Lombok Post
Feature Headline

Tinggalkan Alpe da��Huez, Termotivasi Lebih Rajin Menanjak

Alpe d’Huez
PAKAI BATIK HUJAN-HUJAN: Romobongan Tim Indonesia berfoto bersama di depan Arc De Triomphe, Paris. FOTO: HENDRA EKA/JAWA POS

Rombongan Jawa Pos Cycling mengikuti peloton Tour de France, turun dari pegunungan Alps, lalu ke Paris dan menyaksikan penutupan lomba paling bergengsi itu di jalanan Champs-Elysees.

***

AKHIR pekan lalu, rombongan Jawa Pos Cycling merasakan betapa beratnya tantangan logistik Tour de France. Etape ke-20 lomba berakhir Sabtu sore (25/7) di Alpe da��Huez, di kawasan pegunungan Alps, di wilayah selatan Prancis.

Hari Minggunya (26/7), etape ke-21 alias penutup harus diselenggarakan di pusat Kota Paris, yang berjarak sekitar 700 km dari Alpe da��Huez.Tak heran, di puncak Alpe da��Huez Sabtu petang itu, ada begitu banyak helikopter. Personel sirkus TdF, mulai pembalap, kru tim, staf penyelenggara, dan lain-lain, sudah harus berada di kawasan sebelum Minggu tengah hari.

Caranya ? Ya naik helikopter atau kendaraan turun ke Grenoble, sekitar 59 km dari Alpe da��Huez, lalu diterbangkan ke Paris. Kasihan kru lain seperti mekanik atau personel yang membawa kendaraan-kendaraan resmi tim. Sabtu malam sudah harus memulai perjalanan, istirahat di tengah-tengah entah di mana, lalu Minggu pagi melanjutkan lagi perjalanan darat ke Paris. Rombongan kami pun ikut merasakannya, bersama rombongan-rombongan cyclist lain yang juga mengikuti perjalanan Tour de France 2015.

Minggu pagi kami harus bangun, breakfast pukul 06.00, dan harus turun naik bus ke Grenoble pukul 07.00. Dari Grenoble lantas naik kereta cepat ke Paris. Dijadwalkan tiba pukul 13.00, pas untuk makan siang. Etape ke-21 sendiri dimulai di Sevres-Grand Paris Seine Ouest, tidak jauh di luar pusat Kota Paris, sekitar pukul 16.00. Mereka dijadwalkan baru masuk kawasan Champs-Elysees pukul 17.00, berputar sepuluh kali sebelum adu sprint menuju garis finis.

Minggu pagi itu, rombongan kami dapat “bonus”. Ternyata, ada sosok cycling sangat terkenal yang juga menginap di hotel kami di pucuk Champs-Elysees.

Dia adalah Jens Voigt, 43, pembalap Jerman yang baru gantung sepeda pada 2014 lalu. Dia pernah mengikuti Tour de France sebanyak 17 kali, dan sempat memegang rekor dunia Hour Record (bersepeda terjauh dalam 60 menit).

Voigt juga terkenal sebagai orang yang kocak. Dia memopulerkan istilah “Shut Up Legs!”. Istilah itu populer diteriakkan cyclist di berbagai penjuru dunia saat sedang “sengsara” berlatih.

Rombongan kami pun satu per satu minta foto bersama. Walau sebenarnya mungkin terganggu, Voigt terus meladeni. Wajar bila dia termasuk sosok paling populer di cycling!

“Kalian semua akan naik kereta ke Paris. Wah, kita akan satu kereta. Tapi, kalau foto-fotonya lama-lama, kita semua bisa ketinggalan kereta,” celetuknya lantas tersenyum.

Sesuai jadwal, pukul 07.00, kami naik bus menuruni Alpe da��Huez. Supaya tidak tertinggal kereta, yang berangkat dari Grenoble pukul 10.16. Kami semua kompak pakai batik saat menonton di Paris.

Dari hotel kami yang benar-benar di ujung jalan Alpe da��Huez, kami berusaha menikmati terus turunan curam ke bawah. Mengenang lagi setiap upaya yang kami kerahkan di setiap kelokan (total ada 21) di tanjakan sepanjang 13,8 km tersebut.

Beberapa di antara kami ingin kembali lagi pada masa mendatang, mungkin bersama keluarga. Beberapa lagi mengaku terinspirasi pegunungan Alps yang begitu indah dan semangat rekan-rekan lain saat bersepeda.

“Setelah bersepeda tiga hari, saya sangat termotivasi dengan teman-teman cyclist Surabaya dan Jakarta. Mereka cepat saat menanjak dan punya endurance bagus sekali,” ujar Yohan

Kristanto, 59, asal Klaten, yang baru tahun ini ikut rombongan pergi. “Saya sudah kabari teman-teman (di Jawa Tengah) bahwa kita harus menambah porsi latihan menanjak saat pulang nanti,” tambahnya.

***

Kereta cepat yang kami tumpangi menuju Paris benar-benar dipenuhi cyclist. Rombongan dari berbagai penjuru dunia ingin mengikuti tuntas Tour de France 2015 ini. Tampak ada rombongan besar dari Amerika Serikat, plus rombongan-rombongan kecil dari berbagai negara.

Walau jarak begitu jauh, perjalanan kereta tidak sampai tiga jam. Pukul 13.00 sudah masuk Paris.

