Lombok Post
Selong

Warga Seriwe Lapor Polisi

warga
MASIH TUTUP: Kantor Desa Seriwe di Kecamatan Jerowaru, Lotim, hingga kemarin masih tutup akibat blokade warga.

SELONG – Permasalahan Desa Seriwe, Kecamatan Jerowaru, nampaknya belum akan berakhir dalam waktu dekat. Alih-alih adanya kesepakatan untuk perdamaian kedua pihak, kemarin perwakilan warga yang menolak justru berdatangan ke Polres Lotim. a�?Kami ke sini untuk melapor,a�? kata Reji, salah seorang pentolan warga yang menentang kepala desanya.

Tiga persoalan pokok yang dari awal menjadi pemicu merupakan materi yang dilaporkannya. Warga juga menyertakan tanda tangan dukungan dari puluhan warga lain yang mereka wakili. a�?Jadi yang menentang kades itu bukan hanya kami yang datang ini,a�? katanya memberi penegasan.

Menurutnya, dengan seabrek persoalan yang ada, sudah semestinya ada kebijakan pergantian kades. Terkait pelayanan yang terhenti karena blokade yang mereka lakukan, tetap tak akan mengizinkan pembukaan kantor desa selama belum ada kejelasan. Reji dan rekan-rekannya lebih memilih tanpa pelayanan, ketimbang harus dilayani kades yang bermasalah. a�?Biarkan saja begitu,a�? katanya dengan nada sinis.

Ketiga persoalan yang dilaporkan adalah penjualan tanah kuburan, pencaplokan tanah pesisir yang merupakan milik negara, serta penjualan tanah kas masjid. Hal itu sebelumnya sudah dibantah Kades Seriwe Abdul Hamid. Menurutnya sangkaan yang diberikan tak berdasar dan hanya merupakan dendam politik lama saja. a�?Coba saja cermati, mereka itu kan lawan politik saya semua,a�? jawabnya santai.

Terkait tudingan tiga hal itu, ia memiliki argumennya sendiri. Yang pertama terkait tanah makam, ia hanya menjalankan tugas. Tanah itu sejak jauh hari sudah dimiliki oleh calon investor. Dalam kesepakatan 2009 warga sudah setuju dilakukan pemindahan kuburan ke lokasi lain yang disiapkan. Ia hanya menjalankan hal tersebut, karena si investor hendak memulai pembangunan vila. a�?Jual beli dan kesepakatan itu jauh sebelum saya jadi kades, kok ributnya sekarang,a�? jawabnya.

Sedang terkait penjualan tanah negara di Pantai Duduk, ia mengatakan tak pernah berniat menjual kawasan pantai. Yang hendak dijualnya hanyalah tanah pribadi yang merupakan warisan orang tua. Di sana kata Hamis, ia memiliki warisan sebanyak tujuh hektar, tanah itulah yang disertifikatkan karena hendak dijual. a�?Yang saya jual ini tanah saya, tanah yang di sampingnya itu bukan urusan saya,a�? bantahnya.

Sedangkan terkait klaim tanah masjid, ia mengatakan tak terlibat apapun karena hanya menjalankan surat yang diterima dari BPN. Dalam surat itu, tanah tersebut katanya merupakan milik pribadi salah seorang warga. a�?Soal itu tanya BPN dong, masak saya yang bikin sertifikat,a�? katanya balik bertanya. (yuk/r3)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Memahami Potensi Pemuda

Redaksi LombokPost

IGI Pertanyakan Kebijakan Sukiman

Redaksi LombokPost

26 Oven Untuk Petani Tembakau Lotim

Redaksi LombokPost

Pembangunan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi LombokPost

4564 Honorer Lotim Akan Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Akhirnya Darmaga Labuhan Haji Dikeruk Juga!

Redaksi LombokPost

Ditilang, Siswa Madrasah Nangis Minta Pulang

Redaksi LombokPost