Lombok Post
Praya

Baju Putih Jadi Tren, Pilih Waktu dan Hari Baik

Sudah enam pasangan bakal calon (balon) bupati dan wakil bupati Lombok Tengah yang mendaftar ke KPU. Proses politik itu pun menyisakan cerita unik.

***

ENAM pasangan bakal calon bupati dan wakil bupati yang dimaksud yaitu, Suhaili-Fathul yang mendaftar lebih awal pada Minggu (26/7) , kemarin. Disusul paket Lailatul Qadar atau Suharto-Lale. Kemudian Gde Drip-Zainul, Sakti-Jaya dan paket Kurma atau Kurniawan-Mahdan pada Senin (27/7). Terakhir, paket JADI atau Mamiq Ngoh-Badrun, Selasa (28/7) kemarin.

Tutup sudah proses pendaftaran bakal calon bupati dan wakil bupati di KPU Loteng. Kini mereka melanjutkan tahapan pemeriksaan kesehatan yang dijadwalkan pada 26 Juli-1 Agustus mendatang. Pada 4-7 Agustus mendatang, mereka kembali disibukkan dengan perbaikan syarat pencalonan dari partai politik (parpol) dan perbaikan syarat dukungan calon perseorangan.

Selama proses pendaftaran di KPU, masing-masing pasangan menunjukkan kekuatan jumlah masa, baik dari parpol, simpatisan, dan elemen masyarakat. Untungnya, tidak ada gesekan di antara mereka. Khususnya pada pendaftaran hari kedua. Hal itu menunjukkan, masyarakat Gumi Tatas Tuhu Trasna mulai dewasa berpolitik.

Karena, perbedaan pandangan dan pilihan, bukan berarti membangun perpecahan. Namun, bagaimana menciptakan rasa solidaritas dan toleransi. Penyelenggara pemilu pun berkali-kali menitipkan pesan kepada para bakal calon, tim sukses, dan tim relawan agar mengedepankan sikap negarawan.

a�?Silahkan bertarung dengan sehat, sesuai ketentuan hukum dan undang-undang yang berlaku. Bukan sebaliknya,a�? ujar Ketua KPU Loteng Ary Wahyudi.

Pantaun Lombok Post, selama tiga hari proses pendaftaran, rata-rata pasangan bakal calon mengenakan baju putih. Kecuali, calon petahana HM Suhaili FT yang mengenakan pakaian jubah krem dibaluri rompi hitam dan pasangan JADI atau Mamiq Ngoh-Badrun yang memilih menggunakan pakaian khas Sasak.

Baju putih bagi mereka adalah warna netral, menunjukkan kewibaan dan bersih, apalagi dibarengi dengan celana hitam. Yang lebih penting lagi, mereka rata-rata mengenakan peci hitam. Suasana pendaftaran di KPU bisa dibilang menegangkan. Karena, selain lima komisioner KPU, terdapat pula Panwaslu dan awak media.

Sedikit dari mereka ada yang berusaha menyembunyikan rasa gugup. Dengan cara, menyantap buah-buahan yang disuguhkan KPU, melempar senyuman kepada tamu undangan, hingga lebih memilih berdiam diri saja sembari mengikuti arahan dan penjelasan KPU. Yang membuat mereka seperti itu karena memang mereka menjadi pusat perhatian publik.

Mereka pun percaya mitos tentang hari dan waktu terbaik untuk menuju kantor KPU, guna mendaftarkan diri. Rata-rata mereka percaya bahwa hari terbaik yaitu Senin. Sehingga, pada Senin (27/7) , kemarin jumlah pendaftar pasangan cukup banyak. KPU pun menggunakan sistem bergiliran dari pukul 08.00 Wita-16.00 Wita.

Sementara hari biasa bagi mereka adalah Minggu dan Selasa. Kendati demikian, mereka yang mendaftar pada Minggu dan Selasa, memiliki kepercayaan tersendiri pula.(Dedi Shopan Shopian)

Berita Lainnya

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost

Jaksa Kumpulkan 96 Kades Terpilih

Redaksi LombokPost

Dewan Pertanyakan Penyedia Panel RISHA

Redaksi LombokPost

Kadis Baru Ditugaskan Perangi Calo

Redaksi LombokPost

PT Angkasa Pura I Salurkan Dana Pinjaman Mitra Binaan

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Bangun Pendeteksi Tsunami

Redaksi LombokPost