Lombok Post
Feature

Bikin Panggung Raksasa Terapung, Jadi Perayaan Terbesar

kelenteng Kwan Sing Bio
MAGIS: Pengelola Tempat Ibadah Tri Dharma Kwan Sing Bio Tuban melepas kiemsin di pelataran altar utama sebelum dikirab pada peringatan ulang tahun Kwan Sing Tee Koen. F-Yuyung abdi/jawa pos

Setelah sempat lima tahun vakum, Kirab Kiemsin untuk memperingati ulang tahun Kwan Sing Tee Koen di Kelenteng Kwan Sing Bio, Tuban, Jawa Timur bakal dihidupkan lagi. Puluhan patung dewa dari berbagai wihara di tanah air akan diarak keliling kota di pesisir utara Jawa itu.

***

PINTU gudang penyimpanan ratusan ribu kasur lipat, tikar, dan bantal di Kelenteng Kwan Sing Bio, Kamis pagi (23/7) itu, berderit nyaring. Suaranya terdengar jelas dari aula tengah yang lokasinya berimpitan.

Itulah pertanda kelenteng di Jalan RE Martadinata 1, Tuban, Jawa Timur, tersebut tengah bersiap menyambut kedatangan ribuan umat tridarma (Khonghucu, Tao, dan Buddha) dari berbagai daerah di Indonesia serta para wisatawan mancanegara.

Sebelum digeser ke dalam 25 ruangan terbuka untuk tempat menginap, peranti tidur yang kali terakhir digunakan pada peringatan ulang tahun Kwan Sing Tee Koen pada 2010 tersebut dibersihkan. Dipilah-pilah. Yang baik dipakai, yang kurang layak diganti baru.

Lima tahun lalu, kelenteng itu mampu menampung 2.260 tamu yang menginap. Tahun ini panitia juga menyiapkan kapasitas yang sama. Bahkan, diprediksi tamu yang menginap lebih banyak. Maklum, sudah lima tahun perhelatan tersebut vakum. Karena itu, upacara kali ini diperkirakan menjadi yang terbesar dalam sejarah Kirab Kiemsin.

Kirab Kiemsin sejatinya digelar tiap tahun untuk memperingati ulang tahun Kwan Sing Tee Koen, dewa utama yang disembah umat tridarma di kelenteng paling berpengaruh di Indonesia dan Asia Tenggara itu. Namun, sejak terjadi konflik internal pengurus kelenteng lima tahun lalu, kirab tersebut ditiadakan.

Tahun ini, Kirab Kiemsin bakal dihelat pada Minggu (9/8). Sejak sepekan terakhir, berbagai persiapan dilakukan di Kelenteng Kwan Sing Bio. Mulai pagi hingga sore, pintu gudang kelenteng dibuka untuk mengeluarkan berbagai peranti yang dibutuhkan. Begitu pula, ruang altar trinabi di tenggara altar utama ditambah dua meja kayu panjang yang masing-masing berukuran 2 x 4 meter untuk memajang 50 kiemsin (patung dewa utama kelenteng) dari berbagai wihara.

Lahan parkir di sebelah timur kelenteng juga telah dirombak menjadi aula yang akan digunakan untuk menempatkan kio atau tandu serta panji-panji kiemsin tamu. Aula itu menjadi tempat penyimpanan perkakas kirab yang dikeramatkan.

Jauh hari sebelumnya, Kelenteng Kwan Sing Bio juga menyiapkan rencana arak-arakan kiemsin. Kio untuk mengusung arca Kwan Sing Tee Koen dikeluarkan dari ruang kaca penyimpanan. Setelah dibersihkan, tandu merah tersebut ditempatkan di aula tengah. Nanti, sehari menjelang kirab, tandu itu dihias dengan aneka bunga hidup.

Bukan hanya peranti ritual. Kelenteng juga menyiapkan tempat perhelatan. Di atas panggung beton terapung yang terhubung dengan jembatan sembilan lekuk, didirikan panggung semi permanen yang didesain tambahan wing stage dan lidah tangga yang menjulur. Panggung raksasa itu mempunyai luas 822,24 meter persegi. Ada pula panggung untuk undangan VIP seluas 228 meter persegi. Cat seluruh bangunan yang dijadikan prosesi sembahyangan juga dibersihkan serta diperbarui.