Di stasiun Paris, kami disambut Anton Blackie, staf Rapha asal Inggris. Kami langsung naik bus ke hotel kami, InterContinental Paris Le Grand.

Kami hanya membawa baju cukup untuk satu malam. Sepeda kami beserta koper tidak ikut ke Paris. Kru Rapha yang lain langsung mengangkut barang-barang kami dari Alpe da��Huez ke Belgia. Sebab, menurut rencana, dari Paris, kami memang akan melanjutkan perjalanan ke sana, bersepeda di jalanan bebatuannya sekaligus mengunjungi markas Team Sky. Perjalanan di Belgia itu akan menjadi seri cerita terpisah.

Di hotel hanya menaruh tas bawaan, Blackie “bersama James Heraty” mengajak kami berjalan ke Champs-Elysees, tempat lomba akan berakhir.

Kami makan siang dulu di Fouqueta��s, salah satu restoran paling kondang di jalanan paling kondang tersebut (alamatnya di Champs-Elysees Nomor 99, sebelah butik Louis Vuitton).

Saat itu, hujan lebat turun di Paris. La Course, lomba sirkuit untuk pembalap perempuan profesional yang menjadi ajang pendukung etape ke-21, sedang berlangsung. Balapan itu penuh dengan kecelakaan. Sebab, jalanan bebatuan Champs-Elysees, walau relatif mulus, menjadi sangat licin.

Hujan juga diprediksi terus turun hingga pukul 19.00, saat peloton utama TdF berlomba di sana.Di tengah musim panas, temperatur terus berkisar di angka 15 derajat Celsius.

Sempat muncul kabar, lomba akan diperpendek apabila kondisi terlalu membahayakan. Beruntung hujan berhenti lebih cepat. Jalanan masih basah, tapi terus mengering. Lomba pun berjalan sesuai dengan jadwal.

Saat hujan itu, jumlah penonton yang memadati sisi jalan sudah gila-gilaan. Ketika mengering, makin edan-edanan. Aktif menyoraki para pembalap setiap kali mereka melintas.

Mereka yang berdiri di kisaran Arc du Triomphe juga bisa mengikuti lomba lewat dua layar LED raksasa.

Di etape inilah, teman-teman melihat langsung betapa cepatnya peloton melaju. Sekitar 50 km/jam saat “tenang”, dan bisa lebih dari 75 km/jam saat sprint menuju finis. Kontras dengan sebelumnya, yang “lebih pelan” karena menanjak Alpe da��Huez.

“Wah, ternyata stamina pembalap itu benar-benar bagus. Setelah balapan 21 etape masih begitu kencang. Sangat beda dengan melihat di televisi,” komentar Yohan.

Etape ke-21 itu juga menjadi etape parade kemenangan bagi Christopher Froome dan Team Sky. Pembalap Inggris tersebut sudah mengunci juara dan yellow jersey ketika finis kelima di Alpe da��Huez.

Team Sky mendapat kehormatan memimpin peloton masuk Kota Paris. Froome tampak mencolok dengan yellow jersey, helm kuning, sepatu kuning, dan “tentu saja” sepeda Pinarello baru berwarna kuning.

Rekan-rekannya di Team Sky juga pakai seragam baru. Setrip kuning menggantikan setrip biru.

Ketika melintasi garis finis, mereka sengaja mundur di belakang peloton. Lalu berbaris rapi dan finis bergandengan.
Ini adalah kemenangan kedua Froome, 30, di Tour de France. Setelah sebelumnya menang pada 2013.

Bagi Cipto S. Kurniawan, 33, momen menjadi saksi kemenangan membuatnya superbahagia. Dia adalah fans berat Team Sky dan Froome. Saking nge-fansnya, ketika putra ketiganya lahir beberapa bulan lalu, dia menamainya Michael Froomey Wang. “Froomey” merupakan julukan Chris Froome.

Jadi, anaknya resmi lahir pada tahun Froomey menjadi juara TdF!

“Saya bisa berada di tengah-tengah jutaan warga Paris, bahkan dunia, melihat jagoan saya menang,” ucap Wawan, sapaan akrabnya.

Lomba selesai, upacara podium selesai, rombongan kami kembali ke hotel untuk makan malam dan istirahat. Tour de France 2015 sudah berakhir, bab pertama perjalanan ini juga berakhir.

Bab kedua “seperti disinggung di atas” akan berlanjut di jalanan bebatuan Belgia. Bagi peserta yang ingin jalan-jalan di Paris, baru bisa dilakukan setelah program di Belgia nanti selesai. Pada Kamis, 30 Juli, rombongan akan kembali ke Paris, sebelum terbang balik ke Indonesia pada Jumat malam, 31 Juli.

Sebelum terbang pulang, rombongan juga punya rencana tambahan: Bersepeda santai keliling Kota Paris, foto-foto di lokasi-lokasi kondangnya.

“Sepulang dari Belgia nanti, saya harus berfoto di Eiffel, Museum Louvre, dan Arc du Triomphe bersama sepeda Pinarello Dogma F8 Team Sky saya. Itu akan lebih penting daripada jalan-jalan atau cari oleh-oleh,” pungkas Wawan, lantas tertawa. (Azrul Ananda/Yudy Hananta)

Berita Lainnya

2.368 Formasi CPNS Bakal Lowong

Redaksi Lombok Post

EMAS HITAM DARI NTB

Redaksi Lombok Post

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost