Lombok Post
Bima - Dompu

Demi Rupiah, Rela Jualan di Atas Tumpukan Sampah

POTRET PEDAGANG: Inilah potret salah satu pedagang di Pasar Renteng Praya yang sedang menunggu pembeli.

Sampah adalah masalah yang belum bisa diselesaikan di Kota Bima. SepertiA� di Pasar Raya Bima. Padahal pasar tersebut selalu ramai dikunjungi warga untuk belanja. Berikut pantauan Radar Tambora.

***

A�MASALAH sampah di Pasar Raya Kota Bima sepertiA� tidak ada habisnya. Berserakan dimana-mana. Kondisi itu semakin membuat pasar di Kelurahan Paruga itu terlihat kumuh dan tidak terawat.

Ironisnya,A� di bagian barat pasar tersebut sampah bercampur lumpur sampai menutup ruas jalan. Bau busuknya seolah menghadang setiap warga yang datang. Pemandangannya tidak jauh berbeda dengan tempat pembuangan akhir (TPA).

Sampah tersebut berhari-hari dibiarkan begitu saja, tidak diangkut oleh petugas. Tidak heran pengunjung maupun warga pasar keluhkan kondisi tersebut.

Bau busuk sampah yang menyengat sudah menjadi menu harian bagi pedagang setempat. Mereka tetap menggelar dagangan, tanpa menghiraukan bau tidak sedap dari tumpukkan sampah di sekitar.

Tentu saja terlihat sangat miris. Meskipun harga sayur mayurA� yang mereka jual untungnya tidak seberapa. Tapi itulah jantung kehidupan mereka untuk menyambung hidup bersama anak-anak dan keluarga.

Hartati, penjual sayuran di Pasar Raya Kota Bima mengaku, sudah lama berjualan di atas tumpukan sampah. Begitu juga dengan para pedagang lain.

a�?Kita mengeluh percuma saja. Sampah tetap dibiarkan menumpuk seperti ini,a��a�� keluhnya pada Radar Tambora, Senin (27/7) lalu.

Hartati tentu saja sangat terganggu dengan tumpukan sampah tersebut. Pasalnya, bau busuknya sangat mengganggu, terutama bagi pembeli.

PadahalA� kata dia, setiap pedagang di Pasar Raya membayar iuran kebersihan Rp 1.000 per hari.

Berbagai cara sudah dilakukan para penjual setempat untuk menghilangkan aroma tidak sedap tersebut. Mereka sampai merogoh kocek pribadi menutup sampah dengan tanah.A� Tapi volume sampah samakin banyak.

Selain pedagang, beberapa pengunjung juga keluhkan kondisi pasarA� tersebut. Karena bau busuk, mereka tidak nyaman saat belanja, terutama di sebalah barat pasar setempat.

Afni, pengunjung asal Kelurahan Manggemaci mengaku, selain aroma tak sedap, sampah dan lumpur itu juga kerap menganggu pengguna jalan. Setiap melintas harus menutup hidung.

Demikian juga dirasakan beberapa kusir Benhur setempat.A� Volume sampah setiap hari semakin banyak hingga menutupi area pangkalan Benhur setempat. Sehingga parkiran Benhur tidak teratur dan rawan kemacetan.

Hamid, Kusir Benhur mengaku, volume sampah saat ini sudah menutupi pintu keluar pasar. Dia pun terpaksa pindah lokasi untuk parkir benhurA� ke bagian barat jalan.(JUWAIR SADDAM)

Berita Lainnya

IKKB Papua Barat Bantu Korban Gempa

Redaksi LombokPost

Etos Kerja Harus Meningkat selama Ramadan

Pemkot Bima Lanjutkan Perbaikan Infrastruktur Sisa Banjir

Redaksi LombokPost

Miliki Sabu, IRT Diringkus

Ops Ketupat Gatarin 2018 Dimulai

Masih Ditemukan Makanan Kedaluwarsa

Penataan Ama Hami Dilanjutkan

Berkas Ketua PDIP Kota Bima Dilimpahkan ke Kejaksaan

Redaksi LombokPost

KPU Kota Bima Mulai Lipat Surat Suara