Kirab Kiemsin pada 9 Agustus nanti diramaikan atraksi barongsai dan liang liong dari Sasana Naga Doreng Yon Arhanud Kodam IV/Diponegoro, Semarang. Ada pula drum band dari kesatuan tersebut. Sebelum arak-arakan, Sabtu (1/8), kelenteng menggelar wayang kulit dengan dalang Tionghoa Tee Thiam Hauw alias Ki Radyo Harsono dari Magelang, Jateng. Pertunjukan berikutnya berupa tarian kolosal sejarah Samkok yang akan ditampilkan Excedio Surabaya.

Kirab Kiemsin yang digelar di sepanjang jalan protokol Kota Tuban itu sarat unsur magis. Tontonan yang umum disuguhkan adalah bergetarnya sebagian besar tandu yang mengusung kiemsin.

Bahkan, saking kuatnya goyangan tandu tersebut, sejumlah orang yang memikul biasanya akan terpontang-panting kewalahan menahan gerakan tandu-tandu itu. Bahkan, beberapa di antara mereka sampai terbanting dan jatuh. Tidak sedikit pengusung tandu yang tidak mampu melangkah karena ada kekuatan besar yang menahannya.

Selama kirab berlangsung, para pengiring kiemsin biasanya meminta warga di sepanjang jalan yang dilalui untuk tidak melihat dari lantai atas bangunan rumah atau kantor. Sebab, patung dewa yang diusung tidak mau direndahkan. Dalam kepercayaan tridarma, tandu-tandu tersebut bergerak untuk menunjukkan kegembiraan kiemsin ketika dikirab.

Selain tandu kiemsin, dalam kirab tersebut, seluruh panji kebesaran kelenteng/wihara peserta kirab ikut diarak. Mulai bendera kebesaran, hiolo (tempat abu), hingga peranti ritual lain. Barisan terdepan arak-arakan kirab kiemsin berupa pembawa sapu dan sulak. Dua perabot tersebut selama kirab akan membersihkan sepanjang jalan yang dilalui kiemsin.

Yang juga menarik, pada perayaan kali ini, kelenteng akan mewujudkan obsesi untuk membangun pagoda sembilan lantai senilai Rp 150 miliar. Bangunan itu akan menjadi penanda bagi awak kapal yang berlayar di perairan Laut Jawa bahwa mereka telah melihat daratan Tuban. Dan kelak, pagoda setinggi 71,25 meter itu menjadi patung “Liberty”-nya Tuban.

Sebenarnya, pembangunan pagoda di pantai depan kelenteng tersebut dirintis sejak 2008. Mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar Akbar Tandjung menandai peletakan batu pertama pendirian bangunan itu. Namun, sampai saat ini, pembangunan pagoda tersebut masih terganjal izin pembebasan lahan pantai. Karena itulah, setelah izin didapat, panitia Kirab Kiemsin tahun ini akan meneruskan pembangunan pagoda di pelataran parkir belakang kelenteng seluas 2 hektare tersebut.

Bangunan menjulang tinggi itu tidak hanya bakal menjadi bangunan paling monumental di Tuban, namun juga di Indonesia. Dari tinggi dan megahnya bangunan tersebut, pagoda itu akan menjadi ikon baru Tuban. Pengguna jalan pantai utara (pantura) setidaknya akan merasa sudah masuk Bumi Ronggolawe kalau sudah melihat bangunan menjulang menyerupai kuil dengan atap bertumpuk-tumpuk tersebut. Dari Laut Jawa, pagoda terlihat seperti mercusuar.

Dalam rencana konstruksi, pagoda itu memiliki kesamaan dengan Tugu Monas Jakarta. Salah satunya, ada perangkat lift dan tangga di dalamnya. Dengan demikian, bangunan menjulang tinggi itu kelak bisa difungsikan sebagai gardu pandang untuk melihat panorama Laut Jawa dan pegunungan kapur di sekitarnya.

