerapkan kontrol jaring, diharapkan bibit genetik rumput laut bisa meningkat. Kemudian bisa dijadikan bibit kembali, sehingga Lombok dan Sumbawa memiliki kebun bibit rumput laut sendiri. (ewi/r12)

Berita Lainnya

Zul-Rohmi Perlu Banyak Sosialisasi

Redaksi Lombok Post

Mengejar Mimpi Jadi Daerah Industri

Redaksi Lombok Post

Gerbang Kota Ikut Terseok-Seok!

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Ogah Berniaga di Jalan Niaga

Redaksi LombokPost

Tolong, Jangan Masuk Angin!

Redaksi LombokPost

Volume Monumen Tak Sesuai Kontrak, Rekanan Didenda Rp 1,2 Juta Perhari

Redaksi LombokPost