Lombok Post
Happy Wednesday

Perbuatan versus Perbuatan

Azrul ananda
Azrul ananda

DIA orang baik! Dia orang jahat! Dia lebih banyak baiknya! Dia lebih banyak jahatnya!

Mengikuti Tour de France 2015, sulit menghindari pembicaraan soal doping. Khususnya soal Lance Armstrong.

Penggemar balap sepeda atau tidak, kebanyakan orang kenal Lance Armstrong. Selamat dari kanker testis, dia berlatih serius dan menciptakan “keajaiban”. Memenangi Tour de France sebanyak tujuh kali berturut-turut, antara 1999 hingga 2005.

Cerita Armstrong begitu luar biasa sehingga masuk kategori “too good to be true” alias terlalu ajaib.
Dan prestasi itu ternyata memang terlalu ajaib. Setelah bertahun-tahun melawan tuduhan doping, akhirnya kebenaran mencuat ke permukaan, disusul pengakuan.

Lance Armstrong melakukan doping untuk meraih prestasi itu. Menggunakan EPO, human growth hormone, testosteron, untuk meningkatkan performa.

Semua itu akan ditampilkan di layar lebar dalam waktu dekat, dalam sebuah film berjudul The Program. Aktor Ben Foster, yang pernah main di X-Men, tampil memerankan pembalap asal Texas tersebut.

Tujuh gelar Tour de France-nya pun dicabut.

Uniknya, sekarang Tour de France 2000 hingga 2006 dinyatakan tak punya pemenang. Mengapa demikian? Sebab, sudah menjadi rahasia umum, mereka yang finis di belakang Armstrong pun melakukan “program” yang sama!

Sampai hari ini, perdebatan soal Armstrong itu terus berjalan.

Apakah dia orang jahat? Karena menggunakan doping untuk meraih prestasi begitu luar biasa.

Apakah dia kompetitor normal? Sebab, dia bertarung melawan pesaing yang melakukan hal sama.

Apakah dia tetap bisa dibilang sebagai orang baik?

Sebab, bagaimanapun, kisah hidupnya melawan kanker telah menginspirasi jutaan orang untuk mengejar keajaiban. Menginspirasi mereka yang juga punya kanker untuk berjuang mengejar kesembuhan, menginspirasi lainnya untuk hidup lebih sehat lewat olahraga.

Dan bagaimanapun, prestasinya telah membantu memopulerkan olahraga cycling ke level yang begitu tinggi. Dia telah memperkaya banyak perusahaan yang mensponsorinya. Dia bahkan memperkaya perusahaan-perusahaan yang tidak mensponsorinya, tapi berada di industri yang bersaing dengan sponsor-sponsor Armstrong!

Sampai hari ini, sikap yang mungkin paling dianggap benar, yang paling politically correct, adalah menghujatnya.

Tapi, sampai kapan? Ada ungkapan, “Time heals all wound”. Waktu akan menyembuhkan segala luka.

Mungkin dalam beberapa tahun ke depan akan ada kesadaran baru, yang memaafkan Armstrong, dan mengembalikan gelar-gelarnya secara resmi. Sebab, bagaimanapun, dia bersaing melawan orang-orang yang sangat mungkin juga doping (tidak sedikit yang terbukti juga doping).

Kisah dan perdebatan soal Armstrong itu membuat saya banyak berpikir tentang perbuatan versus perbuatan.

Secara pribadi, saya tidak berani menghujat Armstrong. Walau dia terbukti doping, apa yang dicapainya adalah sesuatu yang benar-benar menakjubkan.

Gampangnya begini: Seandainya saya doping dan berlatih keras, apakah saya mampu menjadi juara Tour de France? Mungkin tetap tidak mungkin! Tetap harus punya bakat, tetap harus bekerja keras.

Armstrong, yang jelas-jelas punya bakat hebat, tetap harus berlatih gila-gilaan. Armstrong tetap harus berjuang menyelesaikan perlombaan yang panjangnya tiga pekan, tetap harus jatuh bangun menaklukkan lawan-lawannya.

Dan dia memang pernah jatuh, lalu bangun lagi untuk mengalahkan lawan-lawannya.
Berapa banyak orang, doping atau tidak, punya tekad dan kemauan sebesar Armstrong?
Dan sekali lagi, entah berapa banyak orang yang selamat dari kanker karena terinspirasi oleh kisahnya.

Bukankah banyak orang selalu bilang, tidak ada manusia yang sempurna?

Ini bukan berarti saya mendukung Armstrong. Tapi, saya termasuk orang yang paling sebal melihat orang menuding orang lain buruk. Padahal, dia sendiri belum tentu baik.

Lebih parah lagi kalau dia sendiri ternyata juga tidak pernah bekerja keras mengejar sesuatu yang luar biasa, tidak pernah melakukan prestasi apa-apa.(Azrul Ananda)

Berita Lainnya

Menangis Nonton Beauty and the Beast

Redaksi Lombok post

Masa Depan tanpa Nasi

Redaksi Lombok post

Tiga Detik atau Kurang

Redaksi Lombok post

Terima Kasih Mal

Redaksi Lombok post

Valentinea�� Before and After

Redaksi Lombok post

Presiden dan Masyarakatnya

Redaksi Lombok post

Twist Ending

Redaksi Lombok post

Negara Disney

Redaksi Lombok post

Tret-tet-tet Kelas IV SD

Redaksi Lombok post