Liem Tjeng Gie alias Alim Sugiantoro, ketua panitia pembangunan pagoda, berani mengklaim bahwa pagoda itu nanti tidak kalah oleh Tugu Monas. Sebab, dinding bangunan menjulang tersebut akan dihiasi relief perjalanan Laksamana Cheng Ho dalam menyebarkan ajaran Islam di Jawa dan pernah terdampar di Tuban.

“Lebih luas, relief ini nanti menjadi simbol eratnya hubungan persaudaraan antaragama dan antaretnis di sini,” tuturnya.

Alim mengakui, selama ini perjalanan Kirab Kiemsien tidak pernah tercatat dalam sejarah. Tak satu pun dokumen yang membukukan kirab ritual itu. Hanya, diperkirakan tradisi tersebut berlangsung turun-temurun sejak sekitar 250 tahun lalu, seusia kelenteng yang dulu bernama Tambakbayan tersebut.

Liu Kok Liong alias Liu Pramono, ketua panitia hari besar Tempat Ibadah Tri Dharma Kwan Sing Bio menyatakan, Kirab Kiemsin sempat berhenti pada 1964 karena peristiwa G 30 S. Begitu pula selama rezim Orde Baru berkuasa. Aktivitas mengarak arca kelenteng juga ditiadakan seiring dilarangnya semua kegiatan yang berbau kebudayaan Tiongkok. “Baru setelah era reformasi (1998) larangan tersebut dicabut,” katanya.

Liu menambahkan, setelah vakum selama lebih dari 34 tahun, Kirab Kiemsin kembali digelar pada 2002. Era kebebasan tersebut ditandai dengan prosesi kirab yang jauh lebih meriah. Bila pada tahun-tahun sebelumnya yang dikirab hanya kiemsin kelenteng setempat, pada tahun itu puluhan kiemsin dari kelenteng/wihara di Indonesia diikutsertakan.

Sejak itu, tradisi Kirab Kiemsin di kelenteng Kwan Sing Bio menjadi agenda ritual umat tridarma di tanah air dan menjadi agenda wisata nasional. Namun, tradisi tersebut kembali terhenti pada 2010 karena adanya konflik internal antara pengurus dan pemilik kelenteng.

Begitu situasi memungkinkan, Alim Sugiantoro yang juga ketua penilik demisioner kelenteng setempat akhirnya berinisiatif menghidupkan kembali tradisi kirab dan peringatan hari ulang tahun Kongco Kwan Sing Tee Koen tersebut.

Dia menyatakan, Kirab Kiemsin tidak boleh dikalahkan apa pun. Apalagi hanya karena konflik internal. “Terlalu murah membayar berhentinya kirab hanya karena persoalan internal. Karena itu, kini kami ingin membuktikan bahwa pengurus, penilik, dan umat bersatu,” ujarnya.

Menurut Alim, event akbar tersebut menjadi bukti eratnya persaudaraan antarkelenteng/wihara di tanah air. “Melalui kirab ini, saya ingin mengembalikan keagungan dan kejayaan Kwan Sing Bio sebagai kelenteng paling berpengaruh di Indonesia dan Asia Tenggara,” tandasnya. (Dwi Setiyawan/Jawa Timur/c5/ari)

Berita Lainnya

Bilik Bercinta di Tempat Pengungsian yang Tinggal Cerita

Redaksi Lombok Post

Pengalaman Dramatis Pendaki Terjebak Gempa di Gunung Rinjani (1)

Redaksi Lombok Post

Mereka yang Tetap Tegar Menghadapi Gempa di Sambelia

Nasihat Mendiang Ayah Menjadi Pegangan Hidup Zohri

Mengunjungi Lalu Muhammad Zohri, Sang Juara Dunia

Lalu Muhammad Zohri, Sprinter Muda NTB yang Sabet Juara Dunia

Melihat Festival Layang-Layang Raksasa di Pantai Loang Baloq

Kisah Penambang yang Lolos dari Lubang Maut Sekotong (1)

Festival Seribu Bedug di Pulau Seribu Masjid

Redaksi Lombok Post